KOPI Delft: Solving Indonesian Infrastructure Challenges through Research and Innovation – James Zulfan

Delft – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (PPI Delft) kembali melakukan diskusi rutin pada tanggal 9 Juli 2018 dalam kegiatannya yang bernama Kolokium Pelajar Indonesia (KOPI) Delft. Isu yang dibahas kali ini adalah terkait penyelesaian tantangan infrastruktur di Indonesia melalui riset dan inovasi. Diskusi dilakukan bersama dengan Bapak James Zulfan, selaku Peneliti di Pusat Litbang SDA dan Kementrian PUPR. Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas. Disusun oleh pulau-pulau yang dipisahkan oleh perairan, Indonesia terdiri dari daerah yang memiliki sumber daya dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, konektivitas dan pemerataan pemenuhan kebutuhan merupakan salah satu masalah krusial yang masih dihadapi oleh bumi pertiwi. Akibatnya, beberapa daerah memiliki kelebihan sumber daya sementara daerah lainnya mengalami defisit sehingga harus mengimpor komoditas tersebut. Salah satu bentuk kesenjangan kebutuhan tersebut adalah masih adanya daerah yang mengalami kekurangan air, misalnya di kawasan Indonesia Timur, meskipun wilayah-wilayah tersebut memiliki ketersediaan sumber daya air yang cukup banyak.

Oleh sebab itu, salah satu fokus pembangunan Indonesia hingga tahun 2019 adalah pemerataan infrastruktur. Dari beberapa daftar yang masuk dalam national strategic project untuk mencapai persebaran infrastruktur yang rata, ketersediaan sumber daya air merupakan salah satu program yang menjadi fokus pada tahun 2015-2019. Bentuk program tersebut salah satunya adalah dengan pengadaan bendungan, rehabilitasi, flood control, dan coastal protection. Salah satu output yang diharapkan dari program tersebut adalah adanya 57 bendungan baru yang siap beroperasi pada akhir tahun 2019. Keberadaan bendungan ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah di kawan Indonesia Timur dan beberapa daerah di pulau Jawa yang sebenarnya ketersediaan sumber daya airnya banyak, namun pengolahannya masih kurang baik. Untuk itu, pemerataan infrastruktur perlu didasarkan pada kondisi tiap daerah melalui peta kebutuhan dan sumber daya air. Masalah lain yang dihadapi oleh infrastruktur bendungan adalah terkait operability dan pemeliharaannya mengingat struktur dan morfologi sungai di Indonesia yang mudah mengalami degradasi.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan mengembakan strategi berdasarkan research and development. Indonesia memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) di tiap kementerian hingga pemerintah daerah. Peran utama dari Balitbang tersebut adalah untuk mendukung dirjen yang akan mengelola dan mengerjakan konstruksi fisik di lapangan. Balitbang melakukan riset dan pengembangan terkait masalah-masalah yang ada di lapangan, melahirkan inovasi dan melakukan modifikasi untuk memunculkan solusi yang optimal. Solusi yang dihasilkan oleh Balitbang ini diharapkan dapat menjadikan konstruksi di lapangan lebih murah, membutuhkan waktu instalasi yang lebih cepat, serta konstruksi yang lebih kuat. Di sinilah peran Balitbang menjadi sangat penting dalam pemecahan tantangan infrastruktur di Indonesia.

Salah satu teknologi yang diciptakan oleh Balitbang terkait permasalahan infrastruktur bendungan dan bending di Indonesia adalah diterapkannya teknologi modular sebagai pengganti conventional weir.  Penyebab utama kerusakan pada bendungan dan bendung sendiri adalah degradasi, ditambah lagi dengan adanya penambangan pasir liar yang mempercepat degradasi sungai tersebut. Balitbang mengadakan penelitian dan pengembangan teknologi yang mampu membuat bendungan dan bendung menjadi lebih fleksibel sehingga lebih tahan terhadap gerusan lokal dan degradasi dasar sungai. Setelah melakukan riset di laboratorium dan pengembangan yang intensif, terciptalah suatu teknologi blok beton terkunci dalam bentuk modular.

Komponen blok beton terkunci berbentuk modular ini dapat dipasang secara in situ. Kaitan antar komponennya yang cukup lentur namun tidak tetap didesain agar dapat menghadapi morfologi dasar sungai yang dinamis. Setelah mengalami uji performa secara intensif, akhirnya diperoleh dua produk modular segmental yang bisa mengamali mass production.

Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh teknologi modular dibandingkan dengan teknologi konvensional antara lain: fleksibilitas, dapat beradaptasi dengan degradasi dasar sungai; karakteristik dalam bentuk modul memberikan kemudahan maintenance; mendukung eco-hydraulic karena kualitas air lebih baik akibat aerasi yang terus berjalan; mengurangi biaya bahan dari volume yang lebih kecil secara kesuluruhan dan efisiensi kolam yang lebih tinggi; serta time-saving karena fabrikasi dapat dilakukan secara paralel dengan aktivitas lain.

Saat ini, terdapat tiga prototype teknologi modular yang telah diterapkan di Majalengka, Morotai, dan Padang. Konsep modular juga dapat diterapkan untuk saluran irigasi. Selama ini, masalah utama pada saluran irigasi adalah kebocoran dan kelongsoran tanggul karena kerusakan lining saluran oleh penurunan kualitas bahan atau konstruksi yang kurang baik. Dengan diterapkannya teknologi modular, saluran irigasi menjadi lebih kuat dan pemeliharannya menjadi lebih mudah. Selain itu, teknologi modular blok beton bergigi dapat diaplikasikan sebagai pengaman pantai untuk mencegah longsor dan penurunan garis pantai akibat erosi.

Pengembangan teknologi modular ini merupakan salah satu bukti bahwa output yang dihasilkan dari riset dan inovasi dapat menjadi solusi bagi tantangan infrastruktur yang dihadapi oleh Indonesia. Sebagai salah satu lembaga pemerintah, Balitbang mampu memunculkan inovasi dan output berdasarkan masalah yang ada di lapangan.  Saat ini, teknologi modular sedang memasuki fase standardisasi agar dapat segera digunakan di berbagai daerah. Selain itu, training modul dari hasil uji lab dan implementasi di lapangan akan segera dilakukan. Ke depannya, diharapkan kerjasama dengan universitas dan pihak kementerian di lapangan dapat ditingkatkan demi mempercepat pemerataan infrastruktur.