Menempa Diri dengan PhD di TU Delft, Belanda

Oleh: Ahmad Nasikun

Begin with the end in mind,” begitu nasihat Stephen Covey—dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People—yang coba saya terapkan dalam kehidupan PhD/doktoral di TU Delft. Dengan status saya yang sudah mengikatkan diri sebagai tenaga pengajar dan peneliti di Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik UGM, riset dan pendidikan adalah fokus utama saya. Saya berusaha untuk memberikan kontribusi maksimal di masa mendatang pada bidang yang saya tekuni (Geometry Processing) dan salah satu caranya adalah dengan memfokuskan diri pada kompetensi pilihan saya tersebut.

Studi doktoral/PhD sangat erat dengan kata ‘independensi’. Secara umum dalam hal riset, serta—pada level tertentu—berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Sebagai peneliti, kita dididik untuk mampu melakukan riset secara mandiri, dari mulai menemukan problem penelitian, menghasilkan metode untuk mengatasi masalah tersebut, mendesain penelitian, menyelenggarakan penelitian, hingga pada evaluasi dan diseminasi hasil. Pada level individu, kita pun sudah harus mampu menjadi independen, memilih mana aktivitas yang selaras dengan prioritas kita dan berani untuk meninggalkan dan menolak kegiatan yang tidak/kurang sejalan dengan visi jangka panjang, dengan kesiapan untuk menerima konsekuensinya.

Iklim Lingkungan Kerja pada Lingkungan Riset di Belanda

Saya menyelesaikan program master saya di Korea Selatan, dari Seoul National University (SNU), sehingga saya sedikit banyak merasakan bagaimana perbedaan iklim riset di timur (baca: Asia Timur) dan Belanda.

Menurut saya nuansa ke-egaliter-an antar peneliti Belanda jauh lebih unggul. Dalam dunia kerja, orang dilihat dari kompetensinya, bukan melulu oleh usia atau jabatannya. Contoh paling sederhana adalah kami di TU Delft memanggil professor dengan nama depan saja, tanpa ada kata Prof, Pak atau Pak dosen di depannya. Dalam presentasi rutin 2 pekanan, setiap orang tampak—secara umum—santai untuk menyampaikan apa yang telah dia lakukan dan tidak terlihat terintimidasi oleh target/tekanan dari profesor. Diskusi akademik dan perdebatan dengan profesor/supervisor menjadi hal yang sangat lumrah dalam forum tersebut dan hal serupa secara umum dihindari/tidak disarankan di Korea Selatan.

Work-life balance merupakan slogan yang mengakar begitu kuat dalam beberapa dekade terakhir di Belanda. Setiap orang disarankan untuk bisa mempunyai waktu istirahat yang cukup dan tidak berlebihan dalam bekerja. Di lab kami, tidak mengherankan jika baru 1-2 orang yang terlihat ketika pukul 09.00 pagi dan jam 16.00 sudah ada beberapa orang yang meninggalkan meja kerjanya. Orang-orang diharapkan mempunyai performa maksimal ketika tidak terlalu stres dan mendapat istirahat yang cukup. Akhir pekan sangat jarang sekali ada yang bekerja, kecuali jika ada deadline publikasi. Selain itu, setiap anggota lab (PhD, post-doc, dan profesor) semacam diwajibkan untuk mengambil cuti (paid leave) minimal 20 hari kerja dalam setahun, di luar waktu liburan resmi dan bisa mendapat teguran dari HR (Human Resources) jika tidak melakukannya. Beberapa rekan satu lab saya bahkan hanya masuk 4 hari dalam sepekan dengan setiap Senin dia bekerja dari rumah, dan hal seperti itu diperbolehkan oleh supervisor. Ketika program master di Korea, untuk keluar beberapa jam saja dari lab saya haru izin ke profesor dan/atau [mahasiswa senior] ketua lab.

Akan tetapi, untuk bounding interpersonal di Belanda secara umum kalah kuat dengan Kawasan timur. Kebebasan berekspresi dan berpendapat seringkali membuat anggota lab untuk lebih individualis (paling tidak menurut standard saya sebagai orang timur).

Sistem Perkuliahan dan Riset PhD di TU Delft

Prioritas utama seorang mahasiswa doktoral secara umum adalah pada penelitian dan evaluasinya pun bergantung banyak pada luaran penelitian. Satu hal unik yang ada di TU Delft adalah adanya Doctoral Education Program (DEP), yang fokusnya ada pada (1) pengembangan kepakaran pada bidang ilmunya, (2) pengetahuan dan pengalaman riset, serta (3) kemampuan soft skills. Program tersebut bertujuan untuk menunjang pengembangan diri para mahasiswa doktoral-nya agar mempunyai kemampuan teknis yang mumpuni serta kemampuan interpersonal yang handal.

Secara umum mahasiswa PhD mempunyai target publikasi di jurnal internasional bereputasi (sebagai contoh: Q1 dan Q2) untuk membuktikan kepakaran pada bidang ilmunya, sebelum diberikan gelar doktor. Walau dalam tataran detail impelementasi agak berbeda. Profesor/promotor biasanya yang mempunyai kewenangan tertinggi untuk menentukan kapan kita dianggap memenuhi syarat kualifikasi sebagai doktor.

Di kelompok riset kami—Computer Graphics and Visualization—yang berada di Dept. of Intelligent Systems, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics, and Computer Science, tidak ditentukan secara de jure berapa jumlah publikasi selama menempuh studi, begitu juga dengan waktu tempuh studinya. Berdasarkan pengamatan pribadi saya dari para senior, biasanya dibutuhkan 4-5 publikasi jurnal Q1 atau Q2 dengan target masa studi 4 tahun. Alhamdulillah sebelum Go/No-Go Meeting, saya berhasil menerbitkan satu artikel di jurnal Computer Graphics Forum (Q2), sehingga memudahkan untuk evaluasi administratif dan kepercayaan diri.

Persyaratan administratif untuk mendapatkan gelar PhD dari TU Delft adalah dengan memenuhi 45 kredit DEP, dengan minimal 15 dari masing-masing kategori. Pengembangan kepakaran biasanya didapat dari mengikuti kuliah program master, summer school, dan pelatihan. Kredit untuk penelitian didapatkan dari publikasi, kegiatan penelitian, kegiatan akademik (sebagai teaching assistant), serta kuliah mengenai wawasan penelitian. Untuk kategori transferrable skills, mahasiswa PhD bisa mengikuti kelas-kelas yang diselenggarakan oleh Graduate School-nya TU Delft. Karena ingin berfokus pada penelitian di tahun-tahun akhir, saya berusaha menunaikan kewajiban administratif ini sedini mungkin. Selama 1 tahun, alhamdulillah 42 kredit (16, 10, dan 16) bisa saya dapatkan.

TU Delft mempunyai nilai pendidikan yang unik dan sangat menarik untuk program doktoralnya: mereka menganggap soft-skill sebagai elemen yang sangat penting dalam pengembangan diri seorang peneliti. Oleh karenanya, mereka menyediakan DEP yang salah satu fokusnya adalah pada transferrable/soft-skills, yakni kemampuan-kemampuan non-teknis yang menunjang performa peneliti dan akan bermanfaat untuk karirnya di masa depan. Minimal 15 kredit yang harus ditempuh untuk lulus dari TU Delft. Kelas ini diadakan dalam jangka pendek (1-4 kali pertemuan), secara intensif, dan dengan pemateri mayoritas disajikan olah para pakar dari luar universitas (biasanya dari perusahaan). Beberapa kelas yang saya ikuti antara lain: Leadership and Group Dynamics, Brain Management, Effective Negotiation, hingga Social Media for PhD Candidates. Kelas seperti ini juga sangat bagus untuk membangun jaringan dengan PhD dari departemen dan fakultas lain di TU Delft, karena pesertanya lintas disiplin ilmu.

Pengembangan kepakaran pada bidang penelitian kita pun tidak harus dilakukan melalui kuliah di TU Delft. Kegiatan belajar mengajar di institusi lain dapat diklaim juga, selama kita bisa meyakinkan supervisor akan urgensi kelas tersebut dan disetujui olehnya. Sebagai contoh, saya mengikuti kelas Front-End Vision and Deep-Learning yang diadakan oleh ASCI di TU Eindhoven, yang semua biaya pendaftaran kuliah, akomodasi dan transportasi selama kuliah ditanggung oleh grup riset. Summer Course yang diadakan oleh Eurographics di Paris, Perancis juga bisa saya ikuti dan masuk kredit karena bidangnya yang sejalan dengan arah riset doktoral saya.

Foto 1. Seminar Eurographics Symposium on Geometry Processing (SGP) di Paris

Evaluasi formal pada mahasiswa PhD tidak dilakukan tiap quarter dengan ujian, tetapi via beberapa milestone yang telah ditentukan. (1) Setelah tiga bulan menempuh studi, ada dokumen bernama PhD Agreement yang perlu disiapkan. Sesuai namanya, dokumen ini berisi kesepakatan antara mahasiswa PhD, daily supervisor, dan promotor tentang rencana perkuliahan dan riset kita, serta target yang disepakati (misal: jumlah publikasi). (2) Evaluasi 6 bulan berupa pertemuan antara ketiganya untuk membahas kemajuan selama ini, kendala yang dihadapi, serta rencana untuk pertemuan Go/No-Go. (3) Setelah satu tahun, akan ada evaluasi besar pertama, berupa Go/No-Go Review Meeting. Pertemuan ini akan menentukan apakah seorang mahasiswa PhD dirasa cukup mampu untuk melanjutkan PhD-nya dalam waktu yang ditentukan (Go) atau harus mengakhirinya lebih awal tanpa gelar (No-Go). (4) Setelah itu biasanya akan ada pertemuan tahunan untuk mendiskusikan progress, rencana dan kendala. (5) Setelah semua syarat terpenuhi, evaluasi terakhir akan berupa sidang terbuka disertasi di hadapan komite dan publik umum.

Keluarga

Tidak sedikit mahasiswa PhD yang biasanya sudah berkeluarga, sehingga keseimbangan antara kegiatan akademik dan aktivitas bersama keluarga tidak kalah penting. Pada tahun pertama saya kuliah, saya belum bersama istri dan anak-anak saya, sehingga kompensasi family time-nya biasanya berupa video call secara rutin setiap akhir pekan. Saya juga mengambil jatah liburan lebih dari dua bulan (dalam satu tahun akademik) untuk bisa pulang ke tanah air dua kali: sebulan pertama untuk mengunjungi istri dan anak-anak setelah satu semester di Belanda dan sebulan lagi di akhir tahun pertama untuk menjemput mereka. Alhamdulillah sistem ketenagakerjaan di Belanda memberikan perhatian yang besar kepada keluarga dan work-life balance.

Tantangan besar ketika membawa keluarga ke Belanda adalah tanggungan finansial yang sangat besar pada biaya sewa rumah dan yang berkaitan dengannya (listrik, air, gas, dan pajak kota). Aturan kependudukan yang ketat membuat keluarga yang sudah mempunyai anak untuk tinggal di rumah/apartemen yang (relatif) mahal karena setiap rumah telah ditentukan jumlah maksimal penghuni yang diperbolehkan secara legal tinggal disana. Untuk kasus kami (dengan beasiswa dan tunjangan keluarga dari LPDP), sekitar 70% uang beasiswa bulanan harus kami alokasikan untuk tanggungan tersebut.

Foto 2. Keluarga Cemara

Kegiatan non-Akademik

Untuk mencapai target-target besar kita tidak bisa sendirian, harus ada mitra-mitra kolaborasi. Oleh karena itu, membangun jaringan via interaksi dan kegiatan di berbagai komunitas masyarakat menjadi nilai penting lainnya. Selain bisa bertukar informasi dan memperluas jaringan, kegiatan seperti ini juga penting untuk menyegarkan kembali pikiran kita. Tentunya yang tak kalah penting adalah perlunya kegiatan rohani—untuk selalu mengingatkan kita bahwa semua yang kita lakukan berpangkal dan berujung pada upaya untuk mencapai visi jangka panjang, ridho dari-Nya dan ganjaran surga di hari akhir nanti.

Foto 3. Keluarga Muslim Delft

Walau tidak dalam intensitas yang penuh dan rutin, saya mencoba terlibat dalam berbagai kegiatan non-akademik. Hampir setiap dua pekan sekali saya mengupayakan untuk mengikuti kajian yang dikelola oleh kawan-kawan KMD (Keluarga Muslim Delft) dengan materi yang terstruktur dan pengisi yang tetap, sehingga luarannya lebih terpadu. Melingkar bersama rekan-rekan pelajar lain di Delft bisa saling menguatkan ketika kami futur/lemah, selain menguatkan spiritualitas kami tentunya. Beberapa kali saya juga bergabung dengan acara PPI Delft (Persatuan Pelajar Indonesia di Delft) dan KAGAMA NL (Keluarga Alumni UGM cabang Belanda) untuk menambah teman baru, yang biasanya ada bonus berupa masakan Indonesia.

 

Profil Penulis:

Nama                   : Ahmad Nasikun

Jurusan                : Computer Graphics and Visualization research group, Dept. of Intelligent Systems

Universitas          : Delft University of Technology (TU Delft)

Moto hidup          : Good is the enemy of great.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.