KOPI Delft: Jumat, 20 Februari 2009

Bagi pengunjung website PPI Delft yang tidak berkesempatan menghadiri secara langsung Kolokium PPI (KoPI) Delft  ke-5 pada hari Jumat, 20 Februari 2009 yang lalu, kini dapat mengikutinya lewat rekaman video di Youtube.

Pada kesempatan KoPI Delft ke-5 ini, Tim Presenter PLN mempresentasikan Visi 75-100 PLN. Untuk mengetahui lebih lanjut apa Visi 75-100 tersebut, silakan mengikuti rekaman presentasi mereka berikut ini:

Bila browser anda tidak dapat menampilkan embedded video tersebut, silakan klik link berikut untuk melihat playlist rekamannya di website Youtube.

http://www.youtube.com/view_play_list?p=CB3B21D01E8BC3E3

KOPI Delft: Diagnosa Berbasis Mikrofluida: Peluang Menuju Kemandirian Medis di Indonesia? – Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit

Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida
Dr. Gea Parikesit tengah menjelaskan teknologi mikrofluida

“Perangkat mikrofluida dapat digunakan sebagai media untuk mendiagnosa penyakit. Cara ini adalah salah satu cara diagnosa yang hasilnya didapatkan dengan cepat dan dengan media analisa yang mudah tersebar secara luas” demikian yang disampaikan oleh Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit pada saat Kolokium PPI Delft IV Jumat 6 Februari di fakultas 3mE TU Delft.

Mikrofluida adalah suatu media dengan sistem fluida berskala mikro yang untuk menggerakannya menggunakan perbedaan tegangan listrik. Hasil diagnosis mikrofluida yang dilakukan pada sample bisa juga disimpan dalam format data elektronik untuk keperluan analisis yang lebih mendalam.

Lebih lanjut, Gea yang juga merupakan peneliti Post-Doctoral di TU Delft ini memaparkan bahwa, Aplikasi sistem ini dapat juga diterapkan dalam kasus wabah penyebaran virus flu burung di Indonesia. Sampai tahun 2008 Indonesia masih menjadi salah satu negara endemik flu burung, hal ini disebabkan oleh lemahnya tindakan preventif serta lambatnya pengambilan tindakan apabila suatu daerah sudah positif terserang flu burung.

Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian
Hadirin menyimak penjelasan Pak Gea dengan penuh perhatian

Sementara itu, Diagnosis terhadap virus flu burung  haruslah dilakukan dengan secara spesifik dan dalam tempo relatif singkat agar dapat dipersiapkan tidakan selanjutnya. Mikrofluida merupakan salah satu alternatif pilihan dalam membantu proses diagnosis tersebut serta menganalisis ada atau tidak adanya penyakit flu burung pada tahap awal.

Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan yang mungkin muncul adalah bagaimana supaya teknik-teknik diagnosis cepat semacam ini bisa ditemukan sendiri oleh bangsa kita, mengingat kita lah yang akrab dengan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di negara kita dan sudah seharusnya kita pula lah yang menemukan solusinya secara kreatif. “Selama masih terikat dengan patent dari negara lain, sulit untuk mengatakan kita sudah independen dalam mengelola sistem kesehatan kita”, Tandasnya.

Dan untuk mengatasi masalah paten tersebut forum diskusi KOPI Delft mengarah kepada upayauntuk mengerti tentang proses pembuatan serta struktur model sehingga produk baru dapat ditemukan tanpa melanggar produk yang sudah memiliki paten.

Gea juga mengungkapkan, bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi perangkat ini di lapangan, terutama dari aspek sosial, budaya, dan ekonomi karena dalam teknologi ini seolah fungsi diagnosis yang umumnya dilakukan oleh dokter diwakilkan oleh sebuah perangkat mikrofluida. Sehingga sangat mungkin untuk disalahpahami sebagian masyarakat bahwa peralatan lah yang memvonis penyakit seseorang.

Selain itu, tenaga medis dalam jumlah yang cukup banyak juga sangat dibutuhkan, untuk memenuhi kebutuhan daya jangkau diagnosis yang seluas kepulauan Indonesia, selain juga karena alat tersebut berhenti hanya pada tahap diagnosis namun langkah penyembuhan selanjutnya sangat tergantung dari ketersediaan tenaga kesehatan di lapangan. (db/ys)

Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara
Partisipan KoPI Delft 4 berfoto bersma selepas acara

KOPI Delft: Prospek dan Permasalahan Aktivitas Eksplorasi Minyak dan Gas di Indonesia – Duddy Ranawijaya

Prospek dan Permasalahan Aktivitas Eksplorasi Minyak dan Gas di Indonesia

Oleh: Yugi Sukriana

Kepulauan Indonesia kaya akan cekungan sedimen yang merupakan jenis batuan berhidrokarbon dan setiap cekungan memiliki prospek dalam eksplorasi minyak. Menurut data, terdapat lebih dari 40 areal cekungan sedimen, demikian disampaikan Duddy Ranawijaya didalam acara Kolokium PPI-Delft (Kopi Delft), Jumat Sore di gedung Fakultas Mechanical Maritime & Material Engineering (3mE), Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Delft, Belanda.

Sambil menunjukan peta kepulauan Indonesia berikut lokasi-lokasi cekungan sedimen yang tersebar diantaranya, Duddy, staff departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) yang juga kandidat PhD dari Applied Geology TU Delft ini juga mengemukakan tentang masih banyaknya potensi cekungan di kepulauan Indonesia yang belum tergali. Akibatnya, Indonesia, sejak tahun 2004 resmi menjadi net-Importer minyak karena jumlah produksi yang menurun di satu sisi sementara jumlah konsumsi yang terus meningkat setiap tahunnya.

Masih menurut Duddy, rendahnya aktifitas eksplorasi ini disebabkan oleh aktifitas eksplorasi migas di Indonesia “jalan di tempat” karena iklim bisnis eksploitasi yang tidak kondusif yang pada gilirannya mengakibatkan kurangnya riset dibidang ekporasi ini.

Sementara itu, aktifitas eksplorasi bukanlah merupakan aktifitas yang mudah dilakukan, eksplorasi membutuhkan biaya yang besar, teknologi yang mutakhir serta banyak nya tenaga ahli di lapangan yang andal, dan untuk ketiga hal itu, potensi lokal kita masih kalah dengan apa yang bisa disediakan oleh perusahaan-perusaha an multinasional.

Beberapa pertanyaan diajukan oleh para peserta KOPI delft seputar peluang anak bangsa untuk dapat berkiprah serta turut ambil bagian dalam aktivitas eksplorasi migas. Menurut Duddy, peluang itu ada, bahkan ilmuwan Indonesia bisa masuk melalui pintu aktivitas eksplorasi yang diselenggarakan oleh pemerintah yang orientasinya lebih kepada riset dibanding orientasi bisnis yang menuntut beban tingkat kesuksesan yang tinggi seperti yang pada umumnya dilakukan oleh perusahaan-perusaha an asing. Dengan keterlibatan talenta ilmuwan-ilmuwan Indonesia, yang diantaranya merupakan para peserta KOPI Delft, besar harapan bahwa anak bangsa bisa mengolah potensi alamnya sendiri secara mandiri.

Acara KOPI Delft merupakan acara rutin yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Kota Delft (PPI-Delft) sebagai sarana para mahasiswa Indonesia di Delft untuk saling berbagi serta berdiskusi tentang ilmu yang dipelajarinya di universitas- universitas di kota Delft serta mengaitkan relevansi ilmunya dengan kondisi Indonesia. Cuaca dengan hujan dan angin kencang yang kurang bersahabat tidak mengurungkan niat sejumlah peserta untuk menghadiri acara. Acara ini ditutup dengan foto bersama sesama peserta, dan dengan penuh harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik, tentunya!

Kick Off Kolokium PPI Delft

oleh: Divisi Kajian Ilmiah

Informasi acara:

Tanggal/Tempat: 7 November 2008/HB 17.150 Gedung EWI
Tema: Berbagi

Berbagi suatu pengetahuan dapat membuahkan kerja sama, tentunya harus diperkuat dengan konsep, komitmen, keterbukaan dan adanya fasilitator.

Berbagi pengalaman profesional dapat dilakukan dengan dengan latar belakang profesi yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Apabila sebuah group dibuat dengan tujuan yang sama namun memiliki latar belakang yang berbeda maka kerja sama dibutuhkan dengan budaya berbagi maka membuka peluang untuk kerjasama. Salah satu cara mengawali berbagi adalah dengan mencari irisan yang sama (dalam bidang akademis misalnya tools/software yang dipakai), berbagi dapat mengefisienkan proses belajar dan menimbulkan ide-ide baru untuk mempertajam riset. Hasil sharing tidak harus dimanfaatkan saat itu saja. Dengan berbagi dan saling percaya maka hasil yang didapatkan bisa menjadi lebih baik.

Konsep berbagi belum ada di Indonesia terutama di bidang akademis, contoh nyatanya dalam mengerjakan suatu proyek instansi biasanya overlapping dengan instansi lain, belum ada budaya yntuk nernagi ide atau fasilitas. Thailand sudah menerapkan proses berbagi dengan membuat pusat research bersama di bidang fisika, apabila ada yang mau melakukan research dan ingin menggunakan alat di pusat penelitian itu maka bisa mendaftarkan penelitiannya lewat website.

Kebiasaan berbagi dapat diawali dengan ‘membanggakan’ hasil penelitian kita, kebiasaan timur biasanya tidak membudayakan untuk membanggakan apa yang telah kita kerjakan. Dalam bidang akademis dimana mata uangnya adalah scientific publication maka hasil karya kita bisa ‘dipamerkan’ dengan tulisan ilmiah, hal ini ditujukan untuk mendapatkan apresiasi publik juga menstimulasi orang lain untuk berkarya yang sama

Ide yang sedang dikembangkan sekarang adalah brain circulation network, ide ini bertujuan agar orang-orang yang mendapatkan pengetahuan di luar negeri (brain gain) dapat membagi ilmu yang didapatkan dengan orang-orang di Indonesia.