Menempa Diri dengan PhD di TU Delft, Belanda

Oleh: Ahmad Nasikun

Begin with the end in mind,” begitu nasihat Stephen Covey—dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People—yang coba saya terapkan dalam kehidupan PhD/doktoral di TU Delft. Dengan status saya yang sudah mengikatkan diri sebagai tenaga pengajar dan peneliti di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik UGM, riset dan pendidikan adalah fokus utama saya. Saya berusaha untuk memberikan kontribusi maksimal di masa mendatang pada bidang yang saya tekuni (Geometry Processing) dan salah satu caranya adalah dengan memfokuskan diri pada kompetensi pilihan saya tersebut.

Studi doktoral/PhD sangat erat dengan kata ‘independensi’. Secara umum dalam hal riset, serta—pada level tertentu—berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Sebagai peneliti, kita dididik untuk mampu melakukan riset secara mandiri, dari mulai menemukan problem penelitian, menghasilkan metode untuk mengatasi masalah tersebut, mendesain penelitian, menyelenggarakan penelitian, hingga pada evaluasi dan diseminasi hasil. Pada level individu, kita pun sudah harus mampu menjadi independen, memilih mana aktivitas yang selaras dengan prioritas kita dan berani untuk meninggalkan dan menolak kegiatan yang tidak/kurang sejalan dengan visi jangka panjang, dengan kesiapan untuk menerima konsekuensinya.

Iklim Lingkungan Kerja pada Lingkungan Riset di Belanda

Saya menyelesaikan program master saya di Korea Selatan, dari Seoul National University (SNU), sehingga saya sedikit banyak merasakan bagaimana perbedaan iklim riset di timur (baca: Asia Timur) dan Belanda.

Menurut saya nuansa ke-egaliter-an antar peneliti Belanda jauh lebih unggul. Dalam dunia kerja, orang dilihat dari kompetensinya, bukan melulu oleh usia atau jabatannya. Contoh paling sederhana adalah kami di TU Delft memanggil professor dengan nama depan saja, tanpa ada kata Prof, Pak atau Pak dosen di depannya. Dalam presentasi rutin 2 pekanan, setiap orang tampak—secara umum—santai untuk menyampaikan apa yang telah dia lakukan dan tidak terlihat terintimidasi oleh target/tekanan dari profesor. Diskusi akademik dan perdebatan dengan profesor/supervisor menjadi hal yang sangat lumrah dalam forum tersebut dan hal serupa secara umum dihindari/tidak disarankan di Korea Selatan.

Work-life balance merupakan slogan yang mengakar begitu kuat dalam beberapa dekade terakhir di Belanda. Setiap orang disarankan untuk bisa mempunyai waktu istirahat yang cukup dan tidak berlebihan dalam bekerja. Di lab kami, tidak mengherankan jika baru 1-2 orang yang terlihat ketika pukul 09.00 pagi dan jam 16.00 sudah ada beberapa orang yang meninggalkan meja kerjanya. Orang-orang diharapkan mempunyai performa maksimal ketika tidak terlalu stres dan mendapat istirahat yang cukup. Akhir pekan sangat jarang sekali ada yang bekerja, kecuali jika ada deadline publikasi. Selain itu, setiap anggota lab (PhD, post-doc, dan profesor) semacam diwajibkan untuk mengambil cuti (paid leave) minimal 20 hari kerja dalam setahun, di luar waktu liburan resmi dan bisa mendapat teguran dari HR (Human Resources) jika tidak melakukannya. Beberapa rekan satu lab saya bahkan hanya masuk 4 hari dalam sepekan dengan setiap Senin dia bekerja dari rumah, dan hal seperti itu diperbolehkan oleh supervisor. Ketika program master di Korea, untuk keluar beberapa jam saja dari lab saya haru izin ke profesor dan/atau [mahasiswa senior] ketua lab.

Akan tetapi, untuk bounding interpersonal di Belanda secara umum kalah kuat dengan Kawasan timur. Kebebasan berekspresi dan berpendapat seringkali membuat anggota lab untuk lebih individualis (paling tidak menurut standard saya sebagai orang timur).

Sistem Perkuliahan dan Riset PhD di TU Delft

Prioritas utama seorang mahasiswa doktoral secara umum adalah pada penelitian dan evaluasinya pun bergantung banyak pada luaran penelitian. Satu hal unik yang ada di TU Delft adalah adanya Doctoral Education Program (DEP), yang fokusnya ada pada (1) pengembangan kepakaran pada bidang ilmunya, (2) pengetahuan dan pengalaman riset, serta (3) kemampuan soft skills. Program tersebut bertujuan untuk menunjang pengembangan diri para mahasiswa doktoral-nya agar mempunyai kemampuan teknis yang mumpuni serta kemampuan interpersonal yang handal.

Secara umum mahasiswa PhD mempunyai target publikasi di jurnal internasional bereputasi (sebagai contoh: Q1 dan Q2) untuk membuktikan kepakaran pada bidang ilmunya, sebelum diberikan gelar doktor. Walau dalam tataran detail impelementasi agak berbeda. Profesor/promotor biasanya yang mempunyai kewenangan tertinggi untuk menentukan kapan kita dianggap memenuhi syarat kualifikasi sebagai doktor.

Di kelompok riset kami—Computer Graphics and Visualization—yang berada di Dept. of Intelligent Systems, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics, and Computer Science, tidak ditentukan secara de jure berapa jumlah publikasi selama menempuh studi, begitu juga dengan waktu tempuh studinya. Berdasarkan pengamatan pribadi saya dari para senior, biasanya dibutuhkan 4-5 publikasi jurnal Q1 atau Q2 dengan target masa studi 4 tahun. Alhamdulillah sebelum Go/No-Go Meeting, saya berhasil menerbitkan satu artikel di jurnal Computer Graphics Forum (Q2), sehingga memudahkan untuk evaluasi administratif dan kepercayaan diri.

Persyaratan administratif untuk mendapatkan gelar PhD dari TU Delft adalah dengan memenuhi 45 kredit DEP, dengan minimal 15 dari masing-masing kategori. Pengembangan kepakaran biasanya didapat dari mengikuti kuliah program master, summer school, dan pelatihan. Kredit untuk penelitian didapatkan dari publikasi, kegiatan penelitian, kegiatan akademik (sebagai teaching assistant), serta kuliah mengenai wawasan penelitian. Untuk kategori transferrable skills, mahasiswa PhD bisa mengikuti kelas-kelas yang diselenggarakan oleh Graduate School-nya TU Delft. Karena ingin berfokus pada penelitian di tahun-tahun akhir, saya berusaha menunaikan kewajiban administratif ini sedini mungkin. Selama 1 tahun, alhamdulillah 42 kredit (16, 10, dan 16) bisa saya dapatkan.

TU Delft mempunyai nilai pendidikan yang unik dan sangat menarik untuk program doktoralnya: mereka menganggap soft-skill sebagai elemen yang sangat penting dalam pengembangan diri seorang peneliti. Oleh karenanya, mereka menyediakan DEP yang salah satu fokusnya adalah pada transferrable/soft-skills, yakni kemampuan-kemampuan non-teknis yang menunjang performa peneliti dan akan bermanfaat untuk karirnya di masa depan. Minimal 15 kredit yang harus ditempuh untuk lulus dari TU Delft. Kelas ini diadakan dalam jangka pendek (1-4 kali pertemuan), secara intensif, dan dengan pemateri mayoritas disajikan olah para pakar dari luar universitas (biasanya dari perusahaan). Beberapa kelas yang saya ikuti antara lain: Leadership and Group Dynamics, Brain Management, Effective Negotiation, hingga Social Media for PhD Candidates. Kelas seperti ini juga sangat bagus untuk membangun jaringan dengan PhD dari departemen dan fakultas lain di TU Delft, karena pesertanya lintas disiplin ilmu.

Pengembangan kepakaran pada bidang penelitian kita pun tidak harus dilakukan melalui kuliah di TU Delft. Kegiatan belajar mengajar di institusi lain dapat diklaim juga, selama kita bisa meyakinkan supervisor akan urgensi kelas tersebut dan disetujui olehnya. Sebagai contoh, saya mengikuti kelas Front-End Vision and Deep-Learning yang diadakan oleh ASCI di TU Eindhoven, yang semua biaya pendaftaran kuliah, akomodasi dan transportasi selama kuliah ditanggung oleh grup riset. Summer Course yang diadakan oleh Eurographics di Paris, Perancis juga bisa saya ikuti dan masuk kredit karena bidangnya yang sejalan dengan arah riset doktoral saya.

Foto 1. Seminar Eurographics Symposium on Geometry Processing (SGP) di Paris

Evaluasi formal pada mahasiswa PhD tidak dilakukan tiap quarter dengan ujian, tetapi via beberapa milestone yang telah ditentukan. (1) Setelah tiga bulan menempuh studi, ada dokumen bernama PhD Agreement yang perlu disiapkan. Sesuai namanya, dokumen ini berisi kesepakatan antara mahasiswa PhD, daily supervisor, dan promotor tentang rencana perkuliahan dan riset kita, serta target yang disepakati (misal: jumlah publikasi). (2) Evaluasi 6 bulan berupa pertemuan antara ketiganya untuk membahas kemajuan selama ini, kendala yang dihadapi, serta rencana untuk pertemuan Go/No-Go. (3) Setelah satu tahun, akan ada evaluasi besar pertama, berupa Go/No-Go Review Meeting. Pertemuan ini akan menentukan apakah seorang mahasiswa PhD dirasa cukup mampu untuk melanjutkan PhD-nya dalam waktu yang ditentukan (Go) atau harus mengakhirinya lebih awal tanpa gelar (No-Go). (4) Setelah itu biasanya akan ada pertemuan tahunan untuk mendiskusikan progress, rencana dan kendala. (5) Setelah semua syarat terpenuhi, evaluasi terakhir akan berupa sidang terbuka disertasi di hadapan komite dan publik umum.

Keluarga

Tidak sedikit mahasiswa PhD yang biasanya sudah berkeluarga, sehingga keseimbangan antara kegiatan akademik dan aktivitas bersama keluarga tidak kalah penting. Pada tahun pertama saya kuliah, saya belum bersama istri dan anak-anak saya, sehingga kompensasi family time-nya biasanya berupa video call secara rutin setiap akhir pekan. Saya juga mengambil jatah liburan lebih dari dua bulan (dalam satu tahun akademik) untuk bisa pulang ke tanah air dua kali: sebulan pertama untuk mengunjungi istri dan anak-anak setelah satu semester di Belanda dan sebulan lagi di akhir tahun pertama untuk menjemput mereka. Alhamdulillah sistem ketenagakerjaan di Belanda memberikan perhatian yang besar kepada keluarga dan work-life balance.

Tantangan besar ketika membawa keluarga ke Belanda adalah tanggungan finansial yang sangat besar pada biaya sewa rumah dan yang berkaitan dengannya (listrik, air, gas, dan pajak kota). Aturan kependudukan yang ketat membuat keluarga yang sudah mempunyai anak untuk tinggal di rumah/apartemen yang (relatif) mahal karena setiap rumah telah ditentukan jumlah maksimal penghuni yang diperbolehkan secara legal tinggal disana. Untuk kasus kami (dengan beasiswa dan tunjangan keluarga dari LPDP), sekitar 70% uang beasiswa bulanan harus kami alokasikan untuk tanggungan tersebut.

Foto 2. Keluarga Cemara

Kegiatan non-Akademik

Untuk mencapai target-target besar kita tidak bisa sendirian, harus ada mitra-mitra kolaborasi. Oleh karena itu, membangun jaringan via interaksi dan kegiatan di berbagai komunitas masyarakat menjadi nilai penting lainnya. Selain bisa bertukar informasi dan memperluas jaringan, kegiatan seperti ini juga penting untuk menyegarkan kembali pikiran kita. Tentunya yang tak kalah penting adalah perlunya kegiatan rohani—untuk selalu mengingatkan kita bahwa semua yang kita lakukan berpangkal dan berujung pada upaya untuk mencapai visi jangka panjang, ridho dari-Nya dan ganjaran surga di hari akhir nanti.

Foto 3. Keluarga Muslim Delft

Walau tidak dalam intensitas yang penuh dan rutin, saya mencoba terlibat dalam berbagai kegiatan non-akademik. Hampir setiap dua pekan sekali saya mengupayakan untuk mengikuti kajian yang dikelola oleh kawan-kawan KMD (Keluarga Muslim Delft) dengan materi yang terstruktur dan pengisi yang tetap, sehingga luarannya lebih terpadu. Melingkar bersama rekan-rekan pelajar lain di Delft bisa saling menguatkan ketika kami futur/lemah, selain menguatkan spiritualitas kami tentunya. Beberapa kali saya juga bergabung dengan acara PPI Delft (Persatuan Pelajar Indonesia di Delft) dan KAGAMA NL (Keluarga Alumni UGM cabang Belanda) untuk menambah teman baru, yang biasanya ada bonus berupa masakan Indonesia.

 

Profil Penulis:

Nama                   : Ahmad Nasikun

Jurusan                : Computer Graphics and Visualization research group, Dept. of Intelligent Systems

Universitas          : Delft University of Technology (TU Delft)

Moto hidup          : Good is the enemy of great.

Belanja Barang “Second” di Belanda : Hemat & Penuh Manfaat

Bagi pelajar yang baru akan menginjakkan kaki di Belanda, mungkin pernah terbesit di pikiran untuk membeli dan membawa barang-barang dari Indonesia untuk tidak mengeluarkan banyak biaya. Pasalnya, memang harga barang-barang di negara Eropa bernilai lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Jangan khawatir, solusi untuk hemat tapi belanja tetap lancar tersedia di hampir setiap kota di Belanda. Yaitu…Kringloopwinkel, atau biasa disebut toko secondhand. Di tulisan ini, saya akan share tempat-tempat belanja barang second, tidak hanya kringloopwinkel tapi juga ditempat lain.

Orang-orang Belanda sering mendonasikan barang-barang rumah tangga dan perlengkapan lain ke Kringloopwinkel maupun recyclable items point lain. Sehingga, berburu barang-barang bekas adalah hal yang sangat digemari masyarakat disini. Furnitur bekas mulai dari sofa, kasur, meja, hingga elektronik dan pakaian serta aksesoris bekas dikelola dan di seleksi secara ketat oleh kringloopwinkel. Jadi jangan khawatir, barang-barang yang di-display di toko secondhand ini sudah di seleksi.

Pernah beli apa aja di kringloopwinkel?

Beberapa bulan setelah masuk kuliah, cuaca dingin Belanda memaksa saya untuk cepat-cepat hunting jaket tebal. Jaket bermerk Zara, Northface, Esprit dijual dengan harga 10 euro. Banyak juga jaket-jaket tebal merk lain yang dijual dibawah 5 euro. Kringloopwinkel sendiri telah menyeleksi mana yang bermerk dan menyesuaikan harga nya. Blazer dan dress H&M, serta pakaian laki-laki dengan merk ternama sangat mudah ditemukan.

Peralatan masak seperti panci, sendok, garpu dan piring-piring juga saya dapatkan dengan harga 50 cent per piece. Saya juga pernah membeli kasur, lemari dan coffee table dan memilih untuk menggunakan jasa antar kerumah dengan harga 10-15 euro untuk kawasan Delft (Harga ini per sekali angkut, kalau beli banyak barang dan butuh beberapa kali antar, saya kurang tau apakah harga sama atau tidak). Untuk para orang tua, mainan anak-anak second serta pakaian bayi dapat ditemukan dengan jumlah koleksi yang banyak. Di Delft sendiri, ada lebih dari 4 toko secondhand yang sering saya kunjungi, yaitu :

  1. The Flinstones (Giststraat 4)

Dari depan terlihat kaya garasi kecil, tapi ternyata pas masuk lebih dalam, luas juga. Untuk koleksi pakaian sendiri terbilang sedikit, tapi koleksi furnitur dan perlengkapan rumah nya banyak sekali. Barang-barang yang di-display terlalu banyak, jadi menurut saya pribadi, toko ini relatif berantakan dibandingkan dengan kringloopwinkel lain. Tapi, untuk kategori harga, barang-barang di toko secondhand ini yang termurah. Beberapa item tidak ditempel barcode, jadi kita harus bolak-balik nanya ke si penjaga toko untuk mengetahui harga nya.

  1. Kringloopwinkel Delft (Rotterdamseweg 404)

Toko secondhand ini dekat dengan gedung fakultas aerospace di TU Delft. Barang-barang yang dijual relatif lebih mahal, karena banyak luxury items seperti sofa beds. Namun pembeli bisa dengan mudah bergerak dan melihat satu per satu item dengan tatanan toko yang rapi tersebar di 4 lantai. Untuk pakaian, banyak pilihan jaket dan sepatu wanita, walaupun lebih sedikit untuk pria. Barang-barang elektronik yang dijual sering saya temukan yang masih dalam mint condition, contoh, water boiler merk Phillips masih lengkap dengan dus nya dapat saya beli 5 euro.

  1. Terre Des Hommes (Nieuwe Langendijk 33)

Kringloopwinkel ini kebanyakan menjual pakaian, dan sering saya temukan barang-barang branded yang harga nya dibawah 5 euro! Waktu itu sempat ngobrol dengan pemiliknya, semua keuntungan toko diberikan untuk charity. Seneng deh, belanja sekalian beramal.

  1. Kringloopwinkel RataPlan Delft (Turbineweg 12-14)

Nah ini dia kringloopwinkel yang terbesar di Delft (as far as I know). Koleksi buku, furnitur, pakaian pria dan wanita, hingga perlengkapan rumah tersebar banyak seperti di foto bawah. Sepeda-sepeda bekas pilihan dijual dalam jumlah yang banyak. Yang bikin saya betah belanja disini, didalam tersedia coffee and ice cream corner untuk para visitor.

Figure 1. Salah satu tampilan interior Kringloopwinkel di Delft. Meskipun mereka menjual barang bekas, semua kringloopwinkel ditata dengan rapi dan dipisah per kategori, memberi kan customer experience yang tidak kalah dengan toko “barang baru”.

Selain belanja barang bekas di kringloopwinkel kota mu, kamu juga bisa hunting dengan alternatif sebagai berikut :

Barang bekas juga ada loh di aplikasi online!

Di Belanda, Facebook group untuk tiap-tiap kota selalu dibanjiri dengan postingan orang-orang yang ingin menjual barang pribadi mereka. Ada juga aplikasi Marktplaats (https://www.marktplaats.nl/), yang bisa kamu install di hp.

Figure 2. Contoh forum jual beli khusus pelajar di Delft

Contoh diatas adalah student sale in Delft, grup secret di Facebook yang menawarkan transaksi jual-beli antar mahasiswa TU Delft. Barang-barang yang dijual merupakan perlengkapan rumah, pakaian, dan sepeda. Bagi yang baru sampai di Belanda, sering-sering aja buka group ini dan langsung bikin appointment ketemu dengan penjual nya kalau menemukan barang yang diincar dengan harga miring. Kamu juga bisa menawar, syukur-syukur dapat barang lungsuran dari senior secara gratis!

Figure 3. Contoh penawaran yang menarik dari salah satu mahasiswa TU Delft alias gratis tis tis

IJ-hallen Amsterdam, jual beli barang bekas terbesar di Eropa!

Disebut sebagai pasar loak terbesar di Eropa, kamu ngga bakal nyesal jalan-jalan ke IJ-Hallen. Hampir seribu stand menjual pakaian, sepatu, elektronik, perhiasan, tas, buku hingga barang antik dapat kamu temukan. Dari Amsterdam Central Station, kamu bisa menggunakan kapal feri gratis dari dermaga belakang stasiun kereta, seru kan sekalian jalan-jalan?

Figure 4. IJ-Hallen Amsterdam, cek jadwal nya di https://ijhallen.nl/

Bagi teman-teman yang ingin berkunjung, tiap orangnya diharuskan membayar 5 euro untuk tiket masuk. Pasar dibuka pada pukul 9 pagi hingga 4.30 sore, dan diramaikan oleh 500 toko. Pertama mengunjungi IJ-Hallen, saya dan teman-teman menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam, cukup melelahkan namun puas sekali bisa lihat sana-sini. Untungnya ditengah-tengah pasar loak tersebut, disediakan coffee and snack corner untuk penambah energi. (P.s.: Kalau hunting barang bekas di IJ-hallen, jangan lupa bawa tas / gembolan yang gede.)

Mau punya barang bekas tapi ngga mau keluar uang? Bisa!

Nah, ini dia, hal yang paling indah bagi para pemburu rupiah. Gimana caranya bisa dapetin barang-barang gratis buat isi perlengkapan rumah. Solusinya adalah, waste collection day. Jika sudah tiba di Belanda, kamu akan sering melihat tong-tong sampah besi besar di tiap pojok kompleks perumahan. Yang akan sering kamu gunakan adalah bak sampah rumah tangga, namun ada juga tong untuk sampah jenis kaca, jenis kertas, dan pakaian bekas. Saya sering menemukan furnitur rumah seperti coffee table, kursi, elektronik bahkan kasur yang tergeletak didekat tong-tong besi tersebut sekali seminggu. Warga membuang barang-barang rumah tangga nya pada Selasa malam, dan esok pagi nya truk sampah akan mengambil barang-barang bekas tersebut. Saya sendiri diajarkan oleh teman Belanda saya, kalau menemukan valuable item tergeletak begitu saja, kamu bisa mengambilnya.

Udah dapet banyak barang bekas nih! Abis itu ngapain?

  1. Hal terpenting, terutama kalau kamu beli baju, cek dikantongnya ada uang atau engga. Eitsss, syukur-syukur kaya saya dulu beli jaket ketika Kingsday seharga 1 euro, di kantongnya ada selembar 5 euro.
  2. Penting! Cuci pakaian bekas terlebih dahulu sebelum memakainya.
  3. Begitu juga dengan membersihkan furniture bekas, salah satu contohnya karpet. Banyak warga Belanda yang memelihara hewan dirumah nya. Kadang bulu-bulu hewan tersebut masih menempel, atau masih banyak debu yang dapat membahayakan pengidap alergi, maka ada baiknya dibersihkan menggunakan vacuum cleaner.

Kamarku jadi kebanyakan barang bekas, gimana dong?

Memburu barang bekas adalah aktifitas yang candu. Tidak sadar, tiba-tiba kamar mu bisa tampak seperti gudang (curhat colongan). Selain membeli, kamu juga bisa mendonasikan barang-barang layak pakai ke kringloopwinkel setempat, atau menjual nya kembali secara online. PPI Delft sendiri memfasilitasi teman-teman yang ingin me-recycle barang-barang nya yang sudah tidak terpakai melalui program Garage Sale, loh! Jadi, jangan takut lagi kalau mau belanja di Belanda ya!

 

Profil Penulis   

 

Nama                :           Amanda Castolina Malau

Jurusan             :           Sustainable Energy Technology

Tempat Kuliah  :           TU Delft

Moto Hidup      :           Sebelum beli baru, cek bekas dulu

Pengalaman Operasi Usus Buntu di Belanda

Oleh: Samuel Natalius

Sakit mungkin adalah hal yang setiap orang ingin sekali hindari, terutama kalau orang tersebut sedang tinggal di daerah yang jauh sekali dari tanah air dan keluarga. Namun, sebaik-baiknya kita menjaga kondisi kesehatan kita, ada saja satu saat di mana kita akan jatuh sakit.

Penyakit yang saya alami juga kalau boleh dibilang sangat tiba-tiba dan tidak jelas apa asal-usulnya. Suatu pagi di minggu ketiga bulan November 2017, saya mendadak merasakan nyeri yang sangat hebat di seluruh area perut saya. Awalnya saya menduga saya mengalami kram perut, atau mungkin sekedar masuk angin. Walaupun sudah minum tolak angin dan mencoba (maaf) BAB, kondisi saya tidak kunjung membaik. Beberapa jam kemudian, saya merasa rasa sakitnya beranjak pindah ke bagian kanan bawah perut saya dan saya dapat merasakan sakit itu ketika saya mencoba menggerakkan kaki sebelah kanan saya.

Wah, sepertinya usus buntu nih!

Itu kalimat yang segera terlintas di benak saya. Beberapa tahun yang lalu, ibu saya juga mengalami sakit usus buntu yang mengharuskannya menjalani operasi yang cukup besar karena usus buntunya sudah sedikit “pecah”. Merasa ngeri akan hal itu, saya segera pergi ke dokter.

Seperti yang mungkin mahasiswa di Delft tahu, Delft memiliki klinik praktik dokter untuk mahasiswa (studentenpraktijk) di Leeghwaterstraat. Umumnya, calon pasien perlu membuat janji lebih dulu sebelum dapat diperiksa. Namun, klinik tersebut juga memiliki walk-in hour setiap harinya antara pukul 11 dan 12 pagi. Jadi, pergilah saya ke walk-in hour tersebut. Dokter umum di klinik tersebut, merasa ragu kalau saya mengalami sakit usus buntu setelah memeriksa saya, meminta saya untuk pergi ke rumah sakit Rainier de Graaf untuk melakukan tes darah dan menunggu kabar apabila ada tanda positif dari hasil tes darah tersebut. Saya waktu itu merasa agak kecewa dengan pendapat dokter karena saya, entah kenapa, yakin betul kalau ini sakit usus buntu. Namun, berbekal surat rujukan dokter, akhirnya saya pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes darah dan menunggu hasil tes darah tersebut yang katanya akan selesai dalam waktu 2-3 jam.

Setelah tes darah, saya kembali ke kampus untuk belajar sembari menunggu apabila ada telepon dari dokter mengabarkan tentang hasil tes darah saya. Tidak ada kabar. Sorenya saya pun pergi ke centrum untuk nonton di bioskop dan ikut pesta kejutan kecil-kecilan ulang tahun teman. Saat perjalanan ke centrum, dokter akhirnya menelpon saya. Anehnya, alih-alih memberitahukan hasil tes darah saya, dokter tersebut malah menanyakan apakah saya sudah melakukan tes darah atau belum karena dokter tersebut belum mendapatkan informasi dari rumah sakit. Akhirnya saya diminta untuk datang kembali ke dokter itu esok harinya jika hasil tes darah tak kunjung datang. Aneh, masak informasi seperti itu bisa hilang begitu saja?

Tengah malam, tiba-tiba perut saya “perang” lagi. Sakitnya seketika menjadi lebih hebat dari sebelumnya dan saya juga merasa sedikit demam. Tidak tahan (dan sabar) menunggu hingga esok, saya pun akhirnya menelpon dokter jaga malam.

Sekedar informasi bagi yang belum tahu, jika Anda butuh dokter di luar jam kerja (setelah jam 5 sore atau malam hari) namun bukan hal yang sangat darurat (misalnya serangan jantung atau stroke, atau kecelakaan), jangan telepon 112! Jika Anda menghubungi 112, maka akan ada ambulans membawa Anda sesegera mungkin ke unit gawat darurat (UGD), biayanya akan menjadi sangat mahal (bisa €500 lebih kalau tidak salah dengar), dan mungkin asuransi tidak mau menanggung biaya tersebut. Hubungi huisartsenpost, atau dokter jaga malam. Jika Anda tinggal di Delft, silakan cari nomor telepon huisartsenpost in Delft dan simpan nomor telepon tersebut di telepon genggam Anda. Mungkin Anda butuh suatu saat.

Kembali ke cerita, setelah menjelaskan panjang lebar sakit yang saya rasakan dan apa yang sudah saya lakukan (ke dokter, tes darah, dll.), saya akhirnya mendapatkan akses ke UGD di rumah sakit Rainier de Graaf. Tidak ada ambulans kali ini, sayangnya, jadinya saya mesti ke rumah sakit naik sepeda di tengah rasa sakit dan dinginnya malam.

Sampai di UGD, saya menjelaskan kembali mengenai tes darah yang saya telah lakukan, dan setelah diinvestigasi ternyata masalah kenapa hasil tes darah saya tidak sampai ke dokter klinik kampus adalah karena nama saya yang tertulis di sistem. Orang-orang Indonesia di Delft mungkin mengalami atau pernah tahu kalau nama depan mereka suka terulang dua kali (double) di sistem gemeente dan kampus. Walaupun pihak kampus selalu bilang kalau hal itu tidak akan jadi masalah, namun hal itu akhirnya menjadi masalah di kasus ini. Nama saya di sistem klinik, lucunya, benar. Jadi, ada perbedaan penulisan nama antara sistem klinik dan sistem rumah sakit (yang mengambil informasi nama pasien dari sistem gemeente) yang membuat data hasil tes darah saya tidak bisa diakses oleh pihak klinik. Lucu bin miris rasanya ketika saya mengetahui hal tersebut.

Pada akhirnya, saya melakukan tes darah kembali (+ urine) dan hasilnya ada tanda positif (namun tidak positif amat) saya sakit usus buntu. Saya saat itu juga diinfus dan diminta untuk menginap di rumah sakit supaya paginya saya dapat menjalani tes ultrasonografi (USG, tapi bukan untuk melihat jabang bayi ya… :p). Saya sudah tidak boleh makan dan minum apapun mulai saat itu.

Tes USG dijadwalkan pada pukul 8 pagi, awalnya. Kenyataannya, saya baru dapat giliran USG pukul 11 pagi. Alasannya: antrian pasien. Kalau dipikir, ya namanya juga ditanggung asuransi, mungkin mirip kasusnya dengan pasien-pasien BPJS di Indonesia yang harus mengantri dari dini hari kalau mau dapat giliran pertama diperiksa. Hasil USG mengatakan saya positif usus buntu dan perlu segera dioperasi. Operasinya sendiri, lagi-lagi karena antrian, baru bisa dilakukan pukul setengah 6 sore.

Operasi usus buntunya menggunakan metode laparaskopi, di mana dokter hanya perlu membuat sobekan kecil pada 3 area perut, sehingga luka operasinya nanti tidak sebesar operasi biasa dan lebih cepat sembuh. Operasi hingga pemulihan memakan waktu sekitar 2 jam (kalau saya tidak salah ingat soalnya saya dibius total) dan setelahnya saya dibawa kembali ke ruang pasien. Saya sangat beruntung karena ada teman-teman yang bersedia untuk menjadi guardian dan menunggu saya selama saya proses operasi. Kontak guardian itu dibutuhkan oleh pihak rumah sakit sebagai pihak yang akan pertama kali dihubungi apabila operasi selesai atau ada sesuatu yang terjadi selama proses operasi. Berhubung tidak ada keluarga yang tinggal di Belanda, temanlah yang akhirnya bisa diandalkan sebagai guardian saat itu.

Setelah operasi, saya pun bermalam lagi di rumah sakit. Esok paginya, tepatnya jam 11, saya sudah harus di-“usir” dari rumah sakit. Ya, pihak rumah sakit tidak akan membiarkan Anda untuk berlama-lama tinggal di rumah sakit; jangan lupa ada pasien lain yang masuk setelah Anda. Dengan di-“usir”-nya saya dari rumah sakit sehari setelah operasi, maka berakhirlah pengalaman saya di rumah sakit tersebut. Saya setelahnya hanya diharuskan untuk istirahat penuh selama 1 minggu dan kembali ke rumah sakit untuk kontrol luka operasi di awal minggu ketiga setelah operasi.

 

Gambar  1. Bersama para guardian di “usir” dari rumah sakit

 

Tips bagi teman-teman mahasiswa di Delft agar dapat mengantisipasi hal-hal seperti ini dengan baik: 

  • You know your own body! Kalau merasa sakit terutama jika sakitnya terasa tidak wajar, jangan sok kuat. Segera konsultasikan ke dokter. Dokter juga manusia, yang mungkin juga bisa salah diagnosa. Tetap waspada sekalipun dokter bilang gejala sakit tersebut bukan masalah.
  • Catat waktu walk-in hours dokter klinik kampus: jam 11-12
  • Selalu simpan nomor telepon klinik kampus, huisartsenpost, dan 112. Kita tidak akan tahu kapan nomor tersebut akan dibutuhkan. Better prepare than regret!
  • Antisipasi kemungkinan masalah yang bisa terjadi akibat kesalahan nama kita di sistem administrasi gemeente atau kampus.
  • Teman (baik) itu perlu. Se-anti-sosialnya kita, setidaknya cari satu teman yang bisa diandalkan untuk hal-hal krusial seperti ini, misalnya sebagai guardian di kasus ini, dan sebaiknya kita juga sebisa mungkin saling tolong-menolong khususnya di saat-saat yang genting seperti kasus ini.
  • Jangan berharap tinggi kita akan dilayani senyaman mungkin di rumah sakit. Tidak ada cerita suster akan selalu membantu kita bangun dari tempat tidur untuk pergi ke WC. Bahkan ada seorang kakek, yang mungkin usia di atas 70 tahun, jalannya sudah sedikit susah namun tetap bangun dari tempat tidur dan pergi ke WC sendiri tanpa bantuan perawat. Di Belanda, pasien harus mandiri.
  • Jangan berharap kita bisa tinggal lama di rumah sakit. Kalau dokter bilang kita bisa pulang, walaupun badan kita rasanya masih tidak enak (karena luka operasi, misanya), kita tetap harus pulang. Mungkin bisa sih minta tambahan waktu, tapi tidak akan ditanggung asuransi jadinya.
  • Last but not least, asuransi kesehatan itu berguna banget! Biaya operasi saya dan hal-hal lain seperti dokter klinik dan dokter jaga malam/UGD ditanggung oleh asuransi! Hingga saat ini saya belum (semoga tidak akan!) ditagih sepeser pun.

Saya doakan teman-teman tidak harus mengalami kejadian seperti saya atau lebih parah dari saya. Namun, tidak ada yang bisa menjamin. Tetap berdoa dan tetap antisipasi segala kemungkinan yang ada.

Credit to : https://snatalius.wordpress.com/2017/12/25/pengalaman-operasi-usus-buntu-di-belanda/

PROFIL PENULIS

 

Penulis                         : Samuel Natalius

Jurusan/Universitas      : MSc Complex System Engineering and Management

Moto Hidup                  : “Appreciate every little thing in life.”

 

S1 di TUD: Belajar sambil jalan – jalan akademis

Oleh: Karina Anggelia

The world is a book and these who do not travel read only one page (unknown)

Hai teman2, saya Karina, murid tahun kedua MSc. Marine Technology dengan spesialisasi ship production. Sekarang ini saya sedang melakukan exchange semester di NTNU Trondheim, Norway. Kalau boleh jujur, alasan utama saya kuliah ke Eropa adalah karena ingin jalan – jalan dan hidup independent😊. Pas awal datang ke Belanda, saya memulai kuliah di Haagse Hogeschool, tetapi setahun kemudian saya memutuskan untuk pindah ke TUD (karena ketenarannya di bidang teknik). Perjalanan awal saya di TUD untuk mencari jurusan ideal, cukup panjang & rough, setelah berpindah jurusan dua kali (Earth Sciences -> Mechanical Engineering), sampailah saya ke jurusan sekarang yang sangat saya sukai. Tepatnya, sejak September 2013, saat saya memulai Pendidikan S1 di jurusan Marine Technology. Mulai pada September 2017, saya memulai master di jurusan yang sama.

Figure 1 – Kanal di Utrecht – bersama Gio & Enri

Salah satu keunggulan utama TUD adalah koneksi yang kuat dengan banyak pelaku industri dan partner universitas berkualitas yang tersebar di seluruh dunia, alhasil saya bisa memenuhi intensi awal saya ke Eropa, yaitu untuk travelling (dengan alasan) akademis. Sejauh ini, rasanya saya telah melakukannya dengan maksimal, yaitu melalui exchange S1 di the Melbourne University – Australia, short course di TU Crete – Yunani, summer school di KU Leuven – Belgia, dan yang terakhir exchange S2 di NTNU Trondheim.

Figure 2 – Melbourne skyline view dari St. Kilda beach – bersama Sebastian, fellow exchange student dari Denmark

Figure 3 – teman2 dari summer school KU Leuven

Figure 4 – Menyempatkan mengunjungi Acropolis saat short course di Crete – bersama Franja & Lara

Disamping banyaknya suka dan kebahagian yang saya rasakan, sekolah di TUD bukanlah tanpa duka dan tantangan. Pertama kali saya masuk TUD, saya lumayan shock meliat betapa beratnya beban dan betapa cepat fase pembelajaran di TUD (apalagi bila dibandingkan universitas saya yang sebelumnya). Disamping itu, jumlah mahasiswa internasional di bachelor MT sangatlah minim (2 dari 150 murid baru); jadi pada awalnya saya ‘dipaksa’ untuk berintegerasi dengan siswa Belanda. Ditambah lagi karena hampir semua pelajaran S1 megharuskan kerja kelompok, jadi saya harus terus – terusan berinteraksi bersama mahasiswa lokal. Karena perbedaan budaya, pola pikir dan cara kerja antara orang Belanda dan Asia, hal ini sama sekali tidak mudah bagi saya, terutama di dua tahun pertama masa S1. Hal tersusah  bagi saya adalah untuk belajar menerima continuous feedback (dengan intensi mereka yang baik tapi cara yang blunt dan terkadang harsh); dan memberikan feedback balik yang jujur tanpa diembel – embeli hard feeling pada orang yang dikomentari. Selain itu, hal kedua adalah belajar memisahkan hal pribadi dan professional (yaitu bila mereka mengkritik pekerjaan saya, bukan berarti mereka menyerang saya secara pribadi, dan di luar ruang diskusi kita tetaplah teman). Tapi setelah dua tahun itu lewat, saya merasa saya mulai bisa mengadaptasikan pola pikir dan belajar menyelesaikan masalah dengan gaya kerja mahasiswa Belanda yang independent dan direct.

Figure 5 – First Milestone: akhir perjuangan S1 – bersama Reza, David & Shen 🙂

Kalau saya liat kebelakang, masa S1 saya di TUD adalah salah satu masa terberat dan paling stress dari kehidupan saya sejauh ini. Bahkan secara pribadi, saya merasa S1 lebih menantang dari S2 bila dilihat dari beban kerjanya. Mungkin salah satu alasannya adalah karena tidak adanya kebebasan untuk memilih mata kuliah selama S1; alhasil saya harus mengambil sangat banyak mata kuliah termaksud beberapa yang sama sekali tidak saya sukai. Namun sisi positifnya adalah, saat saya S2, saya tahu persis apa yang saya suka, mampu dan ingin lakukan in the long run. In short, kurikulum TUD memberikan basis yang solid untuk menghadapi master. Untuk kuliah master, saya memilih spesialisasi ship production dan shipping management; dan saya sudah memikirkan tentang topik master thesis saya mulai dari jauh hari (tepatnya saat baru memulai master). Bila dilihat ke belakang, semua pilihan courses saya baik di TUD maupun NTNU, menunjang/ berhubungan dengan topik master thesis saya. {Kalau semuanya lancar, saya akan memulai proyek thesis saya awal Januari 2019 untuk membantu Royal IHC meningkatkan proses supply chain untuk produksi kapal yang mereka bangun di yard Kinderdijk. Finger cross!}

In conclusion, saya sama sekali tidak menyesal telah memilih TUD sebagai tempat menimba ilmu, karena ada sangat banyak hal yang saya pelajari (baik secara akademis maupun untuk personal development), sangat banyak orang – orang menarik yang bisa jumpai dan sangat banyak tempat menarik yang bisa saya kunjungi. Thanks to TUD😊.

Survival tips untuk fellow BSc. & MSc. students:

  • Jangan takut untuk dikritik / berbuat salah. It’s not the end of the world, it is a growing opportunity 😊.
  • Jadilah terbuka dan belajar sebanyak – banyaknya dari orang sekitar. Banyak kali, orang lain bisa mencapai goal yang sama dengan metode yang berdeda; dan selalu ada yang bisa dipelajari dari mereka.
  • Manfaatkan kesempatan yang disediakan TUD untuk mengejar passion kalian (contohnya karena saya suka jalan2, saya memanfaatkan koneksi TUD untuk berkelana dengan kedok akademis 😊).
  • Bangun jejaring pertemanan yang luas (gak ada orang yang punya kebanyakan teman). Hal yang saya pelajari sejauh ini, semakin kita tertarik dan terbuka dengan orang lain, semakin mereka akan tertarik dan terbuka dengan kita (that’s human nature).
  • PS: klo ada yang mau main/ hiking ke Norway, PM saya 🙂 Alamnya indah kayak surga (#truestory)

 

PROFIL PENULIS

 

Penulis : Karina Anggelia

Jurusan/Universitas : Msc Marine Technology (Ship Production) /TU Delft & NTNU Trondheim

Moto Hidup : Alon – alon weton kelakon 😊 (kredit: Mas Anggrit Dewangkhara)

 

Industri, Pengembangan Ilmu dan Kebebasan Memilih

Oleh: Muhamad Hartono

As a university deeply rooted in society, we want to convert inventions and technical knowledge in applications from which everybody can profit. To achieve that goal, a good collaboration with the industry and other knowledge institutions are necessary.

Halo semuanya! Namaku Tono, saat ini sedang menempuh studi master di jurusan Chemical Engineering di TU Delft. Tidak terasa setelah kurang lebih satu tahun yang lalu sibuk mengurus berkas aplikasi pendaftaran kuliah, sekarang aku sudah berada di ujung semester kedua! Tentunya saat menentukan tujuan studi, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dengan matang. Mulai dari struktur mata kuliah (makul) yang diajarkan, fasilitas kuliah, topik riset yang dikuasai oleh professor atau universitas tersebut, hingga hal-hal lainnya. Personally, dari sekian banyak alasan lain, dua kalimat di situs web TU Delft di atas mampu meyakinkanku bahwa kampus ini merupakan pilihan yang tepat sebagai destinasi menimba ilmu selanjutnya. Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi tiga hal yang membuat pengalaman belajar di TU Delft sangat menarik, yaitu eratnya hubungan dengan industri, orientasi pada perkembangan, serta kebebasan dalam menentukan struktur kuliah yang diambil.

In my humble opinion, salah satu hal yang masih dapat ditingkatkan dalam sistem pendidikan di negeri tercinta adalah keselarasan antara kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa dengan skill yang dibutuhkan oleh perusahaan/industri. Seringkali, apa yang kita pelajari di kelas lebih berfokus pada hal-hal yang belum tentu dapat digunakan secara nyata, misalnya di industri. Alhasil, setelah selesai ujian semesteran, ilmu-ilmu tersebut menguap tanpa sempat digunakan dengan maksimal. Setelah sembilan bulan menempuh kuliah di TU Delft, aku bisa mengkonfirmasi bahwa yang tertulis di situs web TU Delft tersebut benar-benar nyata! I couldn’t have made a better decision, TU Delft benar-benar membangun hubungan yang konstruktif dengan industri dalam aktivitas belajar mengajarnya. Well, bayangkan ketika hari pertama pengenalan jurusan, kalian langsung ditantang untuk secara kritis memberikan solusi bagi kasus pengolahan air limbah oleh salah satu perusahaan ternama di Eropa! Kurang anti-mainstream apa coba?

Industri di Belanda

Oleh sebab itu, bukanlah hal yang aneh jika kuliah di sini seringkali diisi oleh manajer ataupun expertise dari perusahaan multinasional yang bergerak di berbagai sektor tiap semesternya. Sekilas terlihat seperti kuliah tamu biasanya, namun sebenarnya peran industri terlepas dari sekedar memberikan kuliah saja! Di beberapa makul, mereka aktif memberikan training software hingga project yang penilaian akhirnya akan ditentukan oleh mereka juga. Lantas, apa sih pentingnya hal ini? Menurut saya pribadi, adanya kolaborasi yang erat antara industri dan akademia membuat konten matkul yang diajarkan di TU Delft tidak hanya cukup untuk digunakan sebagai fundamental dasar saat ingin melakukan riset atau penelitian lebih lanjut, namun juga telah dirancang sedemikian rupa hingga mahasiswa juga dilengkapi dengan tools untuk berpikir kritis bagaimana cara menggunakan ilmu tersebut untuk menyelesaikan masalah yang ada di kehidupan nyata. Mengingat spesialisasi yang saya ambil merupakan Chemical Product Engineering, hal ini menjadi lebih penting karena selain belajar tentang cara memodifikasi ikatan senyawa kimia, cara mengorintasi molekul, hingga menguasai konsep kuantum mekanik untuk menentukan struktur/karakteristik dari produk kimia, kita juga diajarkan bagaimana teori tersebut diaplikasikan di industri. Jadi, benar-benar tidak cuma menelan teori yang super rumit saja! Sebagai contoh, pada matkul Process and Product Design yang diambil kuarter sebelumnya, seusai mempelajari teori intensifikasi proses, kami mendapatkan kuliah langsung dari mantan manager Shell tentang pengalaman beliau dalam meningkatkan produksi perusahaan melalui optimasi teknologi! Call me old fashioned, tapi menurutku dengan adanya contoh kasus nyata yang mendampingi teori yang kita pelajari, kita justru lebih mudah mendapatkan gambaran (seberapun sulit materinya) topik yang kita pelajari di kelas nantinya akan benar-benar dapat kita gunakan!

Dalam prosesnya, kita juga akan dituntut untuk berpikir kritis dalam penerapan gagasan tersebut. Metode pembelajaran ini membuatmu belajar one step further dibandingkan proses belajar konvensional. Kamu tidak hanya dituntut mampu untuk membentuk sebuah konsep/gagasan berdasarkan ilmu yang diajarkan, namun juga dapat mengevaluasi, mendukung, dan mengemas gagasanmu tersebut menjadi suatu pemikiran yang komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, di samping memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di kelas, dengan diikutsertakannya industri dalam aktivitas belajar mengajar juga dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk networking dan menyampaikan gagasan yang kita miliki dalam lingkup professional. Bahkan, banyak teman-teman di sini yang langsung mendapatkan kesempatan internship karena mereka berhasil memanfaatkan waktu diskusi dengan pihak industri yang mengisi kuliah di kelas.

Salah satu makul yang berkesan bagiku adalah makul Heterogeneous Catalysis yang diambil semester lalu. Singkatnya, di samping mengikuti ujian tertulis seperti biasanya, mahasiswa yang mengikuti  kuliah ini juga diberikan kesempatan untuk melakukan studi kasus yang diberikan oleh DOW Chemical Co., sebuah perusahaan kimia multinasional terbesar di dunia saat ini. Bersama dengan dua orang rekan lainnya, aku diminta untuk melakukan analisis secara kritis katalis yang dapat digunakan oleh DOW pada teknologi Methanol-to-Olefins (MTO) yang mereka miliki. MTO sendiri merupakan salah satu teknologi inovatif untuk memproduksi bahan kimia dari bahan baku yang memiliki nilai ekonomi rendah, misalnya batu bara. Topik ini sangat relevan dengan kondisi yang ada di Indonesia mengingat cadangan batu bara yang kita miliki sangat berlimpah dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Selama kurang lebih dua bulan, kami mencoba untuk mengaplikasikan ilmu yang diberikan saat kuliah, mulai dari mengembangkan mekanisme reaksi kimia yang terjadi dalam prosesnya, teknik analisis/karakterisasi yang dapat digunakan untuk memonitor dan mengoptimalkan kinerja proses tersebut, membandingkan berbagai tipe reaktor dan kondisi operasi yang mungkin digunakan, strategi retrofitting yang dapat dilakukan untuk mengaplikasikan teknologi baru tersebut ke dalam infrastruktur yang sudah dimiliki oleh pabrik, analisa ekonomi, serta arah pengembangan ke depannya.

Presentasi tentang Methanol to Olefins (MTO) di hadapan perusahaan Dow Co. 

Sebagai bahan penentuan nilai akhir, kami selanjutnya mempresentasikan hasil studi kasus tersebut kepada ±50 orang karyawan DOW Co. yang bekerja di bagian Research and Development. Saat presentasi dan tanya jawab inilah aku menyadari bahwa apa yang dipelajari di kelas (dengan susah payah) benar-benar berguna dan bahkan dijadikan sebagai basis pengembangan riset di DOW. Melalui diskusi dengan mereka, kita juga dapat mengetahui hal-hal praktis yang dapat menyempurnakan teori yang diajarkan di kelas, dan truthfully, mungkin tidak ada di textbook apapun. Setelah menyelesaikan presentasi, selanjutnya kami diajak untuk melakukan site visit ke lab R&D yang dimiliki oleh DOW. Di sini, kita bisa melihat langsung peralatan super canggih yang digunakan untuk menganalisa berbagai jenis katalis dan kinerja proses. Yang tidak kalah seru, kami juga diajak untuk mengelilingi pabrik DOW di Terneuzen, kawasan industri yang terletak dekat dengan perbatasan antara Belanda dan Belgia, dengan area pabrik terluas dibandingkan cabang DOW di negara lainnya.

Sebenarnya, ada banyak lagi makul di TU Delft, setidaknya di jurusanku, yang mengikutsertakan partisipasi industri dalam proses belajar. Misalnya di semester ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengambil group project yang berbobot 12 ECTS. Melalui projek ini kami diminta untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah yang dihadapi oleh perusahaan tertentu. Mengingat bobot ECTS-nya yang cukup besar, kami juga harus melakukan kontak dengan industri sendiri dan hal-hal logistik lain seperti mengadakan progress meeting secara berkala. Intinya, mahasiswa benar-benar dituntut untuk mempraktikkan ilmu yang dimiliki dalam lingkungan professional.

Adanya hubungan erat antara industri dan TU Delft menurutku juga merefleksikan satu poin yang tidak kalah penting, yaitu sistem pendidikan di sini yang sangat berorientasi pada pengembangan ilmu itu sendiri. Mungkin adalah hal yang wajar jika industri seperti DOW menghabiskan jutaan euro pada pengembangan alat baru untuk meningkatkan margin keuntungannya. Akan tetapi, berkaca kembali pada apa yang diperoleh di kelas, sebenarnya topik-topik yang diajarkan di TU Delft sendiri sangat mengarah pada konsep-konsep yang super advanced dan terbaru. Bisa jadi, keterkaitannya yang erat dengan industri inilah yang mengharuskan topik kuliah bisa selaras dengan kondisi riil saat ini. Selain mempelajari teori-teori fundamental, kamu juga diperkenalkan dengan konsep yang baru dan sedang hangat dibicarakan oleh kaum akademis di berbagai belahan dunia. Tidak jarang jika sewaktu kuliah, kita diajak untuk mendiskusikan konten jurnal yang baru diterbitkan tiga bulan yang lalu. Menurutku pribadi, ini menggambarkan betapa sistem pendidikan di sini didesain agar up-to-date dan relevan dengan perkembangan ilmu yang kalian tekuni, tidak hanya mengacu pada textbook yang ditulis sudah berpuluh-puluh tahun lalu semata.

Adanya orientasi pengembangan ilmu tersebut juga didukung oleh kebebasan yang diberikan kepada mahasiswa untuk mengambil makul dari berbagai jurusan. Misalnya saat ini, aku mengambil makul dari jurusan Life Science and Technology, Sustainable Energy and Technology, dan sempat beberapa kali kuliah bareng dengan mahasiswa Materials Science. Selain karena penasaran terhadap makul dari jurusan-jurusan tersebut, harapannya, ilmu yang dipelajari mampu memberikan perspektif lain yang nantinya bisa digunakan untuk melakukan tesis dan bermanfaat seusai kuliah. Jauh-jauh datang ke Belanda, masa kamu masih sungkan untuk belajar sebanyak-banyaknya? Untungnya, mungkin TU Delft menyadari bahwa ilmu itu luas dan tidak semerta-merta terbatas pada nama jurusan, asalkan kamu memiliki minat dan keinginan untuk mempelajarinya.

Selain atmosfer kuliah di Delft yang super nyaman (terlepas dari cuacanya yang tidak menentu), fasilitas kampus yang super lengkap, dosen yang dengan senang hati menjelaskan materi di kantornya saat kamu belum paham, TU Delft memberikan paket lengkap untuk belajar dan menerapkan apa yang dipelajari secara langsung! Dari yang bisa aku serap selama belajar di sini, kamu akan diberikan kesempatan untuk tumbuh sebagai individu yang memiliki fundamental ilmu yang kuat namun juga mumpuni dalam mengaplikasikan ilmu tersebut untuk menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada di dunia nyata. Kalau sudah begitu, semuanya tinggal tergantung pada dirimu sendiri. Are you up to the challenge?

 

PROFIL PENULIS

Penulis                         : Muhamad Hartono

Jurusan/Universitas      : MSc Chemical Engineering / TU Delft

 

 

Tips Ngirit di Delft

Oleh: Christophorus Dwiadi

Kalau mayoritas orang ngalamin jet lag waktu pertama kali tiba di Belanda, saya mengalami hal yang bias dibilang currency lag. Tiap lihat harga langsung diconvert ke Rupiah, dan nggak ketemu berapa hasilnya (saya dulu matematika sering remidi), dan berakhir nambah-nambahin beban pikiran.

Sebagai mahasiswa yang bergantung penuh pada beasiswa, saya harus ngirit. Ngirit siapa tau uang saku telat turun, kuliahnya butuh extra time sampai adu pinalti, dan hal-hal urgent lainnya. Satu bulan pertama di Belanda, saya masih terlalu naif untuk kelewat ngirit, sampai-sampai makannya roti selai melulu.  Bukan begitu caranya ngirit sodara sodariku sebangsa dan setanah air. Ngirit nggak perlu ngere. Berikut sedikit pengalaman pribadi saya. Semoga berfaedah.

  1. Beli sepeda

Beli sepeda dan jas hujan sesegera mungkin. Bus dan tram emang banyak, tapi nggak murah dan jadwalnya nggak sefleksibel aktifitas kita. Ga harus sepeda bagus. Pencurian sepeda sudah lazim di sini, dan sepeda yang biasa aja relatif lebih aman dari pencurian. Budget €150 udah cukup buat beli sepeda nyaman pakai beserta aksesorisnya. Jangan lupa lampu depan-belakang. Teman saya kena tilang €60 gara2 lampu sepeda, lalu jadi €95 gara-gara lupa bayar dendanya, hahaha

  1. Minimalisir pengeluaran untuk jasa

Seperti di negara maju lainnya, jasa memang dihargai tinggi. Beda sama di Jogja, makan nasi ayam, minum es teh, plus ngecer rokok sebatang, cuma bayar 15 ribu (ga paham untungnya dari mana). Mahalnya servis ini nggak bisa kita ubah, tapi bisa kita hindari.

  • Contoh 1: Ayam filet dipotong blok harganya sekitar €10/kg; ayam utuh cuma €5. Jasa potongnya 2 kali lipat sendiri. Ayam utuh ada tulang sama kulitnya sih, tapi bukannya itu yang bikin enak ya?
  • Contoh 2: Makan di restoran €20an, beli menu yang sama tapi dibungkus harganya bisa €15.

Selisihnya dari mana? Ya dari servis restoran. Sebagai orang yang biasa ke warteg, servis kayak gini nggak penting. Jajan di kantin kampus sekali makan €6, tapi rasanya buat saya nggak oke. Solusinya, ya masak sendiri. Biasanya saya keluar €25 untuk satu mingguan, menu 4 sehat 5 sempurna plus-plus. Disarankan investasi alat masak, kulkas/freezer, kotak makan, dan belajar masak dulu tentunya.

Urutan rekomendasi supermarket versi saya: 1: Lidl; 2: Jumbo; 3: Albert Heijn; 4: Dirk; 5: Aldi

Gambar  1. Gambaran harga grocery di Delft

  • Contoh 3: Biaya ganti ban sepeda sekitar €14.

Padahal ban dalam sepeda harganya cuma €2,5 di toko yang namanya Action. Investasilah dengan beli peralatan reparasi sepeda di Action. Modal €20 udah full set, tinggal belajar gimana caranya benerin sepeda lewat tutorial Youtube deh.

  • Contoh 4: Ongkos potong rambut minimal €12.

Buat orang yang nggak ganteng kalo gondrong, ini masalah. Solusinya, jangan tanggung kalau potong, pendekin banget aja sekalian biar awet. Atau, cari temen yang hobi motongin rambut. Asal model rambutnya ga aneh2, dijamin hasilnya oke. Malah ada temen yang beli alat cukur €20, dan selalu potong rambut sendiri (botak sih, jadi gampang).

Gambar  2. Pricelist salon di belakang kampus sipil TU Delft

Jadi, kunci utamanya adalah: berdikari

  1. Yakin mau langganan ini itu?

Berikut beberapa contoh sifat impulsif yang saya dapati dari banyak mahasiswa baru di sini:

  • Contoh 1: Langganan weekend free-nya NS.

Dengan €33 per bulan, kamu bisa travelling naik NS (KAI nya Belanda) kemanapun tiap weekend, plus dapet 40% diskon pas weekdays di luar jam sibuk. Menarik kan? Tapi faktanya dari 52 weekend dalam setahun, lebih dari setengahnya akan kita habiskan di perpus, acara PPI/acara kampus, atau tiduran di rumah karena terlalu capek. Hampir semua teman saya yang langganan paket ini menyesal karena cuma jadi donatur NS.

Opsi bijak: langganan paket dal voordeel. Cukup €29 per tahun (pas promo), dapet 40% diskon di luar jam sibuk. Kalau perginya jauh? Beli dagkaart aja. Atau kalau perginya bareng2, beli group ticket. Pantengin https://www.treinreiziger.nl/category/treinkaartjes untuk promo terkini.

  • Contoh 2: Langganan bioskop

Per bulan langganannya €20, dan kamu bisa nonton 2D unlimited di salah satu retail bioskop bernama Pathe. Menarik kan, apalagi kalau dulu di Indonesia tiap Sabtu nongkrong di mall dan berujung nonton film di bioskop. Kecuali kamu movie freak, €20 per bulan lama-lama kerasa juga lho. Toh juga film bagus nggak rilis tiap bulan, itu aja kalo ada waktu buat nonton.

Opsi bijak: apa ya? Saya nggak tahu, karena saya 2 tahun di sini sama sekali belum pernah nonton di bioskop hahaha, karena emang ga suka nonton film aja sih

  • Contoh 3: Langganan membership gym+sport

Olahraga itu butuh komitmen. Saya merasa olahraga adalah escape yang bagus dari rutinitas akademik. Sayangnya, 7 dari 10 orang yang saya kenal gagal memanfaatkan membership Gym+Sportnya (di sport centre TU delft langganan gym=beli member gym+sportscard, total €220/tahun, hanya sportscard €120/tahun). Sibuk lah, apa lah, ada aja alesannya. Padahal udah subscribe setahun.

Opsi bijak: subscribe bulanan dulu. Meskipun secara matematis lebih mahal, tapi di awal lebih baik kenali jadwal dan keseriusan berolahraga dulu. Pengen body building tapi gym membership mahal? Langganan sportscard aja, terus daftar kelas2 semacam spartan workout atau strength training. Wiro Sableng nggak ngegym badannya tetep bagus kok.

Gambar  3. Latihan spartan workout di Sport Centre TU Delft

Jadi, kunci utamanya adalah: kenali ritme aktifitas dulu

Sukses menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan, biaya hidup bulanan saya hanya sekitar €200, dengan gaya hidup sederhana tapi tidak sengsara. Plus, ongkos buat kos sekitar €400, pengeluaran €700 per bulan adalah upper limit selama hidup di sini. Makan tetep enak, sesekali bisa nongkrong di café, punya anggaran untuk liburan, bisa bersedekah, dan yang paling utama adalah punya cukup tabungan kalau kuliahnya molor dan nggak dapet beasiswa lagi.

Demikian sharing dari saya, tidak melayani saran dan kritik karena ini bukan twitwar, hahaha. Kalau pengen denger pengalaman saya yang lain tentang hal apapun, silakan temukan dan kontak saya via jejaring apapun yang kamu punya. Saya dengan senang hati berbagi cerita.

 

PROFIL PENULIS

Penulis                                     : Christophorus Dwiadi

Jurusan/Universitas             : MSc Building Engineering, TU Delft

Moto Hidup                            : “Alon-alon ojo mung waton kelakon”