Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft) 8

Laporan Pandangan Mata Kolokium PPI Delft (KopiDelft)

Jumat, 24 April 2009

16.00-18.00

Ruang CiTG 4.02

Stevinweg 1, 2628 CN

Delft

oleh Dedy H.B. Wicaksono

Dilema lulusan Perguruan Tinggi di Luar Negeri: Antara pulang ke tanah air dengan bekerja di luar negeri

Para mahasiswa Indonesia yang kini tengah melanjutkan studinya, baik dalam tingkatan S-1 (Sarjana), maupun pasca sarjana (S2, dan S-3), tidak selalu harus langsung pulang kembali ke Indonesia, setelah kelulusan mereka dari studinya. Demikian dikatakan Dr. ir. Kamarza Mulia dalam kesempatan kolokium Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft (KoPI Delft) yang diselenggarakan beberapa hari lalu, bertempat di gedung fakultas Sipil dan Ilmu Kebumian, Universitas Teknologi Delft (TU Delft).

Dr. Kamarza yang kini melakukan riset post-doktoralnya di Departemen Prosses dan Energi TU Delft ini juga berpendapat bahwa selama masa studinya, para mahasiswa kita juga mesti giat membangun jejaring baik dengan sesama pelajar/mahasiswa Indonesia di Luar Negeri, maupun dengan pihak-pihak yang terkait dengan bidangnya di tempat dia belajar. “TGALNG – Think Globally, Act Locally, Network Globally”, demikian semboyan yang dipromosikan Dr. Kamarza pada kesempatan KoPI Delft Jumat 24 April lalu.

Untuk menguatkan proposisinya akan pentingnya TGALNG dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia untuk kemajuan Indonesia sendiri, Kamarza mengemukakan ‘coklat’ sebagai salah satu contoh kasus. Saat ini komoditas coklat produksi Indonesia hanya diekspor sebagai produk mentah dengan harga yang sangat murah. Sementara, coklat olahan yang berharga lebih mahal, belum dapat diekspor oleh Indonesia, di samping karena keterbatasan teknologi pengolahan yang dimiliki Indonesia, juga karena proteksi oleh negara-negara Eropa, misalnya, yang menerapkan bea masuk yang tinggi untuk produk olahan coklat. Di sini, sebenarnya, para pelajar Indonesia yang tengah berada di Eropa dapat mulai ‘bergerilya’ menjalin jejaring dengan pihak-pihak terkait di Eropa, untuk merintis kerjasama teknologi maupun bisnis ekspor-impor produk coklat olahan dari Indonesia ke Eropa.

Selain itu perguruan-perguruan tinggi di Eropa tempat para pelajar Indonesia menuntut ilmu, sebenarnya merupakan perguruan tinggi unggulan yang sumber dayanya mesti dimanfaatkan para pelajar ini dalam menjalin jejaring sejak masa studi mereka. Kamarza, yang juga adalah staf departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia ini, mencontohkan TU Delft, misalnya, yang berdasarkan data, alumninya telah mendirikan 3874 perusahaan berbasis sains dan teknologi dalam kurun waktu 1985 – 1999. Sekalipun pada akhirnya tidak semua perusahaan tersebut bertahan hingga kini, namun hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara alumni dengan alma maternya. Keterkaitan erat ini menyebabkan hasil penelitian dan kerja di TU Delft termanfaatkan secara nyata dan komersial, tidak sekedar berhenti hanya sebagai tesis dan disertasi.

Dalam hal peningkatan kualitas pelajar/mahasiswa lewat perguruan tinggi tempat mereka belajar, Kamarza juga menekankan pentingnya aspek kecakapan proses, di samping kecakapan teknis. Kecakapan proses ini misalnya adalah kemampuan lulusan perguruan tinggi tersebut dalam berkomunikasi secara efektif, serta kemampuannya untuk beradaptasi dan meningkatkan kapasitas dirinya untuk pencapaian yang lebih besar. Saat ini berbagai institusi atau usaha baik dalam maupun luar negeri telah secara eksplisit mencantumkan persyaratan-persyaratan proses ini. Universitas Indonesia sebagai instansi Kamarza sendiri mencantumkan pengabdian masyarakat sebagai salah satu kriteria lulusannya. Demikian pula dengan sertifikasi ABET bagi perguruan tinggi bidang teknik, juga mencantumkan syarat kecakapan proses pada lulusan. Sementara di dunia bisnis, SHELL, misalnya, mencantumkan persyaratan keahlian komunikasi, peningkatan kapasistas diri, di samping persyaratan teknis, untuk rekrutmen tenaga kerjanya.

Dengan adanya kondisi seperti yang diterangkan di atas, Kamarza mengusulkan agar para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kini tengah menjalani studinya di luar negeri, memiliki kurikulum pengembangan diri yang terencana dan jelas.

Sebagai contoh, Kamarza menjelaskan bila seseorang ingin berkarir di bidang akademik atau penelitian, maka kurikulum ini berupa perjalanan karir saat menjalani studi doktoral, kemudian pasca-doktoral (post-doctoral), kemudian aktifitas litbang di perguruan tinggi, atau di perusahaan, dengan puncaknya berupa menjalani aktifitas riset yang mandiri. Pada tiap tahapan ini, orang yang bersangkutan mesti memiliki target capaian yang jelas. Misalnya saat pendidikan doktoral, dan riset pasca-doktoral digunakan untuk mengumpulkan pencapaian berupa kertas ilmiah di jurnal-jurnal maupun konferensi ilmiah. Saat menjalani aktifitas riset di dunia akademik ataupun dunia usaha, bagaimana kita dapat mengumpulkan keahlian memecahkan masalah serta keahlian dalam berinteraksi dengan orang lain, serta mulai membangun jejaring dengan berbagai pihak. Dan dalam setiap tahapan ini, kita dapat memilih apakah berada pada satu perusahaan/universitas yang sama, atau berpindah ke negara yang lain, atau di Indonesia, atau malah mendirikan usaha sendiri. Jenjang serupa dapat direncanakan pula bagi mereka yang merencanakan karirnya sebagai profesional di bidangnya masing-masing.

Menurut Kamarza, setelah menjalani proses penempaan melalui kurikulum pribadi ini, diharapkan pada saatnya, orang-orang tersebut mencapai tingkat kemapanan tertentu. Ketika mereka pulang ke tanah air, mereka pun dapat mengangkat rekan-rekan di sekitarnya.

Melihat potensi pelajar dan mahasiswa Indonesia saat ini yang tersebar di berbagai negara, Kamarza berharap bahwa di tahun 2025, Indonesia akan mulai meraup buahnya, berupa tumbuhnya perusahaan-perusahaan kecil menengah berbasis sains dan teknologi. Kamarza membandingkannya dengan Taiwan yang di tahun 1980-an dan 1990-an memiliki banyak mahasiswa doktoral di luar negeri, dan kini menikmati pertumbuhan ekonomi dengan tumbuhnya industri bernilai tambah tinggi.

Menutup uraiannya sore itu, Kamarza menilai bahwa kontribusi membangun tanah air dapat dilakukan baik dengan bekerja di luar negeri, maupun dengan pulang kembali untuk bekerja di dalam negeri.

Uraian Dr. Kamarza diikuti dengan sesi tanya jawab yang cukup hangat dengan segenap partisipan KoPI Delft sore itu.

Duddy Ranawijaya, salah seorang partisipan KoPI Delft sore itu, yang juga adalah mahasiswa S-3 jurusan Geologi TU Delft, beranggapan bahwa jalur karir yang diusulkan Kamarza terlalu lurus. “Pada praktiknya, karir kita justru dipenuhi kegagalan, dan tak mungkin selurus semulus itu”, demikian tandas Duddy, yang di Indonesia adalah staf Puslitbang Geologi Kelautan, Departemen Energi Sumber Daya Mineral.

Menjawab hal ini, Kamarza mengemukakan bahwa memang model karir yang ia usulkan tidaklah selurus apa yang terlihat. Saat seseorang menjalani aktivitas riset atau aktivitas profesional lapangan, di mana ia harus menempa kemampuan pemecahan masalahnya, tentu saja ini adalah suatu siklus kegagalan dan keberhasilan. Menurut Kamarza, seseorang yang hebat adalah ia yang tahu sampai di mana dirinya tahu, dan tahu pula sampai di mana ia tidak tahu.

Tanggapan berikutnya datang dari Yugi Sukriana, ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Delft, yang juga adalah mahasiswa S-2 di jurusan Analisis Kebijakan Teknis TU Delft. Yugi menyampaikan pendapat mantan penasihat presiden Clinton, yang beranggapan bahwa pendidikan di negara berkembang bukannya malah menjadi Way-Up (jalan menuju keberhasilan), tetapi justru menjadi Way-Out (jalan lari), atau larinya SDM unggul dari negara-negara tersebut.

Sementara Gea Parikesit, salah seorang peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memiliki pendapat yang sedikit berbeda dengan Kamarza. Menurut Gea, semakin lama seseorang berada di Luar Negeri, akan semakin susah baginya untuk pulang kembali ke Indonesia untuk dapat berkontribusi langsung. Hal ini disebabkan kemampuan teknisnya yang lebih terbiasa menyelesaikan masalah di Eropa, misalnya, ketimbang masalah Indonesia.

Salah seorang karya siswa Perusahaan Listrik Negara (PLN) di TU Delft, Dwi Hartono, menyampaikan perbincangannya dengan seorang mahasiswa Ethiopia di TU Delft. Menurutnya, negara maju, seperti Belanda, sengaja memberikan ‘perangkap’ beasiswa untuk membiayai SDM-SDM unggulan negara berkembang untuk berkarya di negara-negara maju tersebut.

Menjawab tanggapan-tanggapan kritis ini, Kamarza memang tidak memberikan suatu alternatif solusi atau tanggapan yang pasti. “It’s life!” jawab Kamarza secara singkat.

Bagaimana kalau bidang yang kita pelajari tidak ada di Indonesia?” demikian Wuri Nastiti, seorang mahasiswa S-2 departemen arsitektur TU Delft yang akan segera merampungkan studinya tahun ini menyampaikan uneg-unegnya.

Kamarza menjawab bahwa tidak mesti apa yang kita lakukan nanti di Indonesia harus selalu sama dengan yang tengah kita lakukan di Luar Negeri saat ini. Pada dasarnya, pendidikan tinggi menyiapkan kita untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) sesuai dengan kondisi masalah tersebut, demikian Kamarza meyakinkan Wuri dan partisipan KoPI Delft lainnya.

Marwan Wirianto, mahasiswa doktoral yang ‘bebas’ menyampaikan pertanyaannya terkait dengan kemampuan skill apa yang perlu dipersiapkan untuk dimiliki. Partisipan KoPI Delft lainnya, Hadiyanto, periset pasca doktoral yang juga staf Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, menjawab bahwa mahasiswa Indonesia perlu mengembangkan Unique Selling Point- (USP)-nya masing-masing. Artinya, kemampuan unik yang dapat ia tawarkan atau sumbangkan di kemudian hari untuk pemecahan masalah sebagai peneliti atau pun sebagai profesional.

Menutup diskusi yang hangat pada sesi KoPI Delft kali ini, Kamarza mengumpamakan perantauan para mahasiswa Indonesia di luar negeri ini layaknya seorang calon pendekar yang tengah merantau dari satu perguruan silat ke perguruan silat yang lain. Suatu saat nanti, ketika benar-benar menjadi pendekar, barulah ilmu atau kecakapan yang didapat dari berbagai tempat tadi akan diketahui manfaat dan kegunaannya. Karena itu, ke mana pun jalur karir yang dipilih, apakah pulang balik ke tanah air, atau pun meneruskan karir dengan bekerja di luar negeri, semua memiliki aspek kelebihan dan kekurangan. “Setiap pilihan memiliki paketnya masing-masing,” tutur Kamarza menutup diskusi di sore yang hangat itu.

KoPI Delft adalah acara kolokium dwi-mingguan yang diselenggarakan PPI Delft sebagai sarana berbagi pengalaman di antara anggotanya, dikaitkan dengan konteks keindonesiaan.

Leave a Comment