KOPI Delft – Pengelelolaan Sumber Daya air Terpadu Perkotaan dan Menelusuri Konflik Pembagian Air Sungai Cisangkuy

Oleh : PPI Delft

Delft, NL – Dalam salah satu diskusi yang diadakan oleh PPI Delft pada Jumat, 10 Juni 2016, diutarakan pentingnya Integrated Urban Water Management (pengelolaan sumber daya air perkotaan terpadu) dengan semakin terbatasnya air untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat. Studi kasus yang diangkat ialah mengenai ketersediaan pasokan air yang berkelanjutan bagi PDAM Tirtawening di Bandung yang saat ini dipasok oleh PLTA Cikalong.

Tantangan utama dalam pengelolaan sumber daya air terpadu perkotaan adalah menyatukan semua perencanaan tanpa tumpang tindih dan mengatur prioritas dalam suatu jangka waktu dengan memperhatikan ketersediaan anggaran dan semua pemangku kepentingan. “Semua komponen pada perencanaan harus dilaksanakan,” kata Arieza Akbary Trieputra, mahasiswa MSc Sanitary Engineering UNESCO-IHE dalam paparannya. Yang terlibat dalam sistem terpadu ini bukan hanya pemerintah, namun semua yang menggunakan air dan menghasilkan air limbah. Pemaparannya tentang integrasi manajemen sumber daya air menawarkan landasan berpikir untuk pengaturan air perkotaan sebagai satu kesatuan, di mana tiap pihaknya saling terkait dan mempengaruhi.

Kasus PDAM Tirtawening merupakan contoh nyata konflik yang disebabkan oleh keterbatasan debit air di sungai Cisangkuy. Adanya permintaan untuk penambahan 25% produksi oleh Kota Bandung membuat PDAM Tirtawening harus mencari tambahan pasokan air baku selain dari DAGO Bengkok di Utara, Cisangkuy (Cikalong) di Selatan, dan Cikapundung di kota Bandung yang sebelumnya sudah ada. Pilihan terbaik sumber air berasal dari sungai Cisangkuy yang sebenarya telah dibendung oleh dua PLTA lain di hulu, kemudian masih dibatasi lagi oleh pasokan tambahan air yang digilir 16-18 jam per harinya oleh PLTA Cikalong.

“Setidaknya ada empat aktor yang berkontribusi dalam pengambilan air di kawasan Cikalong, yaitu PDAM Tirtawening, PLTA Cikalong, PDAM Kab. Banjaran, dan aktivitas pertanian,” ujar Nessia Fausta, mahasiswi MSc Water Management TU Delft. Selain PDAM Tirtawening dan PLTA Cikalong, usaha pertanian yang sedang berkembang pesat di area hulu sungai mengambil pasokan air irigasi dari sungai Cisangkuy. Sedangkan di daerah hilir, PDAM Kab. Banjaran juga menggunakan air sungai Cisangkuy untuk kebutuhan Kabupaten Banjaran.

Debit sungai Cisangkuy makin menurun karena musim kemarau dan perubahan iklim. Kualitas air sungai juga semakin buruk dengan banyaknya sampah dan limbah yang dibuang warga ke sungai. Jadi, adakah solusi untuk memenuhi kebutuhan air bagi kota Bandung bagian Selatan? Febya Nurnadiati, PhD Candidate Technology Policy Management TU Delft, memandu jalannya diskusi untuk mencari kemungkinan solusinya.

Ide-ide pun bergulir, mulai dari menyarankan pemerintah untuk membagi-bagi air untuk kepentingan bersama atas dasar pemahaman bahwa air merupakan common good dan bukan commodity sehingga. Selain itu, ada ide yang merasa perlu dibuatnya perjanjian pembagian jatah pasokan air di antara pihak-pihak pengguna air sungai Cisangkuy yang dipantau oleh pemerintah, pembuatan reservoar penampungan air, restorasi hulu sungai, perbaikan kualitas air sungai, pemetaan potensi pasokan air, atau bahkan evaluasi desain bendungan. Salah satu peserta mengingatkan bahwa dalam desain konvensional, pembangunan waduk hanya mempertimbangkan kondisi alam dan teknis fisik bangunan, belum mengacu pada aspek sosial, seperti dinamika pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota.

Diskusi interaktif KOPI Delft ini diselenggarakan rutin oleh para pelajar Indonesia di kota Delft, Belanda, sebagai salah satu sarana untuk memicu ide-ide yang bisa dijadikan solusi bagi berbagai permasalahan di Indonesia. Diharapkan dengan adanya acara semacam ini, terbentuk budaya untuk berdiskusi dan mencurahkan pendapat secara kritis dan membangun.

13343067_10154849596653492_9147288851149281610_n