KOPI Delft 15 Februari 2013

Mewujudkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan: Perbandingan Konsep dan Perspektif Islam

Jumat, 15 Februari 2013

Pukul : 17.00 ECT – selesai

di Fakultas CiTG TU-Delft, Ruang 2.62

 

Abstrak:

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap sudah cukup baik, yang ditandai dengan indikator-indikator  seperti GDP yang mencapai 6.5% (melebihi pertumbuhan GDP dunia), inflasi yang stabil, jumlah pengangguran yang menurun dan pendapatan per kapita yang terus meningkat. Akan tetapi semua itu bertumpu kepada jumlah penduduk yang besar dan pengurasan sumberdaya alam yang berlangsung secara besar-besaran. Pilar-pilar utama untuk meningkatkan pembangunan bangsa justru mengalami kerapuhan.  The Global Competitiveness Report 2011-2012 menyebutkan bahwa faktor utama yang menghambat bisnis di Indonesia adalah korupsi, birokrasi yang tidak efisien dan buruknya infrastruktur; padahal produksi adalah awal untuk menuju distribusi dan konsumsi. Jika model pembangunan ini dilanjutkan, maka Indonesia dikhawatirkan akan terjerumus menjadi negara gagal sebagaimana laporan The Fund for Peace 2012. Untuk itu diperlukan perubahan paradigm pembangunan. Islam sebagai pandangan hidup menempatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pada posisi yang seimbang. Islam memberikan aturan jelas pada distribusi aset produksi (hulu ekonomi) sehingga ia dapat diakses dengan mudah oleh seluruh warga negara, suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi kapitalis. Selanjutnya dengan aturan yang tegas pula, pertumbuhan itu akan ditingkatkan secara bersama-sama dan didistribusikan secara merata.

Pembicara:

Dwi Condro Triono, PhD adalah seorang ekonom Islam, saat ini mengajar mata kuliah Ekonomi Islam di program doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dan di Fakultas Ekonomi Islam (STEI) Hamfara, yang keduanya terletak di Yogyakarta, dan menjadi dosen pula di Program Pascasarjana di Universitas Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Beliau meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Islam dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), dan belajar studi syariah Islam sejak muda di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rembang, dan Pondok Pesantren Al-Muhsin, Krapyak, Yogyakarta.

Beliau pernah menjadi pengurus MUI Yogyakarta, pengurus organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan pernah menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Beliau telah menjadi pembicara mengenai berbagai isu ekonomi Islam di beberapa negara seperti di Indonesia, Malaysia, Australia dan Jepang. Beliau juga telah menulis dua buku tentang ekonomi syariah, yaitu: Ekonomi Islam vs Ekonomi Kapitalisme dan Ekonomi Islam Madzab Hamfara.

Leave a Comment