KOPI Delft – Social Media Buzzers: The Influence on Public Perspective and Decision Making

KOPI Delft – Social Media Buzzers: The Influence on Public Perspective and Decision Making

Jumat, 18 Oktober 2019, PPI Delft kembali mengadakan diskusi rutin melalui Kolokium Pelajar Indonesia (KOPI) Delft, yang dilaksanakan di gedung Technology, Policy, and Management (TPM) pukul 18.00-20.00. Berbeda dengan diskusi-diskusi sebelumnya, kali ini KOPI dikemas untuk membahas suatu isu yang sedang hangat di Indonesia dengan melihatnya dari berbagai sudut pandang keilmuan. Pada sesi kali ini, tema yang diangkat adalah tentang fenomena buzzers di media sosial dan pengaruhnya dalam pembentukan perspektif, opini, dan pengambilan keputusan publik di dunia nyata. Sebagaimana kita ketahui, saat ini, pengaruh media sosial sangat besar dalam hidup kita, sehingga fabrikasi informasi yang tersebar memberikan pesan bawah sadar untuk membuat publik semakin terpolarisasi. Pada kesempatan ini, kami menghadirkan kedua narasumber yang membahas persoalan ini dari dua sudut pandang yang berbeda, menyeimbangkan aspek teknis dan sosial.

Narasumber pertama adalah Wirawan Agahari yang merupakan mahasiswa PhD di bagian ICT, TPM, TU Delft. Beliau sempat bekerja sebagai Senior Research Associate pada Center of Innovation Policy and Governance (CIPG) yang menerbitkan penelitian tentang fenomena buzzers pada 2017 lalu, berjudul “Di balik fenomena buzzer: Memahami Lanskap Industri dan Pengaruh Buzzer di Indonesia”. Penelitian ini menjadi patokan dari pemaparan yang diberikan. Terdapat perbedaan antara influencers dan buzzers yang terletak pada expertise kedua kelompok tersebut, sebagaimana influencers didengar karena merupakan expert pada suatu bidang tertentu. Sedangkan, tujuan buzzers lebih untuk membangun awareness daripada engagement. Melalui media sosial, kita semua digiring untuk terlibat secara tidak sadar pada apa yang dinamakan filter bubble, algoritma yang bertujuan untuk membuat seseorang adiktif dan terjebak pada satu topik berita atau informasi tertentu saja. Hal ini menyebabkan seseorang menjadi semakin ekstrim terhadap suatu tendensi tertentu, yang membuatnya merasa semakin benar. Lebih lanjut, ia akan mencoba mencari sekelompok orang yang memiliki satu kecenderungan dan pemikiran, untuk kemudian sampai pada tempat yang bernama echo chamber, dimana semua orang berkumpul untuk berbagi pandangan yang sama dan menyepakati suatu hal tersebut.

Narasumber kedua kita, Eri Sidharta, merupakan mahasiswa Master dari ISS Erasmus University Rotterdam dalam bidang keilmuan Econometrics. Beliau sedang mengerjakan penelitian yang berkaitan dengan fenomena buzzers ini. Atas nama viralitas, kebenaran (post-truth) sudah tidak penting lagi. Publik dibuat semakin terpolarisasi. Para pendengung (buzzers) di Indonesia sengaja memainkan emosi sekelompok orang di spektrum seberang (trolling). Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di belahan dunia lainnya. Misalnya di Amerika Serikat, dimana berita tentang “Pope mendukung Trump” banyak diklik oleh pendukung partai Demokrat dan bukan orang-orang yang pro Republikan. Bentuk negara juga mempengaruhi hal ini, misalnya negara otoriter cenderung mempunyai “mesin” buzzers yang dibiayai oleh pemerintah. Baru-baru ini, terdapat penelitian tentang buzzers di seluruh dunia, yang menyatakan bahwa Indonesia mempunyai banyak buzzers, terutama dalam hal politik. Fenomena ini dapat berdampak pada demokrasi, dimana hal ini dapat mendorong populisme: gerakan untuk mengajak dari liberal demokrasi (dimana kaum minoritas dihargai) ke iliberal demokrasi (dimana orang-orang menjadi anti perbedaan atau anti diversitas). Tidak hanya sampai situ, hal ini dapat memberikan konsekuensi ekonomi pada suatu negara akibat tendensi deglobalisasi. Oleh karena itu, sudah saatnya berpindah dari esse est percipi (to exist is to be perceived) menjadi cogito ergo sum (to think therefore I am).

Paparan oleh kedua narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang dipandu oleh moderator kita, Kusnandar, yang merupakan mahasiswa PhD di TU Delft dalam bidang Multi-Actor Systems. Para peserta yang hadir sangat antusias dalam bertanya dan berdiskusi, sehingga diskusi berjalan dengan lancar dan seru. Beberapa hal menarik yang didapat dari diskusi ini adalah bahwa buzzers politik masih ada di area abu-abu, yang mana tidak bisa dipertanggungjawabkan secara kuat. Parameter etikanya pun masih abu-abu, mana yang melanggar norma mana yang tidak. Yang dapat menjadi acuan adalah bagaimana penyebaran suatu berita tidak melanggar hak asasi manusia, tidak mengandung unsur SARA, dan bukan merupakan kebohongan. Yang paling penting adalah bagaimana dapat mengedukasi masyarakat untuk memilah secara bijaksana informasi yang beredar dan tidak mudah percaya dengan berita hoax. Selain itu, literasi data diperlukan sebagai dasar yang paling kuat untuk memerangi hoax. Sampai saat ini belum ada peraturan yang cukup kuat dan tepat guna untuk menanggulangi perkara ini, hanya ada UU ITE. Oleh karena itu, regulasi yang tepat dibutuhkan, tanpa mengesampingkan hak masyarakat dan peran media sosial sebagai platform untuk berpendapat.