KOPI Delft – Pangan Indonesia: Dari Lokal ke Global

13 Februari 2021 oleh MCS

Pada pembukaan awal tahun 2021, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft kembali menyelenggarakan sebuah acara diskusi rutin yang dikenal dengan KOPI (Kolokium Pelajar Indonesia). KOPI kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana acara yang diadakan pada 13 Februari 2021 tersebut bekerja sama dengan InDelftnesia, yakni sebuah acara tahunan seni dan budaya yang juga dilakukan oleh PPID. Kolaborasi KOPI-InDelftnesia diinisiasi bersama dan berkaitan dengan tema InDelftnesia 2021, ‘Soto van Indonesie’ yang bertujuan memperlihatkan kekayaan budaya dan peninggalan Indonesia melalui beragamnya rasa dan komponen yang terkandung dalam soto itu sendiri. Maka dari itu, KOPI 2021 kembali hadir dengan mengusung tema ‘Pangan Indonesia: Dari Lokal ke Global’. Diskusi ini bertujuan untuk memperoleh wawasan mengenai isu Pengembangan Potensi Pertanian Tanaman Lokal dalam Persaingan Global dari berbagai sudut pandang. Bagaimanakah kondisi pertanian (tanaman) lokal saat ini? Apa saja tantangannya? Apa saja faktor kesuksesan dan peluang yang dapat dilihat? Dan, bagaimana strategi kita bersama agar mampu bersaing secara global?

Beberapa tokoh turut berkontribusi dalam KOPI 2021 yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Mereka adalah Rizky Prayogo Ramadhan selaku peneliti dari Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian Indonesia, Dally Chaerul Shaffar selaku Business Director PT. BIOPS Agrotekno Indonesia, dan Nur Alim Bahmid selaku kandidat PhD Departemen Food Quality and Design, WUR (Wageningen University and Research Netherlands). Kegiatan diskusi ini dilaksanakan secara daring yang dipandu oleh Hilman Dwi Putra selaku kandidat MSc Complex Systems Engineering Management, Fakultas Technology Policy and Management, TU Delft (Technische Universiteit Delft). 

Pemerintah 

Berdasarkan pemaparan dari Prayogo, pandemi Covid-19 tentunya berdampak buruk pada beberapa lapangan usaha termasuk bidang pertanian di Indonesia. Dilihat dari nilai PDB (Produk Domestik Bruto), meskipun angkanya menunjukkan pertumbuhan yang negatif sebelum memasuki triwulan keempat, kini sudah membaik dimana sawit dan karet merupakan sektor yang menjadi pendukung utamanya. BEI (Bursa Efek Indonesia) memprediksi pertumbuhan positif ini dapat terus meningkat khususnya di bidang pertanian dan perikanan. Kita dapat melihat produksi komoditas seperti padi, jagung, ubi kayu, cabe, bawang merah, serta beberapa tanaman pangan dan hortikultura lainnya mengalami peningkatan dari tahun 2019. Sebaliknya, produksi kedelai yang menurun dari 424,19 juta ton (2019) menjadi 347,85 juta ton (2020) harus menjadi perhatian bersama.   

Untuk tetap dapat mewujudkan pertanian (tanaman) lokal yang mampu bersaing secara global, pemerintah Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tantangan dari dalam negeri yang dimaksud terkait dengan peningkatan pertumbuhan penduduk, resiliensi sektor pertanian, tingkat kesejahteraan petani, perubahan preferensi masyarakat, persaingan penggunaan lahan, demikian juga pandemi Covid-19. Kualitas SDM Indonesia masih perlu ditingkatkan karena rata-rata dari mereka yang berkecimpung di bidang pertanian belum mengenyam pendidikan tingkat sarjana. Sedangkan, biaya produksi, isu lingkungan, kolaborasi yang minim, sarana prasarana penunjang, dan saluran distribusi masih menjadi tantangan dalam peningkatan daya saing dengan luar negeri. 

Di tengah tantangan-tantangan tersebut, pemerintah memiliki peran strategis dalam mendorong daya saing pangan Indonesia di kancah internasional. Misalnya, keunikan produk nusantara seperti jagung, beras, dan variasi rempah dapat menjadi peluang yang baik untuk Indonesia. Peran strategis ini kemudian dituangkan pemerintah ke dalam beberapa program terintegrasi seperti pembangunan pertanian ‘Maju, Mandiri, dan Modern 2020-2024’, Peningkatan Kapasitas Produksi, Diversifikasi Pangan Lokal, GRATIEKS (Gerakan Tiga Kali Ekspor), dan program lainnya. Adapun target-target yang ditetapkan secara riil untuk dicapai seperti pemanfaatan secara masif pada ubi kayu sebanyak 35.000 ha dan jagung sebanyak 50.000 ha. 

Penggiat usaha (Intervensi Tengah)

BIOPS Agrotekno Indonesia adalah sebuah startup di bidang pertanian yang memiliki tujuan untuk mengembangkan teknologi yang bermanfaat bagi petani dalam mengolah lahan pertaniannya. Selaku Business Director BIOPS, Dally Chaerul Shaffar, berpendapat bahwa teknologi bisa menjadi solusi dari permasalahan pertanian di Indonesia tetapi juga bisa sebaliknya apabila kegunaannya tidak disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Indonesia bisa belajar dari negara Belanda yang merupakan eksportir agri-food terbesar di Uni Eropa dan ke-2 di dunia. Faktanya, pada tahun 2017, produk ekspor terbesar yang dilakukan Belanda adalah material dan teknologi yang dimiliki, kemudian bunga, susu dan telur, daging, lalu sayur-sayuran. Menurutnya, walaupun Belanda merupakan negara yang kecil, mereka mampu menjadi sebuah eksportir besar di bidang pertanian karena teknologi greenhouse dimana produksinya terlepas dari musim apapun dan pemanfaatan sumber energi seperti geothermal yang mereka kembangkan. 

Lebih lanjut, Dally menyampaikan bahwa pertanian di Indonesia sangat bergantung dengan manusia (petani) tetapi sayangnya regenerasi petani yang ada saat ini sangatlah minim. Di sisi lain, untuk mencapai pertanian yang berkelanjutan, peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya seperti air menjadi penting. Maka dari itu, ia bersama BIOPS telah mengembangkan sebuah solusi machine-to-machine IoT (Internet of Things), yang diberi nama ‘ECONOMOTION’, untuk mengoptimalkan proses irigasi secara otomatis dan presisi. Teknologi ini telah terbukti mampu meningkatkan hasil pertanian hingga 40%, menurunkan biaya operasional sebesar 50%, dan menghemat penggunaan air dan pupuk sampai 40%. Penggunaan ECONOMOTION sudah mulai diadopsi di pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur dengan total 14 pengguna dan 29 alat yang telah tersebar. BIOPS menawarkan beberapa opsi bisnis ECONOMOTION sehingga pelanggan dapat langsung membeli, menyewa atau dengan sistem profit sharing

Akademisi 

Dari sudut pandang riset dan akademik, Nur Alim Bahmid pertama-tama menjelaskan tentang perbedaan jenis pangan yang terdiri dari pangan etnik, pangan tradisional, pangan lokal, dan heritage food. Heritage food seperti coto makassar merupakan pangan yang sudah dibuat dan dikembangkan secara turun-temurun sedangkan pangan lokal adalah pangan dari segi wilayah dimana pangan tersebut dibudidayakan, misalnya, kopi toraja. Tidak hanya itu, karena kandungan gizinya yang cukup tinggi, porang, telah menjadi pangan lokal yang cukup diminati di Jepang. Adapun, produk olahan lokal seperti Indomie sudah cukup mengglobal saat ini. Kekayaan pangan lokal yang dimiliki Indonesia tentu saja memiliki potensi besar untuk mampu bersaing secara global. 

Dengan melihat kembali kesuksesan Belanda, teknologi dan riset menjadi faktor penting bagi negara ini sehingga mampu melakukan ekspor secara masif. Kita bisa belajar bagaimana Belanda mengekspor pisang ke negara-negara di Eropa. Hal Ini menjadi sangat menarik karena sebenarnya Belanda tidak memproduksi pisang secara mandiri. Belanda memilih fokus mengembangkan teknologi pematangan buah pisang dengan tujuan agar menjadi lebih menarik untuk diekspor. Kunci kesuksesan yang mereka terapkan adalah meningkatkan ketahanan dan kualitas pangan serta mengerti pasar pangan yang dihadapi. Untuk dapat mencapai kedua hal tersebut perlu adanya food system yang terintegrasi dan pemenuhan standar kualitas yang diinginkan oleh pasar.    

Apabila berkaca kepada Indonesia, pemahaman akan kebutuhan pasar masih harus ditingkatkan. Sebagai contoh kasus, Indonesia merupakan negara produsen terbesar kedua kakao setelah Pantai Gading. Namun faktanya, kurangnya pemenuhan kualitas menjadi penyebab utama mengapa banyak produksi kakao Indonesia belum dapat diterima secara global. Indonesia perlu untuk lebih memperhatikan kandungan maksimum cadmium yang terdapat pada kokoa produksi lokal agar sesuai dengan kandungan yang diizinkan. Pangan yang tidak memenuhi kualitas akhirnya hanya menimbulkan food waste maupun turunan produk dengan kualitas yang rendah. Salah satu teknologi yang dapat dikembangkan sebagai solusi adalah teknologi Postharvest. Teknologi ini digunakan untuk proses pematangan dan penyimpanan pangan dengan berfokus pada kontrol etilen dan suhu pangan tersebut. Untuk mempertahankan kematangan pada pangan, adapun teknologi lain yang dapat diterapkan seperti Controlled Atmosphere Storage and Modified Atmosphere Packages, Edible Coatings, 1-MCP, dan Calcium Chloride Treatments, dimana telah digunakan pada produksi mangga. Maka dari itu, dalam konteks persaingan global, Indonesia juga harus memiliki pemahaman pasar pangan global yang baik karena setiap negara memiliki preferensi kualitas masing-masing. 

Menurut Alim, riset dalam rantai produksi pangan bersifat dinamis bukanlah sebuah proses yang linier. Oleh karena itu, kita harus mampu menghadapi tantangan-tantangan sekaligus melihat peluang yang dapat dimaksimalkan dari kekayaan pangan lokal di Indonesia. Tantangan-tantangan yang dimaksud adalah terkait dengan perubahan perilaku konsumen, bentuk kerjasama antar lembaga/instansi, informasi dan teknologi, dan dukungan terhadap penelitian baik dalam bentuk pendanaan maupun fasilitas riset. Dapat disimpulkan bahwa pasar merupakan penentu kualitas dari produk/pangan lokal dimana riset mampu berkontribusi dalam pengembangannya serta memberikan informasi potensi dari pangan lokal yang ada.

Foto bersama

KOPI Delft – Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Kolokium Pelajar Indonesia (KOPI) kembali diadakan oleh PPI Delft (PPID) pada 14 November 2020. KOPI merupakan event diskusi rutin PPID mengenai topik yang sedang hangat dibicarakan di tanah air. Ada yang menarik pada KOPI edisi November 2020 ini, yaitu KOPI kali ini diadakan secara daring dengan melibatkan narasumber dan peserta yang tersebar di Belanda dan Indonesia. Pada edisi kali ini, KOPI membahas sebuah tema yang berkaitan erat dengan fenomena COVID-19, yaitu “Digitalisasi Pendidikan di Indonesia”. Sebagaimana telah diketahui, fenomena COVID-19 yang telah berlangsung sejak Maret 2020 memaksa kita untuk menjalani kehidupan “baru”, tak terkecuali dengan kehidupan di dunia pendidikan terutama perguruan tinggi (PT). Seperti apa kehidupan “baru” ini? Bagaimana para pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia dalam menghadapinya?

KOPI kali ini menghadirkan beberapa tokoh seperti Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D. selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi), Shahnaz Safitri, S.Psi., M.Psi. selaku Dosen Psikologi Pendidikan di Universitas Indonesia, dan Agung Wahyudi selaku kandidat PhD Fakultas Technology, Policy, and Management TU Delft (Technische Universiteit Delft). Kegiatan yang berlangsung secara daring dengan menggunakan aplikasi Zoom ini dipandu oleh Albert Santoso selaku kandidat PhD dari Fakultas Applied Science TU Delft. Pemaparan dan diskusi membahas kebijakan pemerintah terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang terpaksa dilakukan di tengah pandemi COVID-19, proses PJJ yang terjadi di perguruan tinggi Indonesia, serta kesiapan infrastruktur Indonesia dalam menunjang PJJ tersebut.

Sudut Pandang Pemerintah

Presentasi 1 SPADA: Digitalisasi Pendidikan Tinggi di Indonesia

PJJ merupakan sistem pembelajaran yang tidak mengharuskan pengajar dan pelajar untuk berada di tempat yang sama, dimana hal ini dilakukan melalui media daring yang didukung oleh aplikasi maupun program pihak ketiga. Regulasi mengenai PJJ telah diatur di dalam Permendikbud no. 7 tahun 2020. Sebenarnya pemerintah (melalui Kemendikbud) telah mencanangkan program SPADA (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) sejak tahun 2014 yang juga memuat pedoman PJJ atau online learning. SPADA menjalankan berbagai program seperti memberikan pelatihan hybrid learning (campuran pembelajaran daring dan langsung) kepada 180.000 guru, menyediakan layanan Massive Online Open Course (MOOCs), program IPD (Inovasi Pembelajaran Digital), Program Kampus Merdeka, dan lain-lain. Menurut Aris Junaidi, penerapan PJJ dan SPADA masih terkendala oleh beberapa tantangan seperti kurangnya modul baru yang tersedia (dari kebutuhan PT sekitar 4000-an baru tersedia sejumlah 1000-an), tidak semua dosen menguasai PJJ, belum meratanya akses jaringan internet terutama di remote area, biaya yang sangat tinggi bagi daerah tertinggal.

Pemateri 1: Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D

Namun demikian, Aris juga lanjut menerangkan bahwa DIKTI telah melakukan berbagai dukungan untuk mewujudkan SPADA dan PJJ dengan baik. Bentuk dukungan tersebut antara lain adalah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak ketiga penyedia layanan platform dan IT (seperti Google Classroom, AWS, Cisco, Huawei), bekerjasama dengan MenKominfo dengan memberikan paket data internet kepada mahasiswa dan dosen selama beberapa bulan, memberikan pelatihan PJJ (terkait IT, modul, dan online assessment)  secara gratis kepada ratusan ribu dosen dan mahasiswa, memberlakukan Credit Transfer kepada mahasiswa yang mengambil subject dari PT terkemuka dunia di luar negeri melalui international MOOCs (seperti Coursera, edX, dsb.), serta membantu biaya kuliah kepada 400.000 mahasiswa.

Mengenai pelaksanaan SPADA, Aris menuturkan bahwa 98% PT sudah menerapkan PJJ secara daring berdasarkan survey DIKTI pada bulan Juli 2020. Hasil evaluasi DIKTI juga menunjukkan respon beragam dari mahasiswa terkait PJJ meskipun secara garis besar interaksi antara dosen dan mahasiswa sejauh ini sudah berjalan dengan baik.

Dukungan DIKTI untuk PJJ

Sudut Pandang Akademik Universitas

Melalui sudut pandang akademik universitas, Shahnaz Safitri menyampaikan sebuah hal yang menarik, dimana sebenarnya pemanfaatan teknologi PJJ sudah dicanangkan sejak 20 tahun silam meskipun prosesnya berjalan dengan perlahan. Namun demikian, pandemi COVID-19 membuat 98% PT di Indonesia berhasil mewujudkan rencana 20 tahun silam tersebut hanya dalam waktu kurang dari satu bulan!. Shahnaz juga menuturkan bahwa proses PJJ berlangsung dengan 2 metode, yaitu sinkronus (tatap muka) dan asinkronus (penugasan tanpa tatap muka). Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa transisi pembelajaran terhadap PJJ telah melewati proses transisi yang terbilang cukup monoton di awal, dimana para dosen mengalami kebingungan sehingga membutuhkan pembekalan digital (tidak hanya untuk pencapaian belajar, namun juga terhadap faktor lain seperti kondisi psikologis mahasiswa yang kurang mendukung maupun permasalahan teknis). Penerapan PJJ juga sangat tergantung dari kesiapan LMS (Learning Management System) universitas terkait.

Presentasi 2: Digitalisasi Pendidikan menurut Sudut Pandang Pengajar

Berdasarkan sebuah penelitian dari Universitas Indonesia, mahasiswa tetap mengalami berbagai kesulitan meskipun sebagian besar bersikap positif dalam menghadapi PJJ. Salah satu kesulitan tersebut adalah efikasi diri (senang belajar online namun tidak selalu yakin apakah mereka mengetahui dan mampu untuk belajar secara mandiri), kesulitan mengakses teknologi (seperti telat mengumpulkan tugas karena terdapat jadwal pemadaman listrik), sulitnya memantau capaian pembelajaran (demotivasi terhadap mahasiswa), dan sulitnya berkonsentrasi akibat lingkungan sekitar (termasuk akibat adanya anggota keluarga yang terkena dampak COVID-19). Hal ini mengakibatkan gangguan psikologis bagi mahasiswa seperti gangguan kecemasan, gejala depresi, dan kualitas tidur yang buruk. Sedangkan bagi para dosen, masih banyak yang memerlukan waktu lebih untuk beradaptasi dengan teknologi (bahkan untuk sekedar memahami berbagai program dasar seperti Microsoft Office).

Pemateri 2: Shahnaz Safitri, S.Psi., M.Psi

Sementara itu dalam dunia riset, bidang sains dan teknologi (sainstek) merupakan bidang yang paling terpengaruh akibat pandemi COVID-19 dimana kegiatan praktik yang umumnya berjalan di laboratorium menjadi terhambat. Namun demikian, beberapa universitas memberikan prioritas kepada mahasiswa yang sedang menjalankan skripsi untuk menggunakan laboratorium selama masa pandemi meski dengan jumlah pengunjung yang dibatasi.

Pada bidang sosiohumaniora, berbagai adaptasi dilakukan dalam menjalani riset di tengah pandemi, seperti menggunakan metode pengambilan data melalui kuesioner online dan data sekunder. Shahnaz memaparkan beberapa langkah dalam proses beradaptasi dengan PJJ, yaitu Subtitusi (penggunaan teknologi sebagai pengganti proses tatap muka), Augmentasi (pemberdayaan alih fungsi), Modifikasi (merubah model tugas), dan Redefinisi (munculnya tugas dengan jenis yang sama sekali baru).

Dampak pandemi COVID-19 pada pihak terkait di Pendidikan Tinggi

Sudut Pandang Infrastruktur Penunjang Teknologi

Melalui sudut pandang infrastruktur penunjang teknologi dalam menerapkan digitalisasi pendidikan, Agung Wahyudi menjelaskan bahwa ketersediaan jaringan internet ke rumah-rumah di Indonesia masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 14% dari seluruh rumah yang ada (setara dengan hanya 2% dari seluruh pengguna broadband!). Perkembangan mobile broadband berlangsung dengan lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan fixed broadband, sehingga penerapan PJJ lebih banyak melalui telepon seluler (padahal di luar negeri umumnya menggunakan fixed broadband). Hal ini menjadi kendala yang sangat nyata untuk menerapkan PJJ dengan skala nasional. Agung juga melanjutkan bahwa pembangunan jaringan internet ke seluruh pelosok Indonesia merupakan sebuah pekerjaan yang sangat sulit dan penuh tantangan. Bahkan Agung juga mengungkapkan bahwa pembangunan jaringan internet ke seluruh pelosok benua Eropa masih jauh lebih mudah dibandingkan dengan membangun jaringan internet ke seluruh pelosok Indonesia. Kesulitan ini diakibatkan oleh banyaknya jumlah pulau di Indonesia (ebih dari 17.000 pulau) sehingga pembangunan jaringan internet tersebut membutuhkan konstruksi kabel bawah laut yang sangat banyak dan nilai investasi yang sangat luar biasa besar.

Presentasi 3: Digitalisasi Pendidikan – Perkembangan Infrastruktur Penyokong Digital Pendidikan di Indonesia

Lebih jauh, Agung juga memaparkan bahwa proses pemerataan pembangunan jaringan internet ke seluruh Indonesia sangat terkendala oleh kesenjangan pendapatan per kapita antar daerah. Sebagai conoh, in-land connectivity di Pulau Jawa sudah over-crowded, sedangkan jaringan kabel optik di Papua atau Sulawesi masih kurang peminat. Hal ini disebabkan karena operator/provider jaringan internet tidak melihat adanya demand yang cukup agar menjadikan investasi menjadi feasible pada daerah-daerah tersebut. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya “Prisoner’s Dilemma”, dimana operator/provider sudah cukup puas dan profitable dengan jaringan yang tersedia di kota-kota besar sementara itu kepuasan ini mengakibatkan ketidakmerataannya pembangunan jaringan internet di seluruh pelosok negeri. Namun demikian, terdapat sebuah opportunity atau peluang dibalik segala keterbatasan dan kendala yang ada. Salah satu peluang tersebut adalah telah dibangunnya data center Google di Indonesia, sehingga hal ini diharapkan mampu membantu kemajuan teknologi informasi dan PJJ di Indonesia.

Situasi Terkini teknologi pendidikan digital

Sebagai perbandingan terhadap perkembangan infrastruktur teknologi di negara lain, Agung memberikan beberapa contoh. Korea Selatan menyadari bahwa hampir tidak mungkin terwujudnya pembangunan jaringan internet untuk seluruh populasi hanya dengan mengandalkan perusahaan swasta yang ada, hal ini mendorong adanya skema PPP (Public Private Partnership) dimana pembangunan infrastruktur teknologi terdiri atas kontribusi operator/swasta (50%), pemerintah lokal (30%), dan pemerintah pusat (20%). Sementara di Belanda, digunakannya Cartesius (supercomputer grid) untuk melakukan komputasi di level nasional.

Demikian ringkasan KOPI pada edisi November 2020 ini, semoga diskusi dan obrolan ini menambah pengetahuan dan wawasan baru bagi para peserta dan generasi muda yang akan melanjutakan tongkat estafet pembangunan negeri di masa yang akan datang (yang sebenarnya sudah tidak lama lagi).(MR).


Demikian ringkasan KOPI pada edisi November 2020 ini, semoga diskusi dan obrolan ini menambah pengetahuan dan wawasan baru bagi para peserta dan generasi muda yang akan melanjutakan tongkat estafet pembangunan negeri di masa yang akan datang (yang sebenarnya sudah tidak lama lagi).(MR).

Materi presentasi dari pembicara pada KOPI kali ini dapat diunduh melalui tautan berikut: