KOPI Delft: Perkembangan dan Aplikasi Synthetic Biology di Indonesia dan di Dunia

Delft – Pada tanggal 9 November 2018, PPI Delft mengadakan kegiatan diskusi rutin KOPI Delft (Kolokium Pelajar Indonesia). Pada KOPI kali ini, Sasha Yogiswara, mahasiswa master di bidang Life Science, memberikan informasi menarik tentang bioteknologi serta perkembangannya di dunia dan di Indonesia. Topik utama yang dibawakan oleh Sasha adalah GMO (Genetically Modified Organism) products dan apakah produk tersebut berbahaya atau tidak.

Bioteknologi adalah cabang ilmu yang memanfaatkan makhluk hidup atau produk dari makhluk hidup tersebut untuk mengubah atau membantu kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Adapula 3 contoh pemanfaatan bioteknologi, yaitu obat-obatan, biofuel, dan bahan-bahan pangan. Bioteknologi pun juga sudah ada sejak dahulu kala. Salah satu contoh pemanfaatan bioteknologi adalah jagung. Jagung yang sering kita temui sekarang, memiliki bentuk yang sangat berbeda ribuan tahun yang lalu dan tidak dapat dikonsumsi oleh manusia. Melalui banyak “selective breeding”, jagung tersebut akhirnya bermutasi menjadi jagung yang saat ini banyak kita konsumsi. Selain itu, ada juga contoh lainnya, yaitu fermentasi oleh ragi, nata de coco oleh bakteri, dan tentu saja tempe yang dibuat dengan jamur.

Pembuatan obat-obatan juga dapat dilakukan dengan bioteknologi. Antibiotik pertama yang ditemukan, penicillin, berasal dari penelitian tentang jamur yang dapat membunuh bakteri. Sejak saat itu, perkembangan bioteknologi berkembang, dimulai dari tahun 1960an yang biasa disebut era sintetik biologi. Obat sintetik pertama yang diproduksi secara massal adalah artemisinin, atau obat malaria. Artemisinin asli yang berasal dari tumbuhan kenikir sangatlah susah untuk didapatkan dan mahal. Pembuatan artemisinin sintetik tersebut tentu sangat membantu negara-negara yang memiliki banyak kasus malaria.

Lalu seperti apa perkembangan bioteknologi di Indonesia? Sampai saat ini, ada 3 pusat penelitian besar yang ada di Indonesia, yaitu PPBBI (Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia), Pusat Penelitian Biologi LIPI, dan pusat penelitian bioteknologi di Universitas Indonesia (UI). Di website LIPI sendiri, terdapat 4 fokus utama perkembangan bioteknologi di LIPI tersebut, yaitu diversifikasi pangan, penciptaan bibit unggul ternak, vaksin, optimalisasi sumberdaya pertanian, biorefinery, dan biosimilar, protein terapetik, kit diagnostic. Namun, pada kenyataannya, perkembangan bioteknologi di Indonesia masih memprihatinkan. Hal tersebut terjadi karena keterbatasan fasilitas dan bahan-bahan yang harus diimpor dari luar negri. Akan tetapi, ada beberapa mahasiswa UI yang ikut berlomba di kompetisi sintetik biologi terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensial di bidang bioteknologi namum masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Untuk itu, Indonesia harus dapat menghadapi tantangan dalam perkembangan bioteknologinya. Tantangan tersebut adalah:
1. Anggaran riset bioteknologi yang masih sangat kecil di Indonesia (0.9% dari total APBN),
2. Pembuatan regulasi-regulasi yang berhubungan dengan bioteknologi, dan penerimaan hasil produk bioteknologi oleh masyarakat.

Lalu, apa itu GMO yang sering dibicarakan belakangan ini? GMO adalah “Genetically Modified Organism”. Salah satu contoh produk GMO adalah beras berwarna kuning yang mengandung vitamin A yang sangat banyak. Produk tersebut dibuat untuk menanggulangi penyakit mata akibat kekurangan vitamin A. Namun, banyak orang yang menolak produk tersebut hanya karena produk tersebut adalah “genetically modified”. Padahal banyak produk seperti jagung yang ada sekarang, adalah hasil dari modifikasi DNA dengan cara “selective breeding”. Dengan adanya teknologi GMO ini, kita seharusnya juga memikirkan apa manfaat yang bisa kita dapatkan dari GMO, tentunya juga dengan berhati-hati dengan resiko dari modifikasi DNA tersebut, karena pada akhirnya, kita berharap GMO dapat dimanfaatkan untuk kebaikan manusia tanpa ada efek buruk yang ditimbulkan.