S1 di TUD: Belajar sambil jalan – jalan akademis

Oleh: Karina Anggelia

The world is a book and these who do not travel read only one page (unknown)

Hai teman2, saya Karina, murid tahun kedua MSc. Marine Technology dengan spesialisasi ship production. Sekarang ini saya sedang melakukan exchange semester di NTNU Trondheim, Norway. Kalau boleh jujur, alasan utama saya kuliah ke Eropa adalah karena ingin jalan – jalan dan hidup independent😊. Pas awal datang ke Belanda, saya memulai kuliah di Haagse Hogeschool, tetapi setahun kemudian saya memutuskan untuk pindah ke TUD (karena ketenarannya di bidang teknik). Perjalanan awal saya di TUD untuk mencari jurusan ideal, cukup panjang & rough, setelah berpindah jurusan dua kali (Earth Sciences -> Mechanical Engineering), sampailah saya ke jurusan sekarang yang sangat saya sukai. Tepatnya, sejak September 2013, saat saya memulai Pendidikan S1 di jurusan Marine Technology. Mulai pada September 2017, saya memulai master di jurusan yang sama.

Figure 1 – Kanal di Utrecht – bersama Gio & Enri

Salah satu keunggulan utama TUD adalah koneksi yang kuat dengan banyak pelaku industri dan partner universitas berkualitas yang tersebar di seluruh dunia, alhasil saya bisa memenuhi intensi awal saya ke Eropa, yaitu untuk travelling (dengan alasan) akademis. Sejauh ini, rasanya saya telah melakukannya dengan maksimal, yaitu melalui exchange S1 di the Melbourne University – Australia, short course di TU Crete – Yunani, summer school di KU Leuven – Belgia, dan yang terakhir exchange S2 di NTNU Trondheim.

Figure 2 – Melbourne skyline view dari St. Kilda beach – bersama Sebastian, fellow exchange student dari Denmark

Figure 3 – teman2 dari summer school KU Leuven

Figure 4 – Menyempatkan mengunjungi Acropolis saat short course di Crete – bersama Franja & Lara

Disamping banyaknya suka dan kebahagian yang saya rasakan, sekolah di TUD bukanlah tanpa duka dan tantangan. Pertama kali saya masuk TUD, saya lumayan shock meliat betapa beratnya beban dan betapa cepat fase pembelajaran di TUD (apalagi bila dibandingkan universitas saya yang sebelumnya). Disamping itu, jumlah mahasiswa internasional di bachelor MT sangatlah minim (2 dari 150 murid baru); jadi pada awalnya saya ‘dipaksa’ untuk berintegerasi dengan siswa Belanda. Ditambah lagi karena hampir semua pelajaran S1 megharuskan kerja kelompok, jadi saya harus terus – terusan berinteraksi bersama mahasiswa lokal. Karena perbedaan budaya, pola pikir dan cara kerja antara orang Belanda dan Asia, hal ini sama sekali tidak mudah bagi saya, terutama di dua tahun pertama masa S1. Hal tersusah  bagi saya adalah untuk belajar menerima continuous feedback (dengan intensi mereka yang baik tapi cara yang blunt dan terkadang harsh); dan memberikan feedback balik yang jujur tanpa diembel – embeli hard feeling pada orang yang dikomentari. Selain itu, hal kedua adalah belajar memisahkan hal pribadi dan professional (yaitu bila mereka mengkritik pekerjaan saya, bukan berarti mereka menyerang saya secara pribadi, dan di luar ruang diskusi kita tetaplah teman). Tapi setelah dua tahun itu lewat, saya merasa saya mulai bisa mengadaptasikan pola pikir dan belajar menyelesaikan masalah dengan gaya kerja mahasiswa Belanda yang independent dan direct.

Figure 5 – First Milestone: akhir perjuangan S1 – bersama Reza, David & Shen 🙂

Kalau saya liat kebelakang, masa S1 saya di TUD adalah salah satu masa terberat dan paling stress dari kehidupan saya sejauh ini. Bahkan secara pribadi, saya merasa S1 lebih menantang dari S2 bila dilihat dari beban kerjanya. Mungkin salah satu alasannya adalah karena tidak adanya kebebasan untuk memilih mata kuliah selama S1; alhasil saya harus mengambil sangat banyak mata kuliah termaksud beberapa yang sama sekali tidak saya sukai. Namun sisi positifnya adalah, saat saya S2, saya tahu persis apa yang saya suka, mampu dan ingin lakukan in the long run. In short, kurikulum TUD memberikan basis yang solid untuk menghadapi master. Untuk kuliah master, saya memilih spesialisasi ship production dan shipping management; dan saya sudah memikirkan tentang topik master thesis saya mulai dari jauh hari (tepatnya saat baru memulai master). Bila dilihat ke belakang, semua pilihan courses saya baik di TUD maupun NTNU, menunjang/ berhubungan dengan topik master thesis saya. {Kalau semuanya lancar, saya akan memulai proyek thesis saya awal Januari 2019 untuk membantu Royal IHC meningkatkan proses supply chain untuk produksi kapal yang mereka bangun di yard Kinderdijk. Finger cross!}

In conclusion, saya sama sekali tidak menyesal telah memilih TUD sebagai tempat menimba ilmu, karena ada sangat banyak hal yang saya pelajari (baik secara akademis maupun untuk personal development), sangat banyak orang – orang menarik yang bisa jumpai dan sangat banyak tempat menarik yang bisa saya kunjungi. Thanks to TUD😊.

Survival tips untuk fellow BSc. & MSc. students:

  • Jangan takut untuk dikritik / berbuat salah. It’s not the end of the world, it is a growing opportunity 😊.
  • Jadilah terbuka dan belajar sebanyak – banyaknya dari orang sekitar. Banyak kali, orang lain bisa mencapai goal yang sama dengan metode yang berdeda; dan selalu ada yang bisa dipelajari dari mereka.
  • Manfaatkan kesempatan yang disediakan TUD untuk mengejar passion kalian (contohnya karena saya suka jalan2, saya memanfaatkan koneksi TUD untuk berkelana dengan kedok akademis 😊).
  • Bangun jejaring pertemanan yang luas (gak ada orang yang punya kebanyakan teman). Hal yang saya pelajari sejauh ini, semakin kita tertarik dan terbuka dengan orang lain, semakin mereka akan tertarik dan terbuka dengan kita (that’s human nature).
  • PS: klo ada yang mau main/ hiking ke Norway, PM saya 🙂 Alamnya indah kayak surga (#truestory)

 

PROFIL PENULIS

 

Penulis : Karina Anggelia

Jurusan/Universitas : Msc Marine Technology (Ship Production) /TU Delft & NTNU Trondheim

Moto Hidup : Alon – alon weton kelakon 😊 (kredit: Mas Anggrit Dewangkhara)

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.