Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 6: “Desain dan Fabrikasi Sensor Konsentrasi Gula dalam Tebu Berbasis Kristal Fotonik Satu Dimensi: Sebuah Upaya Membangun dari Teori hingga Realisasi di Indonesia”

(oleh: Gea Parikesit)

Dr. Husin Alatas berbagi di KoPI Delft
Dr. Husin Alatas berbagi di KoPI Delft

“Kolaborasi antara pihak industri dan pihak universitas dapat membantu mengangkat bangsa ini dari keterpurukan, tapi seringkali universitas tidak menyadari potensi yang tersedia di pihak industri, dan begitu pula sebaliknya”, ungkap Dr. Husin Alatas, yang mengisi KoPI Delft 6, pada Jumat 6 Maret 2009, di kampus TU Delft.

Sebagai pimpinan dari Bagian Fisika Teori di Institut Pertanian Bogor (IPB), saat ini Husin sedang bertugas sebagai Peneliti Tamu di Universitas Twente, Belanda, selama periode dua bulan. Atas undangan PPI Delft, Husin menyempatkan diri menyeberangi negeri Belanda (dari Enschede ke Delft) untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Husin adalah salah satu dari segelintir sosok peneliti Indonesia yang berhasil menyelesaikan seluruh studinya (sejak jenjang S1 hingga S3) di dalam negeri dan tetap mampu konsisten menerbitkan hasil penelitiannya di lingkup internasional. Salah satu bidang yang ditekuninya adalah teori di balik “kristal fotonik”, yaitu sebuah perangkat optik yang mampu difungsikan sebagai sensor.

Hadirin partisipan KoPI Delft 6
Hadirin partisipan KoPI Delft 6

Pada bentuknya yang paling sederhana, kristal fotonik menyerupai lapis legit, makanan tradisional Indonesia yang bentuknya berlapis-lapis. Hanya saja, ketebalan setiap lapisan dalam sebuah “kristal fotonik” berdimensi sangat kecil, yaitu sekitar 100 nanometer, atau sekitar seribu kali lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Dalam simulasi yang dibangunnya, Husin menunjukkan bahwa kristal fotonik ini mampu berperan sebagai detektor yang sensitif, cukup dengan memainkan jenis material serta jumlah lapisan yang dipakai. PT Perkebunan Nusantara misalnya, merupakan salah satu pihak yang dapat mengaplikasikan sensor ini guna mengukur kadar gula dalam larutan tebu.

Sayangnya, IPB belum memiliki sendiri perangkat yang mampu memproduksi kristal fotonik, sehingga penelitian ini bisa jadi hanya akan berhenti di tahap simulasi. Kebetulan sekali, Husin berjumpa dengan seorang alumnus Fisika IPB yang sedang bekerja di sebuah industri manufaktur, dan dari interaksi ini lantas terungkap bahwa ternyata perusahaan manufaktur tersebut memiliki perangkat fabrikasi yang diperlukan. Kolaborasi pun perlahan bergulir, hingga akhirnya menelurkan sejumlah penelitian Tugas Akhir untuk mahasiswa tingkat S1 dan S2, dan juga berujung pada terbitnya beberapa publikasi ilmiah nasional maupun internasional.

Presenter dan partisipan berfoto bersama selepas acara
Presenter dan partisipan berfoto bersama selepas acara

Perjalanan panjang yang dilalui Husin beserta timnya itu mewakili cerita umum mengenai sulitnya melakukan penelitian berorientasi produk yang berbasis pada kebutuhan nyata di Indonesia. Kesulitan ini pun ditambah oleh masih kurang sempurnanya kinerja pemerintah sebagai fasilitator untuk komunikasi antara pihak universitas dan industri. Walau begitu, di akhir presentasinya Husin menegaskan optimismenya, mengingat bahwa berbagai pihak di Indonesia telah mulai berbenah diri menuju arah yang lebih baik. Bagaimanapun, bangkitnya Indonesia hanya bisa terjadi jika dimulai dan dilakukan oleh orang Indonesia sendiri.

KoPI Delft adalah kegiatan rutin PPI Delft dalam berbagi pengalaman kerja, riset, dan studi dikaitkan dengan konteks keindonesiaan. Arsip kegiatan KoPI Delft yang lalu dapat dibaca di link ini. Sedangkan dokumentasi video-nya dapat pula dinikmati di laman Youtube http://www.youtube.com/user/KopiDelft . [gp]

2 thoughts on “Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 6: “Desain dan Fabrikasi Sensor Konsentrasi Gula dalam Tebu Berbasis Kristal Fotonik Satu Dimensi: Sebuah Upaya Membangun dari Teori hingga Realisasi di Indonesia”

  1. Pak Husin udah mirip orang bule ajaa tuuch.
    Selamat pak ya sudah “nginternasional”
    Barusan ngobrol dengan mamat, sensornya udah jadi dibuat berlayer-layer sampai bikin lieur, ngobrolin efek domino fotonik kristal, sepertinya bisa dahsyaaaaat sekali pak.

    Pak Husin “we proud of you”

Leave a Comment