Pengalaman Operasi Usus Buntu di Belanda

Oleh: Samuel Natalius

Sakit mungkin adalah hal yang setiap orang ingin sekali hindari, terutama kalau orang tersebut sedang tinggal di daerah yang jauh sekali dari tanah air dan keluarga. Namun, sebaik-baiknya kita menjaga kondisi kesehatan kita, ada saja satu saat di mana kita akan jatuh sakit.

Penyakit yang saya alami juga kalau boleh dibilang sangat tiba-tiba dan tidak jelas apa asal-usulnya. Suatu pagi di minggu ketiga bulan November 2017, saya mendadak merasakan nyeri yang sangat hebat di seluruh area perut saya. Awalnya saya menduga saya mengalami kram perut, atau mungkin sekedar masuk angin. Walaupun sudah minum tolak angin dan mencoba (maaf) BAB, kondisi saya tidak kunjung membaik. Beberapa jam kemudian, saya merasa rasa sakitnya beranjak pindah ke bagian kanan bawah perut saya dan saya dapat merasakan sakit itu ketika saya mencoba menggerakkan kaki sebelah kanan saya.

Wah, sepertinya usus buntu nih!

Itu kalimat yang segera terlintas di benak saya. Beberapa tahun yang lalu, ibu saya juga mengalami sakit usus buntu yang mengharuskannya menjalani operasi yang cukup besar karena usus buntunya sudah sedikit “pecah”. Merasa ngeri akan hal itu, saya segera pergi ke dokter.

Seperti yang mungkin mahasiswa di Delft tahu, Delft memiliki klinik praktik dokter untuk mahasiswa (studentenpraktijk) di Leeghwaterstraat. Umumnya, calon pasien perlu membuat janji lebih dulu sebelum dapat diperiksa. Namun, klinik tersebut juga memiliki walk-in hour setiap harinya antara pukul 11 dan 12 pagi. Jadi, pergilah saya ke walk-in hour tersebut. Dokter umum di klinik tersebut, merasa ragu kalau saya mengalami sakit usus buntu setelah memeriksa saya, meminta saya untuk pergi ke rumah sakit Rainier de Graaf untuk melakukan tes darah dan menunggu kabar apabila ada tanda positif dari hasil tes darah tersebut. Saya waktu itu merasa agak kecewa dengan pendapat dokter karena saya, entah kenapa, yakin betul kalau ini sakit usus buntu. Namun, berbekal surat rujukan dokter, akhirnya saya pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes darah dan menunggu hasil tes darah tersebut yang katanya akan selesai dalam waktu 2-3 jam.

Setelah tes darah, saya kembali ke kampus untuk belajar sembari menunggu apabila ada telepon dari dokter mengabarkan tentang hasil tes darah saya. Tidak ada kabar. Sorenya saya pun pergi ke centrum untuk nonton di bioskop dan ikut pesta kejutan kecil-kecilan ulang tahun teman. Saat perjalanan ke centrum, dokter akhirnya menelpon saya. Anehnya, alih-alih memberitahukan hasil tes darah saya, dokter tersebut malah menanyakan apakah saya sudah melakukan tes darah atau belum karena dokter tersebut belum mendapatkan informasi dari rumah sakit. Akhirnya saya diminta untuk datang kembali ke dokter itu esok harinya jika hasil tes darah tak kunjung datang. Aneh, masak informasi seperti itu bisa hilang begitu saja?

Tengah malam, tiba-tiba perut saya “perang” lagi. Sakitnya seketika menjadi lebih hebat dari sebelumnya dan saya juga merasa sedikit demam. Tidak tahan (dan sabar) menunggu hingga esok, saya pun akhirnya menelpon dokter jaga malam.

Sekedar informasi bagi yang belum tahu, jika Anda butuh dokter di luar jam kerja (setelah jam 5 sore atau malam hari) namun bukan hal yang sangat darurat (misalnya serangan jantung atau stroke, atau kecelakaan), jangan telepon 112! Jika Anda menghubungi 112, maka akan ada ambulans membawa Anda sesegera mungkin ke unit gawat darurat (UGD), biayanya akan menjadi sangat mahal (bisa €500 lebih kalau tidak salah dengar), dan mungkin asuransi tidak mau menanggung biaya tersebut. Hubungi huisartsenpost, atau dokter jaga malam. Jika Anda tinggal di Delft, silakan cari nomor telepon huisartsenpost in Delft dan simpan nomor telepon tersebut di telepon genggam Anda. Mungkin Anda butuh suatu saat.

Kembali ke cerita, setelah menjelaskan panjang lebar sakit yang saya rasakan dan apa yang sudah saya lakukan (ke dokter, tes darah, dll.), saya akhirnya mendapatkan akses ke UGD di rumah sakit Rainier de Graaf. Tidak ada ambulans kali ini, sayangnya, jadinya saya mesti ke rumah sakit naik sepeda di tengah rasa sakit dan dinginnya malam.

Sampai di UGD, saya menjelaskan kembali mengenai tes darah yang saya telah lakukan, dan setelah diinvestigasi ternyata masalah kenapa hasil tes darah saya tidak sampai ke dokter klinik kampus adalah karena nama saya yang tertulis di sistem. Orang-orang Indonesia di Delft mungkin mengalami atau pernah tahu kalau nama depan mereka suka terulang dua kali (double) di sistem gemeente dan kampus. Walaupun pihak kampus selalu bilang kalau hal itu tidak akan jadi masalah, namun hal itu akhirnya menjadi masalah di kasus ini. Nama saya di sistem klinik, lucunya, benar. Jadi, ada perbedaan penulisan nama antara sistem klinik dan sistem rumah sakit (yang mengambil informasi nama pasien dari sistem gemeente) yang membuat data hasil tes darah saya tidak bisa diakses oleh pihak klinik. Lucu bin miris rasanya ketika saya mengetahui hal tersebut.

Pada akhirnya, saya melakukan tes darah kembali (+ urine) dan hasilnya ada tanda positif (namun tidak positif amat) saya sakit usus buntu. Saya saat itu juga diinfus dan diminta untuk menginap di rumah sakit supaya paginya saya dapat menjalani tes ultrasonografi (USG, tapi bukan untuk melihat jabang bayi ya… :p). Saya sudah tidak boleh makan dan minum apapun mulai saat itu.

Tes USG dijadwalkan pada pukul 8 pagi, awalnya. Kenyataannya, saya baru dapat giliran USG pukul 11 pagi. Alasannya: antrian pasien. Kalau dipikir, ya namanya juga ditanggung asuransi, mungkin mirip kasusnya dengan pasien-pasien BPJS di Indonesia yang harus mengantri dari dini hari kalau mau dapat giliran pertama diperiksa. Hasil USG mengatakan saya positif usus buntu dan perlu segera dioperasi. Operasinya sendiri, lagi-lagi karena antrian, baru bisa dilakukan pukul setengah 6 sore.

Operasi usus buntunya menggunakan metode laparaskopi, di mana dokter hanya perlu membuat sobekan kecil pada 3 area perut, sehingga luka operasinya nanti tidak sebesar operasi biasa dan lebih cepat sembuh. Operasi hingga pemulihan memakan waktu sekitar 2 jam (kalau saya tidak salah ingat soalnya saya dibius total) dan setelahnya saya dibawa kembali ke ruang pasien. Saya sangat beruntung karena ada teman-teman yang bersedia untuk menjadi guardian dan menunggu saya selama saya proses operasi. Kontak guardian itu dibutuhkan oleh pihak rumah sakit sebagai pihak yang akan pertama kali dihubungi apabila operasi selesai atau ada sesuatu yang terjadi selama proses operasi. Berhubung tidak ada keluarga yang tinggal di Belanda, temanlah yang akhirnya bisa diandalkan sebagai guardian saat itu.

Setelah operasi, saya pun bermalam lagi di rumah sakit. Esok paginya, tepatnya jam 11, saya sudah harus di-“usir” dari rumah sakit. Ya, pihak rumah sakit tidak akan membiarkan Anda untuk berlama-lama tinggal di rumah sakit; jangan lupa ada pasien lain yang masuk setelah Anda. Dengan di-“usir”-nya saya dari rumah sakit sehari setelah operasi, maka berakhirlah pengalaman saya di rumah sakit tersebut. Saya setelahnya hanya diharuskan untuk istirahat penuh selama 1 minggu dan kembali ke rumah sakit untuk kontrol luka operasi di awal minggu ketiga setelah operasi.

 

Gambar  1. Bersama para guardian di “usir” dari rumah sakit

 

Tips bagi teman-teman mahasiswa di Delft agar dapat mengantisipasi hal-hal seperti ini dengan baik: 

  • You know your own body! Kalau merasa sakit terutama jika sakitnya terasa tidak wajar, jangan sok kuat. Segera konsultasikan ke dokter. Dokter juga manusia, yang mungkin juga bisa salah diagnosa. Tetap waspada sekalipun dokter bilang gejala sakit tersebut bukan masalah.
  • Catat waktu walk-in hours dokter klinik kampus: jam 11-12
  • Selalu simpan nomor telepon klinik kampus, huisartsenpost, dan 112. Kita tidak akan tahu kapan nomor tersebut akan dibutuhkan. Better prepare than regret!
  • Antisipasi kemungkinan masalah yang bisa terjadi akibat kesalahan nama kita di sistem administrasi gemeente atau kampus.
  • Teman (baik) itu perlu. Se-anti-sosialnya kita, setidaknya cari satu teman yang bisa diandalkan untuk hal-hal krusial seperti ini, misalnya sebagai guardian di kasus ini, dan sebaiknya kita juga sebisa mungkin saling tolong-menolong khususnya di saat-saat yang genting seperti kasus ini.
  • Jangan berharap tinggi kita akan dilayani senyaman mungkin di rumah sakit. Tidak ada cerita suster akan selalu membantu kita bangun dari tempat tidur untuk pergi ke WC. Bahkan ada seorang kakek, yang mungkin usia di atas 70 tahun, jalannya sudah sedikit susah namun tetap bangun dari tempat tidur dan pergi ke WC sendiri tanpa bantuan perawat. Di Belanda, pasien harus mandiri.
  • Jangan berharap kita bisa tinggal lama di rumah sakit. Kalau dokter bilang kita bisa pulang, walaupun badan kita rasanya masih tidak enak (karena luka operasi, misanya), kita tetap harus pulang. Mungkin bisa sih minta tambahan waktu, tapi tidak akan ditanggung asuransi jadinya.
  • Last but not least, asuransi kesehatan itu berguna banget! Biaya operasi saya dan hal-hal lain seperti dokter klinik dan dokter jaga malam/UGD ditanggung oleh asuransi! Hingga saat ini saya belum (semoga tidak akan!) ditagih sepeser pun.

Saya doakan teman-teman tidak harus mengalami kejadian seperti saya atau lebih parah dari saya. Namun, tidak ada yang bisa menjamin. Tetap berdoa dan tetap antisipasi segala kemungkinan yang ada.

Credit to : https://snatalius.wordpress.com/2017/12/25/pengalaman-operasi-usus-buntu-di-belanda/

PROFIL PENULIS

 

Penulis                         : Samuel Natalius

Jurusan/Universitas      : MSc Complex System Engineering and Management

Moto Hidup                  : “Appreciate every little thing in life.”