Porous Network Concrete, Solusi “Menyembuhkan” Beton

Delft, Belanda, 24 Juni 2012 – Alih-alih menerapkan perbaikan secara konvensional (manual) pada beton yang mengalami  retakan akibat pembebanan atau deformasi, porous network concrete merupakan salah satu metode “penyembuhan otonomi” pada material  yang dikenal dengan self-healing concrete.

Self-healing concrete memungkinkan perbaikan pada beton tanpa intervensi manusia sehingga prosesnya lebih efisien dari segi waktu dan biaya, juga aman terutama untuk bangunan-bangunan seperti nuclear waste depository,” kata Senot Sangadji pada Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang diselenggarakan pada Jumat (15/6) lalu.

Metode perbaikan deformasi pada beton yang saat ini tengah ditelitinya di Microlab, Materials and Environment Section, Faculty of Civil Engineering and Geoscience, TU Delft ini meniru proses penyembuhan tulang ketika mengalami luka.

Senot Sangadji sedang menjelaskan Porous Network Concrete

Senot, yang menjadi salah satu finalis pada Delft Innovation Award pada Desember 2011 silam menjelaskan tubuh manusia khususnya tulang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan secara alami. Struktur tulang yang terdiri dari bagian yang keras pada bagian luar dan bagian yang lunak (seperti spons) pada bagian dalam tersusun atas jaringan yang mempunyai berbagai fungsi untuk proses penyembuhan.

Ketika tulang mengalami luka (retak atau patah), dalam beberapa menit darah akan membeku dan terjadi peradangan sebagai reaksi awal terbentuknya jaringan tulang lunak baru yang menyambung bagian yang patah sehingga akhirnya terbentuk tulang baru.

“Seperti tulang, self-healing concrete memiliki lapisan porous pada dan dalam struktur beton disertai sensor untuk mendeteksi dan mengirim sinyal ke komputer mengenai ukuran dan lokasi retakan,” jelas Senot yang merupakan dosen Teknik Sipil di Universitas Negeri Solo (UNS).

Setelah itu epoksi atau healing agent berbahan dasar semen diinjeksi melalui sistem vesikular yang telah dipasang sebelumnya dan mengisi celah akibat rekahan sehingga menambah kekuatan beton.

Beton yang retak
Preparat penelitian

 

Hasil Penelitian

Menurut Senot dari segi lingkungan cara ini lebih baik dilakukan untuk memperpanjang usia beton dibandingkan dengan metode recycling karena ramah lingkungan.

Dia menjelaskan 100 kilogram beton yang diproduksi menyumbang 20 kilogram emisi CO2. Padahal material ini merupakan salah satu yang paling banyak digunakan manusia di Bumi dan hingga kini mencapai tujuh milyar meter kubik.

“Dengan self-healing concrete kita bisa menjaga lingkungan dan sumberdaya alam juga hemat biaya,” kata Senot.

Walaupun demikian dirinya mengakui masih banyak hal yang harus diteliti lebih lanjut agar metode ini dapat diterapkan secara optimal.

Peserta Kopi Delft 15 Juni 2012 bersama pemberi materi Senot Sangadji (tengah).

“Ini pekerjaan multi-disiplin. Jadi saya tidak bisa bekerja tanpa dibantu orang-orang yang paham, misalnya sistem kontrol untuk men-set up sensor yang lebih akurat dalam mendeteksi crack pada beton,” kata Senot yang selama penelitiannya bekerja sama dengan Dr.Erik Schlangen dan sejumlah pakar lainnya.[redaksi]

Leave a Comment