KOPI Delft 26 November 2010

Dear rekan-rekan PPI Delft,

Minggu ini kita akan menikmati lagi Kopi Delft yang akan diadakan pada
Hari Jumat, 26 November 2010
Waktu 16.00 — 18.00 CET
Lokasi Ruang B1 Gedung IHE Delft.

[mappress mapid=”6″]

Pembicara Bpk Indrasurya B. Mochtar dengan topik
Theory of Logic

Ini adalah salah satu bagian dari bahan yang diajarkan (oleh pak Indrasurya) pada Program Pascasarjana di Jurusan Teknik Sipil ITS yang intinya adalah untuk mengajak semua mahasiswa pasca sarjana untuk menggunakan logika sekeras mungkin dalam mencari kebenaran. Terlebih lagi bagi mereka yang memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan S-2 dan S-3, seyogyanya semua argumentasi haruslah didasarkan pada logika yang dapat mereka buktikan dan pertahankan, bukan lagi atas dasar kepercayaan, keyakinan lain, atau menurut dasar instinct dan feeling yang tidak dapat mereka buktikan.

Tetapi, apakah kebenaran itu? Bagaimana sebetulnya cara menalarnya?

Kebenaran adalah pada kenyataannya bertingkat-tingkat, mulai dari kebenaran yang terendah, terus meningkat s/d kebenaran yang tertinggi. Tetapi setiap yang dianggap benar itu belum tentu benar. Pada kenyataanya, kebenaran itu sendiri hampir tidak pernah mutlak, yang ada umumnya hanya konsensus. Apa yang sekarang dianggap benar itu adalah yang secara konsensus sa’at itu dianggap benar, padahal belum tentu benar. Nanti akan datang kebenaran yang lebih tinggi, yang akan menggantikan kebenaran yang lama, atau akan melapisinya dengan kebenaran yang baru, dan begitu selanjutnya. (Walaupun pada kenyataannya, kebenaran yang baru itupun belum tentu dapat diterima oleh semua pihak). Contoh yang paling sederhana adalah kebenaran matematika, yang mulai dengan tingkat yang paling sederhana: ilmu berhitung ditingkat yang paling rendah, menjadi ilmu ukur, kemudian meningkat menjadi ilmu matematika yang lebih tinggi spt., calculus, advanced calculus, dst.

Cara penalaran untuk meninjau suatu kebenaran ialah dengan cara selalu berpikir sekuat logikanya, untuk mencari tingkat kebenaran yang lebih tinggi, kalau bisa. Di sini haruslah dibuka semua mata hati dan pikiran, hilangkan semua prujudice (prasangka) dan angapan lama yang tidak memiliki dasar logika. Buka semua mata hati dan pikiran terhadap semua pandangan orang lain dan ilmu pengetahuan di luar, dan dengan rendah hati (se-“humble” mungkin) memandang semua orang lain memiliki kebenaran dibalik segala pendapat mereka. Jadi manusia tidak boleh saling bertengkar, apalagi sampai berkelahi, berperang dan saling membunuh, karena merasa lebih benar dan orang lain salah. Yang ada bukanlah salah atau benar, tetapi hanya beda persepsi. Semuanya belum tentu benar, dan semuanya bisa salah. Mengapa harus bertikai?

Pada materi ini akan diberikan contoh-contohnya bagaimana kebenaran yang ada selama ini dalam pandangan masyarakat, terutama dalam pandangan beberapa
pemeluk agama, yang seringkali menolak keras untuk melakukan penalaran, walaupun kenyataanya sudah terlalu gamblang secara logika tidak masuk akal. Mereka tetap bersikeras untuk bertahan pada tingkat tertentu, tidak mau untuk melihat bagaimana kebenaran itu pada tingkat yang lebih tinggi (lebih haqiqi).

Pada contoh-contoh juga diberikan cara melihat kebenaran itu berdasarkan Teori Relativitas Einstein, dan kemudian akan diusahakan untuk dibuka bagaimana cara
memandang tentang alam-semesta itu sendiri berikut kehidupan yang ada. Pada akhirnya seorang yang berpendidikan tinggi haruslah mengupayakan sekeras mungkin
untuk selalu berlogika, tetapi dengan “open mindedness dan humbleness” untuk selalu siap belajar menerima pendapat yang baru, dan siap untuk berganti dari kebenaran yang lama (yang tingkatnya lebih rendah) menuju kebenaran yang tingkatnya lebih tinggi. Pada kenyataannya, kebenaran itu bisa datang dari mana saja, kalau seseorang mau berpikir-keras dan berlogika; dan kebenaran itu tidak dengan sendirinya menjadi benar, walaupun itu datang dari mulut seorang kyai, pastor, atau pedanda. Diperlukan cara memandang yang sangat kritis, berdasarkan segala kekuatan logika dan penalarannya, terutama sekali untuk mereka yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi S-2 dan S-3 (sebagai elite dari highly educated people).

Juga dengan pengelan cara ini, akan ditekankan bahwa manusia dan kemanusiaan itu sendiri adalah sesungguhnya “nothing” dibandingkan dengan kenyataan yang bisa dinalar, dan manusia itu tidak dapat benar-benar tahu apakah dunia dan alam semesta itu nyata (real) atau hanya ilusi (virtual). Jadi, selama masih hidup (atau, minimal merasa masih mengalami kehidupan di dunia) manusia tidak pernah boleh merasa congkak dan sombong atas semua yang dia capai (kedudukan, kepemilikan, keluarga, harta, kepandaian, dan lain-lain). Seorang manusia tidak boleh merasa benar sendiri, dan merasa apa yang ada berhubungan dengan dirinya adalah otomatis benar, orang lain itu salah, sehingga saling menyalahkan. Manusia hanya bisa selalu merendah hati, tapi selalu berusaha sekuat tenaga dengan akal-pikiran (logika) untuk berupaya menguak kebenaran yang lebih haqiqi. Hidup ini hanya relatip sangat singkat, and it may not be a real one. The “real life” after death is the one that really matters. So, when you think about life, please think also about the real life afterwards.

Leave a Comment