Oleh-Oleh dari Groenscup 2012 (1)

Cerita dan harapan dari para atlet dan supporter

Segenap warga Delft tentu tak akan pernah lupa saat para atlet kebanggaan mereka berhasil memboyong piala GroensCup pada 2011 silam. Namun betapa pun besar harapan untuk mempertahankan gelar juara umum pada olahraga pelajar Indonesia paling bergengsi di benua Eropa tersebut, piala yang bak bersepuh emas itu harus berpindah tangan ke tim Masyarakat Badminton Indonesia (MBI) yang sukses menambang dua medali emas.

Piala Groenscup 2012 (sumber foto FBgroup PPI-G)

Hasil GroensCup 2012 yang tak selegit 2011 lalu tak sepenuhnya disesaki dengan kekecewaan karena perjalanan menuju kompetisi yang diselenggarakan di ACLO Sports Center, Blauwborgje 16, 9747 AC Groningen pada 25-26 Mei itu diselipi cerita menarik nan menggelikan terutama yang dialami oleh para atlet dan pendukung yang turut hadir pada saat mereka berlaga. Simak kisah mereka dari hasil wawancara redaksi PPI Delft dan catatan perjalanan PPID 1.

Andalan

Cabang badminton menjadi satu-satunya penyelamat tim olah raga PPI Delft setelah semua atlet tumbang di tangan para pemain lawan di laga basket, capsa dan futsal. Satu emas di nomor tunggal putri yang berhasil dibawa pulang adalah hasil perjuangan Agustina Linda Setiawati atau yang lebih akrab disapa Linda.

Meskipun emas telah diraihnya, Linda mengakui jika dirinya agak ragu bisa keluar sebagai juara karena lawan yang dihadapinya tak bisa dianggap sepele. Apalagi saat bertanding perempuan yang telah memegang gelar master di bidang Information Architecture dari TUD ini harus memberikan perlawanan ketat ketika menghadapi Chandra dari tim Belgia.

Linda (Delft) & Chandra (Belgia) sebelum bertanding di laga final badminton tunggal putri

“Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk jadi juara lagi. Tentunya senang bisa menang lagi,” ujar Linda menanggapi kemenangannya.

Di cabang ini pula, di nomor tunggal putra PPID berhasil meraih perak melalui sabetan raket Ismail Habib Muhammad yang pada putaran final terpaksa takluk di tangan Brian dari MBI.

Berbeda dengan kondisi dunia bulutangkis di tanah air tercinta yang kian tak menentu, kemenangan yang diraih dua atlet yang telah berkali-kali berlaga atas nama PPI Delft ini merupakan sinyal kuat bahwa badminton menjadi andalan cabang olahraga bagi PPID untuk meraup kemenangan pada berbagai kompetisi yang diselenggarakan komunitas Indonesia di negeri perantauan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Linda yang telah empat kali bertanding di GroensCup berharap munculnya para atlet badminton yang membela nama PPID di ajang-ajang olahraga.

“Saya cuma bisa berharap saja semoga di tahun-tahun depan makin banyak warga PPI Delft yang gemar badminton, tentunya yang lebih dari sekedar fun,” harapnya.

Sementara itu, Habib yang juga tangkas di lapangan badminton menyatakan kegembiraannya dapat membela PPI Delft.

Aksi Habib (sumber foto FBgroup PPI-G)

“Saya sudah cukup senang karena bisa main untuk PPI Delft sejak 2009, banyak meninggalkan memori yang berkesan,” kata lelaki lulusan jurusan Media Knowledge Engineering, TUD ini.

 

Menanti atlet-atlet muda

Piala GroensCup tak lagi berada di kota Delft tempatnya semula berdiam. Lambang supremasi olahraga para pelajar Indonesia paling bergengsi di benua Eropa itu telah menemukan “rumah” barunya di Den Haag tempat bercokolnya MBI yang keluar sebagai juara umum pada GroensCup 2012.

Sang PPID 1 Sayuta Senobua yang setia mendampingi kontingen olahraga kebanggaan PPID menilai pupusnya harapan para atlet di laga 2012 ini selain karena kurang berlatih dan lawan yang cukup kuat, juga disebabkan absennya para atlet muda.

“Komposisi tim basket kita pemain gaek, dan ada juga pemain yang tinggal di luar Delft,” jelasnya.

Hal serupa juga terjadi di cabang futsal dimana tim PPID dihadapkan pada para pemain muda PPI Rotterdam yang telah mengantongi banyak jam latihan dengan fasilitas yang mendukung serta pemain pengganti yang cukup banyak pada babak perempat final.

Harapan agar tim PPID diperkuat para atlet muda juga terlontar dari Linda, peraih satu-satunya emas di cabang badminton.

“Saya pikir-pikir dulu deh (untuk bisa bertanding di GroensCup 2013-red). Semoga saja ada nama-nama baru muncul untuk ajang-ajang olahraga selanjutnya,” ujarnya.

Perempuan yang pada GroensCup setahun lalu juga menyabet emas ini mengakui selama kurun waktu belakangan ini dirinya jarang melihat mahasiswa PPID bermain badminton di sport centrum TU Delft. Dia menyimpulkan minat para pelajar untuk bermain badminton yang lebih dari sekadar having fun semakin menurun.

Habib sebagai juara kedua badminton tunggal putra

Khusus untuk badminton Habib, peraih medali perak di nomor tunggal putera mengakui adanya penurunan jumlah peminat olahraga tersebut dari tahun ke tahun.

Padahal menurut dia persiapan untuk bertanding di kegiatan kompetisi olahraga cukup dilakukan dengan latihan rutin walaupun tidak ada turnamen. Selain di klub USSR atau klub badminton TU Delft, latihan dapat dilakukan bersama komunitas MBI di Den Haag seperti yang dilakukan Linda seminggu sekali.

“Kalau memang sudah hobby pasti latihan juga bisa dinikmati,” pungkas Habib.

Sementara itu Ketua Divisi Olahraga PPI Delft Sutjianto Buntoro mengatakan divisinya tengah melakukan upaya penggalian minat dan bakat olahraga dari para pelajar di se-antero Delft selain cabang futsal.

“Semoga ke depannya banyak atlet bermunculan terutama atlet perempuan,” ujar Sutjianto. [redaksi]

Leave a Comment