Transplantasi Sustainability dalam Desain Produk

Delft, Belanda – “…Sustainability is like ‘teenage sex’, everybody claims they are doing it, few people actually are doing it. Those that are doing it are doing it badly…” ucap Stevie Heru mengutip Andrew Maynard saat memulai pemaparannya berjudul Introduction to Sustainability Thinking in the Business Organizations: the Application and the Challenges pada Kolokium PPI (Kopi Delft) edisi ke 4, Jumat 28 September 2012.
Menurut alumni Fakultas Industrieel Ontwerpen (IO)/ Industrial Design TU Delft  2009 ini, istilah sustainability memiliki arti yang luas dan senantiasa mengalami perkembangan sesuai konteks masalah yang dihadapi.
Dalam pemaparannya, Stevie menjelaskan beberapa fase yang telah dilalui oleh sustainability yang dimulai pada 1970-an saat sektor industri kimia mencemari lingkungan dengan limbah dan emisi.

Stevie Heru sedang memaparkan konsep sustainability

Berbagai macam ide, analisis dan inovasi lahir mengiringi perkembangannya hingga pada periode hari ini sustainability tak melulu soal menjaga lingkungan tapi juga harus memberi keuntungan secara ekonomi dan memantapkan eksistensi masyarakat.
“Dalam perkembangannya para pakar di dunia akademisi dan praktisi ada yang menambahkan satu mata rantai lagi yakni personal sustainability dan cultural sustainability dengan harapan konsep ini semakin lengkap dalam memandang manusia sebagai subyek dalam lingkungan sekaligus menghargai dan melestarikan nilai-nilai budaya dalam masyarakat yang tak ternilai,” ujar Stevie.
Ketika konsep sustainability diadopsi oleh para desainer produk (barang), masyarakat melihatnya sebagai produk yang eco-oriented. Menurut Stevie berdasarkan survey, produk-produk “hijau” cukup mendapat tempat di kalangan masyarakat secara umum namun kurang dihargai ketika masuk pasar.
“Pandangan yang pro-hijau sering tidak diterjemahkan dalam bentuk tindakan. Survey Simon Spring 2007 menunjukkan 58 persen konsumen sadar pentingnya daur ulang tapi hanya 37 persen dari mereka yang mau membayar lebih untuk barang-barang ramah lingkungan,” jelasnya.
Stevie menjelaskan inovasi harus dimulai dari perumusan ide. Namun ide cemerlang hanya akan menjadi benda abstrak jika tak beranjak ke proses riset dan pengembangan. Namun jika tahap pengonsepan dilangkahi, produk hijau yang miskin, bahkan minus konsep akan gagal karena tidak mengenal dengan baik kebutuhan pasar yang sebenarnya.
“Yang paling parah kalau dua tahap pertama tidak dijalankan tapi langsung ke tahap pemasaran, produk bukan hanya gagal tapi membahayakan bagi masyarakat secara kesehatan dan ekologi,” ujar Stevie.
Sehingga, lanjut dia, untuk menghasilkan suatu produk yang pro pada sustainability tiga proses inovasi harus ditempuh yakni penyusunan konsep (executive), penelitian dan pengembangan (research and development) dan pemasaran (marketing).

 

 

 

 

 

Tantangan
Meskipun ahli bahasa telah menemukan kata dalam Bahasa Indonesia yang sepadan dengan sustainability yakni keberlanjutan, konsep ini tampaknya belum menapak bumi.
Mahasiswa master Petroleum Engineer TU Delft, Richard T Purba mengatakan di Indonesia para penganut aliran keberlanjutan yang umumnya lahir dan dibesarkan di wilayah akademik sering harus gigit jari ketika ide dan desain yang dihasilkan mereka kurang mendapat perhatian di masyarakat umum.
“Inovasi dari mahasiswa atau yang muncul dari universitas kurang laku di pasar. Sementara pihak universitas juga belum terlibat untuk mendukung produk yang dihasilkan,”ujarnya.
Menanggapi hal tersebut peneliti di Fakultas Civil Engineering and Geoscience TU Delft, Senot Sangadji menjelaskan bahwa universitas semestinya dapat memberikan andil dalam rangka menyukseskan penerapan konsep keberlanjutan.
Menurut dia hal tersebut bisa ditempuh dengan memberikan mata kuliah mengenai strategi bisnis dan kewirausahaan (entrepreneurship) serta terlibat dalam penyusunan skema inovasi hingga suatu produk layak ditawarkan di pasar.
“Universitas bisa berperan sebagai mentor bisnis dan teknologi selama masa inkubasi inovasi yang umumnya memakan waktu tiga tahun,” jelasnya.
Stevie tak menampik jika para innovator di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup besar untuk menerjemahkan sustainability dalam bentuk produk berlabel hijau dengan pendekatan berkelanjutan. Namun demikian dia menegaskan di mana pun (di seluruh dunia), solusi yang berkelanjutan selalu berhadapan dengan penolakan, atau setidaknya pengesampingan sehingga pemikiran yang out of the box alias radikal menjadi faktor vital agar sustainability menjadi sesuatu yang berwujud. [redaksi]

Leave a Comment