Liputan KOPI Delft Espresso: Jelajah Batas Dunia

KOPI Delft Espresso: Jelajah Batas Dunia

“Hingga akhirnya setelah mengelana begitu jauh, si musafir pulang, bersujud di samping ranjang ibunya. Dan justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, dia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini terabaikan”–Agustinus Wibowo, Titik Nol

Cuplikan prosa di atas merupakan sebuah bagian dari konten novel Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Ia merupakan seorang jurnalis, novelis, fotografer, di dalam badan seorang traveler. Mulai dikenal publik sejak kiprahnya menjadi kolumnis di Kompas pada rubrik traveling, menerbitkan buku bestseller Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas, hingga menjadi kontributor National Geographic Tiongkok saat ini.

PPI Delft berhasil mengundang Agustinus Wibowo setelah ia menghadiri Frankfurt Book Fair 2015 minggu lalu. KOPI Delft Espresso pada Sabtu, 24 Oktober 2015 dihangatkan oleh cerita-cerita Mas Agus, panggilan akrabnya, tentang identitas negeri, nasionalisme, garis perbatasan, dan travel photography. Tentunya keahliannya dalam mengolah kata-kata saat bercerita membuat para audiens sering terkesima dan terdiam meresapi lantunan pengalamannya di Asia Tengah hingga Papua Nugini. Hal paling menggugah dari makna perjalanan itu sendiri ternyata ia menemukan bahwa betapa berharganya perjalanan berharga ketika ia sudah sampai di destinasi dan menyadari bahwa tiap liku perjalanannya membuat ia makin mencintai untuk berada terus di suatu perjalanan bukan di titik akhir.

Berbagai kisah, filosofi perjalanan, dan pertanyaan menghiasi KOPI Delft pada akhir Oktober ini. Terlihat antusiasme para audiens dari riuh tepuk tangan tiap Mas Agus menjawab secara filosofis sebuah pertanyaan. Bagian menarik juga didapatkan ketika ditanyai ‘nasionalisme’ oleh salah satu audiens. Nasionalisme menurut Mas Agus merupakan hal yang tidak dapat dipilih. Karena kita tidak dapat menentukan dimana kita dilahirkan yang kita tahu bahwa nasionalisme dapat kita pelihara meskipun sejauh apapun kita pergi berkelana karena nasionalisme adalah identitas kita.

KOPI Delft Espresso kali ini merupakan edisi yang spesial dan berbeda karena tema yang diangkat adalah literatur dikombinasikan dengan traveling. Sehingga dapat dilihat bagaimana audiens dan speaker membahas sisi berbeda dari menjadi perantau di luar negeri kita. Akhir kata, Mas Agus berpesan bahwa maknailah sebuah perjalanan dan janganlah takut untuk jatuh karena hal inilah yang akan membuka peluang kita ke hal lain yang tidak pernah terekspektasi. Tetaplah selalu mencintai perbedaan dan jangan sampai terbawa untuk mengotak-ngotakkan itu semua. Karena itulah kekayaan kita yang sebenarnya.

(By: Hafida Fahmiasari)

KOPI Delft Espresso Agustinus Wibowo
Agustinus Wibowo
Foto bersama Agustinus Wibowo
Foto bersama Agustinus Wibowo