KOPI Delft: 4D Open Spatial Information Infrastructure – Agung Indrajit

4D Open Spatial Information Infrastructure Supporting Participatory Urban Planning Monitoring

Delft –Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (PPI Delft) kembali melakukan diskusi rutin pada tanggal 15 September 2017 dalam kegiatannya yang bernama Kolokium Pelajar Indonesia (KOPI) Delft mengenai isu terkait Indonesia yang bertemakan isu geospasial dan penggunaan data spasial serta partisipasi masyarakat untuk melakukan monitoring dari rencana yang telah ditetapkan. Penjelasan awal mengenai topik diskusi diberikan oleh Bapak Agung Indrajit, seorang mahasiswa program doctoral TU Delft di bawah Faculty of Architecture & Built Environment. Partisipasi peserta lain pun difasilitasi dengan sesi tanya jawab yang diskusi mengenai data geospasial dan pemakaiannya bagi pembangunan.

PBB telah menetapkan bahwa populasi manusia secara berkala akan berpindah menuju daerah perkotaan kedepannya. Pada tahun 2020, 80% penduduk Eropa akan tinggal di daerah perkotaan, sedangkan pada tahun 2030, 54% penduduk Asia akan melakukan hal yang sama. Dengan adanya perpindahan yang besar ini, dapat diperkirakan bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah akan semakin tinggi, maka dari itu infrastruktur sistem informasi yang bersifat open dan menarik partisipasi dari masyarakat ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan ini.

Ketika berbicara infrastruktur sistem informasi dan daerah urban, maka tidak dapat dipungkiri bahwa smart city akan muncul di dalam pembicaraan. Konsep smart city di Indonesia saat ini dianggap Pak Agung masih berada pada tahap smartphone city, dimana seluruh informasi yang masuk kepada pemerintah akan hal-hal krusial masih datang dari informasi yang diberikan oleh masyarakatnya baik dari media sosial, pelaporan melalui aplikasi, ataupun data sekunder yang diberikan oleh masyarakat. Sedangkan pemerintah sendiri masih belum memiliki sebuah sistem monitoring yang tidak bergantung pada pelaporan smarphone masyarakat kotanya dan tidak berbasis pada rencana tata kota awal yang telah ditetapkan. Rencana tata kota pasti akan menghadapi berbagai kendala dalam implementasinya (bencana alam, krisis ekonomi, dll), maka dari itu dibutuhkan berbagai alat kendali yang dapat memastikan bahwa rencana tata kota ini akan diimplementasikan sesuai dengan rencana yang ada dan 4D Open SII ini adalah solusi yang ditawarkan oleh Pak Agung

Melalui desain infrastruktur sistem informasi yang tidak hanya dapat membuka informasi rencana tata ruang kota dan daerah, namun juga dapat memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam menginformasikan ketidaksesuaian data yang ada, diharapkan bahwa rencana tata ruang daerah/kota tidak hanya berhenti pada level rencana saja, namun dapat dijalankan eksekusi dan implementasinya sesuai dengan rencana tersebut. Pak Agung melihat bahwa pada saat ini fokus terlalu banyak diberikan pada level perencanaan, dan untuk bagian pengawasan cukup minim. Maka dari itu penelitian beliau diharapkan dapat mengambil peran dalam menyeimbangakan porsi perencanaan dan pengawasan.

Hasil diskusi pada kegiatan KOPI Delft ini diharapkan dapat menjadi sebuah program dan sumbangsih yang nyata untuk pembangunan Indonesia kedepannya. Apabila para ada yang tertarik lebih jauh mengenai program dan penelitian yang telah dipaparkan, silahkan menghubungi Sdr.Agung Indrajit melalui surat elektronik berikut agungindrajit@gmail.com