Peta Virus: Konsep untuk melawan pandemi di Indonesia

Oleh Nur An Nisa Milyana

Munculnya beberapa varian baru virus Corona membuat pemerintah di seluruh dunia kewalahan dalam mengatasi penyebarannya yang semakin tidak terkendali. Sejak awal bulan Maret, varian virus B117 dari Inggris bahkan telah sampai di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan yang semakin sulit kepada masyarakat dalam menghadapi bahaya pandemi.

Permasalahan utama selama satu tahun menghadapi pandemi sejatinya selalu bertitik berat pada kesulitan dalam mendeteksi keberadaan dan penyebaran virus. Secara sejarah, virus sebagai makhluk yang tidak kasat mata memang sulit untuk dideteksi. Kebanyakan orang di masa lalu bahkan sering mengaitkan keberadaan virus sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sihir. Akan tetapi, semua itu mulai bisa diatasi dengan memanfaatkan analisis data dan memetakan kejadian penyebaran secara eksisting. 

Dimulai pada tahun 1854, seorang peneliti bernama John Snow memulai ide pemetaan sederhana untuk melihat penyebaran virus Kolera di Broad Street, London. Teknik sederhana yang beliau lakukan yaitu tiga tahapan sederhana dengan mencari semua orang yang sakit lalu menanyakan: 1) dimana lokasi tinggal pasien (Tracking), 2) tempat mana saja yang telah mereka kunjungi (Monitoring), 3) siapa saja yang pasien temui selama sakit (Cautioning). Nyatanya, konsep ini sukses dalam memutus rantai virus Kolera pada masa tersebut.

Bila kita bandingkan dengan kondisi saat ini, pemerintah sejatinya telah menerapkan proses Tracking untuk mendeteksi banyak kasus yang dilaporkan oleh fasilitas kesehatan – antara lain pendataan jumlah orang tanpa gejala (OTG), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang dalam pemantauan (ODP). Dari segi Monitoring, sangat penting bagi pemerintah untuk membuat kebijakan berbasis data dalam membantu memutuskan rantai penyebaran di suatu area. Selain itu, kebijakan berbasis data ini sangat penting dalam kebijakan pertahanan yang ketat dan tindakan social distancing, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar) dan PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di daerah beresiko tinggi. Untuk proses Cautioning, pemerintah juga telah menyediakan beberapa platform seperti aplikasi PeduliLindungi dan website covid19.go.id untuk membantu masyarakat dalam melihat perkembangan kasus terbaru di daerah mereka.

Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa mencoba menyediakan data saja tidak cukup. Pemerintah juga harus menyusun proses transmisi data ini mulai dari setiap fasilitas kesehatan hingga tingkat nasional. Ditambah dengan permasalah data blunder yang dapat menimbulkan keraguan atas reliabilitas data COVID-19 yang dikeluarkan pemerintah. Perbedaan standar data di lingkungan pemerintah daerah juga membuat terlalu banyak versi pandemi. Ini menyebabkan pandangan yang tidak lengkap tentang resiko yang ditimbulkan COVID-19 di tingkat lokal dan nasional. Beberapa kasus baru diumumkan setelah beberapa hari; beberapa bahkan hanya terakumulasi di akhir sehingga berimbas ke pelaporan kasus yang naik drastis di menit-menit terakhir. Penundaan ini menyebabkan terputusnya informasi dari tingkat pusat ke daerah dan mempengaruhi tanggapan langsung dari pemerintah daerah. Oleh karena itu, ketepatan waktu data harus diperlakukan lebih hati-hati untuk menghindari variasi kualitas data antar daerah dan meningkatkan akurasi di tingkat nasional.

Kita semua telah menghadapi COVID-19 selama satu tahun. Karenanya, masalah data ini seharusnya tidak lagi menjadi alasan. Rumah sakit serta masyarakat sangat mengandalkan data tersebut. Karena kita hidup di tengah pandemi di mana setiap jam seseorang mungkin terinfeksi, alasan kecil ini mungkin menjadi alasan terbesar mengapa kita selalu kehilangan kendali terhadap virus setiap saat. Urgensi standar data untuk memastikan pelaporan yang konsisten tentang COVID-19 menjadi penting untuk membangun tindakan pengambilan keputusan yang tepat. 

Selain itu, penting untuk pemerintah antar daerah dalam memiliki standar yang sama dalam menyajikan data kepada publik. Menggabungkan semua angka menjadi ribuan baris dalam satu tabel besar tentunya tidak nyaman untuk dibaca. Hal ini menyebabkan banyak warga mengalami kesulitan dalam menilai seberapa penting informasi tersebut – kemudian berimbas pada kurangnya pemahaman data dalam level yang serius.

Setiap harinya, godaan untuk bertemu dan berinteraksi dengan kerabat tentunya terus meningkat. Membuat orang-orang bertanya-tanya seberapa beresiko untuk berani keluar rumah. Angka dan grafik sangat berguna dalam menampilkan kumpulan data yang besar, tetapi pembaca mungkin tidak dengan mudah memahaminya. Mengilustrasikan kumpulan data ini ke dalam peta online dapat memfasilitasi komunikasi yang jelas dan efektif tentang potensi bahaya yang terkait dengan jumlah infeksi per area. Kita bisa membayangkan cara memvisualisasikannya seperti peta cuaca. Jika kita menampilkan risiko seolah-olah akan “hujan” maka pembaca memahami bahwa mereka akan “basah”, atau mungkin membawa payung sebagai pelindung jika perlu keluar.

Dalam upaya “Tracking, Monitoring, Cautioning”, warga juga harus memahami apakah resiko itu layak diambil melalui data-data yang disebar oleh pemerintah. Oleh karena itu, sistem peta digital untuk menyajikan area kawasan berdampak dengan cara visual yang sederhana dapat menjadi alat yang sangat baik untuk menganalisis penyebaran virus. Dalam hal ini, peta dapat memvisualisasikan bagaimana virus bergerak melalui populasi dalam kepadatan tertentu.

Beberapa pemerintah daerah telah mengadopsi visualisasi pemetaan untuk menguraikan data yang ada – tetapi belum ada yang menjelaskan hal-hal penting seperti skala data yang disajikan serta waktu kejadian. Penggunaan visualisasi peta yang baik untuk meningkatkan kewaspadaan dapat mendorong orang untuk lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan penularan. Selain itu, tingkat pemahaman yang sama dapat membantu pemerintah dan warga negara untuk membuat keputusan yang cepat.

Kesimpulannya, pemerintah perlu memahami bahwa data COVID-19 penting untuk mempengaruhi perilaku masyarakatnya. Pada akhirnya, banyak hal sangat bergantung pada bagaimana kita, sebagai masyarakat, memberikan respon dalam mengatasi virus tersebut. Jika tidak, akan semakin banyak varian virus lainnya yang masuk dan berimplikasi ke semakin tidak terkendalinya pandemi di masa mendatang.