Jalan Keluar Turbulensi Ekonomi Perspektif Islam

Delft, Belanda – Kapitalisme telah mengikrarkan dirinya sebagai sistem penumpuk modal. Tragisnya, modal yang ditimbun kaum berpunya ini ternyata menyumbat aliran pasar faktor produksi yakni lahan, tenaga kerja dan uang karena hanya hilir mudik di lantai pasar keuangan dalam bentuk kertas-kertas berharga yang lazim disebut “securites”. Parah…kertas-kertas berangka “ajaib” ini justru yang 95 persen menguasai keuangan dunia, sedangkan sisa-nya itulah yang dipakai pasar untuk bertransaksi riil yakni menukar uang dengan barang atau jasa.

Dalam kolokium PPI Delft 15 Februari lalu yang bertema “Mewujudkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan: Perbandingan Konsep dan Perspektif Islam, pakar ekonomi Islam Dwi Condro Triono, PhD mengulas perkembangan pasar keuangan yang tujuannya menggemukkan uang tanpa melibatkan lahan, barang dan jasa, tenaga kerja serta upah yang umum ada di alur perdagangan.

Dwi Condro Triono berada di Belanda setelah menjadi pembicara pada Konferensi Ekonomi Syariah di Hannover, Jerman pada 9 Februari 2013.

Dosen Ekonomi Islam, IAIN Surakarta ini menjelaskan, lembaga perbankan dirasa kurang cukup memuaskan penggila modal untuk memenuhi kebebasan mereka dalam memiliki, memanfaatkan dan mengembangkan properti. Maka muncullah pasar modal, pasar sekunder, dan pasar derivatif yang berisi para spekulan, yang kertas hutang piutang adalah alat permainannya sementara mengembang biakan uang tanpa produksi adalah tujuannya.

Dwi Condro Triono memberikan penjelasan mengenai ekonomi dalam perspektif Islam.

Namanya permainan, kejenuhan adalah keniscayaan di ujung kelelahan. Pada suatu waktu, penumpukan uang pada pasar uang yang tidak menghasilkan barang dan jasa ini menghasilkan ledakan krisis global, dimana peristiwa terakhir terjadi pada 2008 lalu dan diperkirakan puncak krisis akan terjadi pada 2013 di Amerika Serikat dan Eropa.

Penulis buku “Dosa Investasi” ini menjelaskan periode krisis ekonomi dunia belakangan ini semakin pendek yakni dari yang dahulu dua puluh tahunan kemudian lima tahunan, hingga kini yang hanya dalam hitungan mingguan dan harian akibat inflasi yang berkembang menjadi hiperinflasi.

 

Syariah

“Dalam sistem syariah, bunga dan perdagangan uang yang tidak menghasilkan barang dan jasa melainkan hanya kertas-kertas berharga tidak diperbolehkan,” kata Dwi Condro Triono.

Menurut dia dalam mekanisme pasar syariah, dimana emas dan perak sebagai mata uangnya yang bernilai stabil, menerapkan pasar faktor produksi.

Dengan demikian tidak ada penumpukan modal karena serikat perdagangan atau yang dikenal dengan syirkah dalam khazanah ke-Islaman memberlakukan bagi hasil atas keuntungan suatu usaha.

“Di dalam politik ekonomi Islam arus barang dan jasa serta pasar produksi dibolehkan untuk kekayaan yang terkategori dapat dimiliki individu,” ujar Condro. Barang-barang ini ditetapkan berdasarkan jumlah dan ketergantungan masyarakat terhadapnya.

Sementara barang-barang yang terkategori milik umum seperti sumber-sumber energi dalam jumlah besar, infrastruktur komunikasi dan transportasi, harus dikelola negara untuk membiayai kebutuhan pokok masyarakat, pembangunan industri berat, infrastruktur dan belanja negara serta pemodalan untuk usaha. Dengan demikian, privatisasi akan aset-aset negara kepada pihak swasta tak akan mungkin menjadi gagasan dalam sistem syariah, apalagi untuk dieksekusi.

Kemanfaatan ekonomi syariah telah terbukti selama kurang lebih 1.300 tahun ketika ke-Khilafahan Islam menerapkan sistem tersebut sebelum dunia beralih pada kapitalisme seiring dengan tuntutan masyarakat Barat untuk menganut sekulerisme, jelasnya.

Konselor bidang ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, George Lantu mengatakan sistem ekonomi syariah cukup menarik dan revolusioner.

Namun demikian dia berharap penjelasan konsep mekanisme pasar syariah lebih lengkap dan rinci sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas.

Foto bersama peserta KOPI Delft 7.


5 thoughts on “Jalan Keluar Turbulensi Ekonomi Perspektif Islam

Leave a Comment