KOPI DELFT – Menurunkan disparitas ekonomi di Indonesia dengan pengoptimalan sistem transportasi

Delft, NL – Dalam acara Kolokium Pelajar Indonesia di Delft (KOPI Delft) kali ini, Jumat, 17 Maret 2017, beberapa pelajar Indonesia di Delft membahas tema mengenai optimisasi sistem transportasi di Indonesia agar dapat menurunkan disparitas ekonomi bersama Ni Luh Putu Pratidinatri. Studi kasus yang diangkat yaitu mengenai harga semen yang cenderung tinggi di daerah Papua dibandingkan dengan harga semen di Jawa. Harga semen di Pulau Jawa berkisar sebesar Rp 70.000,00-Rp 80.000,00/sak sementara harga semen di daerah Papua berkisar Rp 800.000,00 – Rp2.000.000,00/sak (berbagai sumber).

Ketidakmerataan aktivitas ekonomi di Indonesia merupakan tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Disparitas ekonomi ditandai dengan perbedaan produk domestik regional bruto (PDRB) yang signifikan antar provinsi. PDRB dapat dianggap sebagai representasi dari aktif atau tidaknya kegiatan ekonomi suatu daerah. Berdasarkan BPS, lebih dari 50% distribusi PDRB Indonesia terpusat di pulau Jawa, sekitar 20% di pulau Sumatra, dan sisa presentase PDRB Indonesia terdistribusi di pulau-pulau lain. Hal ini menunjukan tingkat kesenjangan aktivitas ekonomi yang tinggi.

Meskipun Indonesia timur memiliki PDRB yang rendah, terdapat potensi pertumbuhan ekonomi yang besar. Untuk memanfaatkan potensi tersebut, pemerintah mengemas instrumen kebijakan untuk mengintegrasikan sistem transportasi lokal dan nasional, seperti tol laut, dengan tujuan menghubungkan skema perdagangan Indonesia bagian barat dan bagian timur. Namun demikian, ada beberapa trade-off yang harus dilakukan. Salah satu dilema pemerintah ialah, dalam alokasi investasi yang terbatas, menjawab pertanyaan hal mana yang harus diprioritaskan, pembangunan sistem transportasi laut atau infrastruktur di Indonesia Timur. Penelitian Ni Luh mengambil perspektif dari kontribusi transportasi pada pertumbuhan ekonomi lokal.

Gagasan yang diusung pembicara kali ini ialah mengoptimisasi sistem transportasi untuk menjawab dilema di atas. Beberapa aspek yang penting untuk dipertimbangkan ialah komposisi armada kapal (meliputi jenis dan kapasitas kapal, jumlah armada, frekuensi pelayaran, rute pelayaran, dan desain kapal) dan ekualitas ekonomi (efek redistribusi pendapatan). Hal yang menarik dalam pembahasan gagasan tersebut ialah memasukan aspek desain kapal dalam mempertimbangkan rute optimal dapat mencapai tingkat redistribusi ekonomi yang lebih tinggi. Terlebih, model sederhana yang telah dikembangkan dapat diaplikasikan. Dengan mengefisiensikan sistem transportasi laut, biaya transportasi dapat diturunkan. Hal ini berdampak pada penurunan harga komoditas strategis di Indonesia Timur, seperti semen. Penurunan harga komoditas berdampak pada peningkatan konsumsi agregat regional, sehingga berdampak positif pada aktivitas ekonomi lokal dan PDRB.

KOPI dilanjutkan dengan diskusi. Indonesia masih menganut kebijakan pasar yang protektif seperti hak eksklusif pelayaran (asas Cabotage) di dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini membatasi daya saing bagi perusahaan-perusahaan swasta, termasuk perusahaan pelayaran serta menurunkan daya tarik bagi investor asing untuk melirik pasar pelayaran dan pasar lainnya Indonesia. Di sisi lain, kebijakan ini membantu melindungi usaha lokal sehingga kontributif terhadap pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur. Hal lain yang menarik ialah adanya interdependensi antara tingkat mobilitas dengan aktivitas ekonomi lokal.

Dari diskusi kali ini, sangat penting bagi pemerintah Indonesia fokus memperbaiki pelayaran domestik. Dalam penyusunan kebijakan, hal ini harus mempertimbangkan juga konteks pelayaran internasional seperti rencana pembangunan Terusan Kra oleh pemerintah Thailand.

KOPI Delft