Perubahan Fungsi Lahan Pengaruhi Manajemen Pengairan Indonesia

Delft, Belanda – Perubahan fungsi lahan, amblesan lahan dan kenaikan muka air laut sebagai dampak dari perubahan iklim menjadi faktor yang mempengaruhi sistem manajemen pengairan baik di wilayah perdesaan maupun perkotaan.

Hal tersebut disampaikan Dosen Senior bidang Pengembangan Air dan Lahan, Institute for Water Education (UNESCO-IHE), Dr.F.X. Suryadi pada Kolokium PPI Deft yang diselenggarakan pada 2 November 2012 di Room A1b, UNESCO-IHE.

“Penyusunan dan penerapan sistem manajemen pengairan harus dilakukan dengan kajian dan analisis yang tepat dan teliti karena hal ini akan menentukan keberhasilan pengembangan lahan dataran rendah yang banyak kita jumpai di Indonesia,” jelas Dr.Suryadi.

Dr. Suryadi sedang memberikan penjelasan tentang manajemen pengairan

Dicontohkannya, metode drainage by gravity untuk kasus Jakabaring, Palembang (Sumatera Selatan) tidak mungkin dilakukan karena kenaikan muka air laut 0,2 meter per 100 tahun, sedangkan penurunan muka lahan akibat atau subsidence sebesar 100 meter per 100 tahun.

Dr. Suryadi mengatakan morfologi dataran rendah terdapat di berbagai wilayah di tanah air, termasuk ibu kota Jakarta. Lahan dataran rendah rawan mengalami subsidence, terutama jika ada perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali, seperti yang terjadi di Jakarta.

“Pengembangan lahan dataran rendah berdampak pada semakin luasnya area pasang surut air laut. Sistem drainase dan pengendalian banjir juga akan bertambah rumit,” kata Dr. Suryadi.

Menurut dosen yang meraih gelar sarjana Teknik Sipil dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini, subsidence di Jakarta telah mencapai 1,3 meter sepanjang 1991 hingga 1997 di beberapa area. Sehingga banjir yang setiap tahun menyambangi warga Jakarta bukan semata-mata karena tingginya curah hujan dan konstruksi pengendali volume air yang bekerja kurang optimal, melainkan pula penurunan muka lahan sebagai respon dari penggunaana lahan yang tidak sesuai peruntukannya.

Selain itu, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim juga harus diperhitungkan dalam pengembangan wilayah dataran rendah. “Namun, subsidence dan perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali lebih signifikan mempengaruhi zonasi manajemen pengairan dibandingkan perubahan iklim,” kata doktor lulusan Delft University of Technology (TUD) – IHE Delft 1996 ini.

Dr. Suryadi menjelaskan, beberapa langkah teknis dalam rangka manajemen pengairan di wilayah dataran rendah yang dapat dilakukan adalah dengan merekonstruksi penggunaan lahan, penambahan kapasitas sistem manajemen pengairan, pemeliharaan tanggul dan sistem polder, sistem zonasi penggunaan lahan serta penambahan lahan untuk sungai-sungai.

Pengaturan Lahan

Berbagai upaya pencegahan untuk mengendalikan subsidence dan dampak perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya dan Palembang perlu dilakukan untuk mengatasi dampak negatif yang mungkin timbul di masa mendatang.

“Sedangkan untuk perubahan iklim, upaya meminimalisasinya memerlukan cakupan kajian yang lebih luas bahkan global,” tambah Dr. Suryadi. [redaksi]

Leave a Comment