Menghadang Banjir dari Batavia hingga Jakarta

Delft, NL- “Who in this room believes that banjir in Jakarta can be solved?” tanya kepala seksi Technology Dynamics and Sustainable Development , Technology University of Delft (TUD), Belanda Dr.Wim Ravesteijn kepada para peserta kolokium PPI (KOPI) Delft edisi ke tiga dengan topik “Flood defense management in Jakarta: fighting a losing battle?”, Jumat 31 Agustus 2012.
Puluhan tangan yang mengacung seketika, menjawab pertanyaan Dr.Wim.  Seulas senyum mengembang dari ahli manajemen hidrologi Belanda itu, menandakan dukungannya. Semangat para intelektual muda Indonesia untuk “memerangi” banjir di Jakarta berkobar sudah, sore itu di Zaal A, Fakultas Technology Policy and Management (TPM).

Dr. Wim Ravesteijn sedang memberikan ulasan tentang banjir di Jakarta di KOPI Delft 31 Agustus 2012

Akar masalah
Banjir, ibarat jerawat di wajah Jakarta yang telah berusia 485 tahun. Menggemaskan sekaligus menjengkelkan. Semakin dihindari, banjir semakin melanda. Kota yang di zaman pendudukan Belanda (1619–1949) dikenal dengan Batavia itu seolah-olah sudah kebal dengan serangan banjir.
Penulis buku “For Profit and Prosperity, The Contribution made by Dutch Engineers to Public Works in Indonesia” itu mengatakan penyelesaian masalah banjir di Jakarta tidak hanya membutuhkan peran para ahli keteknikan tapi juga ahli kebijakan.
“Perencanaan pembangunan sudah ada, tapi bagaimana melaksanakannya? Ini butuh dukungan, keterlibatan, dukungan seluruh pemangku kepentingan, yang masing-masing memiliki keinginan, tujuan, harapan yang berbeda-beda,” kata Dr.Wim.
Upaya melawan banjir di Jakarta dimulai hampir empat abad lalu saat Jan Pieterzn Coen mengembangkan Batavia melalui konsep kota tepi laut dengan mambangun kanal-kanal seperti yang ada di Amsterdam. Ratusan tahun berselang, Jakarta masih saja “bersahabat”dengan banjir.
Menurut mahasiswa master Water Management, Institute for Water Education (UNESCO-IHE), Kurniati Widyastuti solusi yang disusun untuk mengatasi banjir di Jakarta harus bertolak dari akar masalah yang sebenarnya terjadi di lapangan.
“Penyebab datangnya banjir bisa sangat kompleks, bisa karena masalah sosial, lingkungan, kebijakan atau kombinasi semuanya. Solusi harus sesuai dengan masalah yang dihadapi,” katanya.

Peserta KOPI Delft dengan serius menyimak paparan dari Dr. Wim

Hal senada juga diungkapkan Dr. Wim yang menjelaskan bahwa suatu solusi bisa saja justru menciptakan permasalahan baru.
“Apa sebenarnya akar masalah banjir di Jakarta dan siapa yang memiliki masalah tersebut harus diketahui dengan cermat karena berbagai pihak memiliki persepsi yang berbeda-beda,” katanya.
Dr. Wim yang menulis disertasi berjudul “The Auspicious Lords of the Waters. Irrigation and the Colonial State in Java, 1832-1942”, terinsipirasi dari sungai Bengawan Solo (Jawa Tengah) menyebutkan beberapa penyebab banjir di Jakarta yang dapat menjadi acuan untuk menyusun jalan keluar persoalan tersebut.
Secara geografis Jakarta yang 40 persen dari total lahannya merupakan dataran rendah rawan terhadap banjir, apalagi ketika musim hujan Monsoon Barat melanda sehingga 13 sungai yang membelah Jakarta akan mengalir menuju Laut Jawa termasuk Ciliwung dan Kali Angke.
Kondisi ini diperparah dengan penggundulan hutan di daerah-daerah tangkapan air sehingga kemampuan lahan untuk menyimpan air hujan bekurang. Pertumbuhan pendudukan yang semakin pesat juga bisa menimbulkan masalah, misalnya karena kebutuhan akan air bersih juga ikut meningkat dimana pemompaan air memicu pengamblesan tanah (subsidence) yang disusul dengan kenaikan muka air laut. Selain itu pembuangan limbah pada saluran-saluran air yang menghambat aliran seperti yang terjadi di Waduk Pluit melengkapi kerumitan penyebab banjir di Jakarta.

Perencanaan
Orang-orang Belanda tampaknya menyadari betul kerawanan Jakarta terhadap banjir sehingga upaya melawan datangnya bencana yang digagas J.P. Coen ini kemudian ditindak lanjuti dengan didirikannya “Burgelijke Openbare Werken” (BOW) atau Departemen Pembangunan Perumahan dan Infrastruktur (Pekerjaan Umum) di Batavia pada 1854.
Dr.Wim menjelaskan, ketika banjir besar melanda Batavia pada 1918, seorang insinyur manajemen perairan Herman van Breen mengusulkan pembangunan Banjir Kanal Timur dan Barat, bertujuan mengendalikan volume air yang melewati Batavia melalui 13 sungai, sehingga dapat mengalir melalui sisi kanan dan kiri daerah tersebut menuju laut. Selanjutnya pada 1919 – 1920 pintu air Manggarai dan Karet (Jakarta Pusat) dibangun dan daerah-daerah rendah ditimbun.
Selain itu ada Oosterslokkan (Ciliwung-Batavia) dan Westerslokkan (Ciliwung-Cisadane) yang dibangun pada awal 1800 serta pintu air Mookervaart di Tangerang yang menghubungkan sungai Cisadane and Cidurian yang dibangun Van Breen, Polderman dan Dumont pada awal 1900 untuk keperluan pengapalan dan membersihkan kanal-kanal di Batavia. Namun Dr. Wim menyayangkan kondisi saluran itu yang saat ini telah terpolusi.
“Mookervaart adalah pintu air kecil tapi fungsinya sangat penting untuk mengendalikan banjir. Dulu ini dibangun untuk pelayaran sekaligus menjaga kebersihan air yang mengalir ke kota tapi sekarang kondisinya sangat berbeda, sudah tercemar, airnya berwarna hitam dan berbau tidak sedap,” ujarnya.

Manajemen terpadu
Manajemen sumber daya air yang terpadu harus dilakukan untuk menghadapi banjir di Jakarta, diantaranya adalah mencari alternatif sumber air bersih sehingga tidak mengganggu kestabilan tanah dan mencegah naiknya muka air laut.
“Pengelolaan daerah tangkapan air yang terpadu juga penting dilakukan secara regional,” kata Dr.Wim.
Pengelolaan tersebut misalnya membangun saluran antarcekungan air untuk mentransfer air yang melimpah di bagian barat Jawa menuju timur Jawa yang kering yang dikenalkan Van Blommestein. Cara ini dapat menambah kapasitas volume penyimpanan air pada cekungan-cekungan sungai, khususnya Ciliwung serta membangun waduk-waduk kecil di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi.
Dr. Wim menambahkan bidang keteknikan saja tidak cukup menjawab soal banjir di Jakarta.
“Manajemen aset untuk pemeliharaan pintu-pintu air dan menjaga agar senantiasa bersih dari limbah harus dilaksanakan dengan baik dengan strategi institusional,” katanya.
Sementara itu resistensi publik dan perbedaan pandangan politik harus diatasi dengan baik dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan melalui manajemen top-down dan inisiatif yang dibangun dari masyarakat (bottom-up), tambahnya.
Menurut mahasiswa doktoral TU Delft pada fakultas Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science Eka Budiarto, setiap pergantian pemerintahan atau kepemimpinan di Indonesia pada tingkat nasional atau lokal hampir selalu diikuti dengan perubahan kebijakan yang menyebabkan suatu pekerjaan tidak tuntas dilaksanakan.
“Banyak rencana yang sudah disusun sejak lama untuk mengatasi banjir di Jakarta tapi tidak selesai juga. Menurut saya ini karena kebijakannya selalu berubah-ubah,” katanya.
Agar perencanaan dapat disusun dengan baik dan pelaksanaan di lapangan dapat berjalan hingga mencapai hasil yang diharapkan, dia menyarankan adanya buku panduan yang berisi uraian mengenai seluruh solusi yang mungkin dilakukan untuk menyelesaikan banjir di Jakarta.
“Buku itu berisi indeks yang terdiri dari berbagai parameter kuantitatif mengenai semua alternatif penyelesaian masalah banjir yang dirangkum dari berbagai sumber dan para pemangku kepentingan. Siapa pun yang menentukan solusi apa yang akan dipakai dapat merujuk pada panduan tersebut sehingga ada dasarnya,” jelasnya.
Eka menambahkan agar tetap konsisten, solusi yang dipilih diatur dengan suatu ketetapan sehingga walaupun ada modifikasi terhadap strategi tersebut tidak melenceng terlalu jauh.

Harapan
Orang-orang Belanda tidak hanya meninggalkan sejarah kolonialisme setelah tiga abad menduduki Indonesia, namun juga mewariskan berbagai rencana untuk membangun Batavia yang aman dari banjir serta beberapa konstruksi hidrologi yang sempat dibangun selama kurun waktu tersebut.

Para peserta KOPI Delft dan Dr. Wim

“Orang-orang Belanda telah melakukan banyak hal, namun mungkin belum cukup,” kata Dr.Wim.
Kondisi Jakarta dengan permasalahan sistem hidrologinya akan semakin rumit. Dia berharap para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan, khususnya di Belanda dapat mengatasi permasalahan bangsa dengan ilmu dan teknologi serta berbagai pengalaman yang diperoleh selama kuliah. [redaksi]

1 thought on “Menghadang Banjir dari Batavia hingga Jakarta

  1. Komentar dari Prof Wim tentang kolokium yang kita adakan;

    It was pleasure to do and I am very glad with so many people attending and the publicity afterwards.

    I understand the “development agenda” of Indonesia will be a red thread in your colloquium the next months. It would be interesting to make a short document (on your website) about that, including a programme.

    Reporting on your website about a colloquium would also be interesting; you could even open a Facebook group to share all information.

    Best, Wim

Leave a Comment