OTEC Energi Masa Depan untuk Indonesia

Delft, NL – Energi panas laut yang teknologinya dikenal dengan sebutan Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) merupakan salah satu sumber energi yang potensial di Indonesia sehingga jika dikembangkan dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang kian meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi.

“Potensi energi laut Indonesia mencapai 35 kW per meter garis pantai, terdiri dari energi gelombang, arus laut, pasang surut dan OTEC,” kata mahasiswa master program Offshore Engineering pada Mechanical, Maritime and Materials Engineering Faculty, TU Delft, Muhammad pada Kolokium PPI Delft ke 2 yang diselenggarakan 6 Juli lalu.

Sesi penjelasan Bluerise Project di laboratorium Process & Energy, TU Delft

OTEC memanfaatkan energi matahari yang diserap lautan dan dengan pertukaran panas antara air hangat di permukaan laut dengan air dingin di laut dalam, mengubah panas menjadi listrik sesuai dengan Siklus Rankine.

Oleh sebab itu daerah potensial energi panas laut adalah kawasan khatulistiwa, termasuk Indonesia, di mana perbedaan suhu sepanjang tahun mencapai 20 derajat selsius.

Muhammad menjelaskan peluang investasi pengembangan energi laut cukup bersaing jika dibandingkan sumber-sumber energi terbarukan lainnya seperti tenaga air skala besar yang membutuhkan biaya 1.500 – 2.000 dolar AS/kW, mini/mikro hidro 1.000 – 2.000 dolar AS/kW, panas bumi 910 – 1.500 dolar AS/kW.

Biaya investasi energi laut 500 – 1.000 dolar AS per kW sedangkan harga per kWh sebesar 0,045 – 0,09 dolar AS, kata Muhammad yang saat ini bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Tapi sampai saat ini belum ada energi laut yang diinstalasi,” kata lelaki yang akrab disapa Cak Muh ini, seraya menambahkan potensi panas yang dihasilkan panas laut sebesar 2,5 x 1023 joule dengan efisiensi listrik 3 persen atau hampir setara 240.000 MW.

Menurut dia potensi energi panas laut yang dimiliki Indonesia terbentang mulai laut di selatan Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sulawesi yakni antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, Laut Banda (Kepulauan Maluku) hingga Laut Arafura.

“Ini potensi yang begitu besar peluang bisnisnya terbuka lebar,” katanya.

Sementara itu Chief Technology Officer (CTO) sekaligus co-founder Bluerise, perusahaan spin-off TU Delft, Berend Jan Kleute pada pemaparannya di sesi ke dua KOPI Delft mengatakan pengembangan OTEC dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena sebagian besar populasi dunia mendiami wilayah dekat laut atau pantai.

“OTEC memungkinkan orang-orang di negeri-negeri tropis untuk seratus persen mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi mereka,” katanya.

Berend sedang menjelaskan cara kerja OTEC generator di laboratorium Process & Energy TU Delft

Salah satu keutamaan OTEC dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya seperti tenaga angin dan surya, adalah panas laut tersedia sepanjang siang dan malam. Ini adalah keuntungan bagi pulau-pulau tropis yang umumnya memiliki jaringan listrik terbatas, terisolasi serta tidak mampu menanggung pembagian beban daya yang tidak menentu.

Dia melanjutkan teknologi OTEC juga akan mendukung dan mempercepat pertumbuhan ekonomi karena 24 persen pengembangan industri berada di kawasan pesisir atau laut seperti transportasi dan pariwisata.

Potensi OTEC sangat luas. Satu meter persegi luas permukaan samudra rata-rata menerima sekitar 175 watt iradiasi surya. Dengan demikian jumlah total tenaga surya secara global yang diterima sekitar 90 petawatts. Angka ini lebih dari 6.000 kali penggunaan energi total dunia. Jika kita hanya memanfaatkan sebagian kecil dari energi itu, kita sudah punya cukup daya untuk kebutuhan dunia.

“Tapi sejauh ini OTEC belum dikomersialkan,” katanya.

Berend mengatakan sebagai upaya komersialisasi OTEC saat ini Bluerise tengah mengerjakan proyek pembangunan Ecopark dan instalasi OTEC di Curaçao, sebuah pulau di selatan Laut Karibia, di lepas pantai Venezuela.

Lelaki yang menyelesaikan program master di program Offshore Engineering, TU Delft ini berharap dapat menerapkan teknologi OTEC di Indonesia melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Berend, Muhammad, pak Ramon Mohandas bersama peserta diskusi Kopi Delft 6 Juli 2012

“It was a pleasure to join a Kolokium organized by PPI Delft and present about Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), a promising renewable energy solution for Indonesia. We had interesting discussions and received valuable feedback from the people attending the Kolokium. It also provided a nice platform to share information and further enhance collaboration in enabling sustainable energy solutions in Indonesia. Bluerise would like to thank PPI Delft and all attendees for their enthusiasm in making this Kolokium a success!”, tulis Berend di surel yang diterima Redaksi PPI Delft sehari setelah KOPI Delft digelar. [redaksi]

1 thought on “OTEC Energi Masa Depan untuk Indonesia

Leave a Comment