Laporan Pandangan Mata KoPI Delft 5: “Visi PLN 75-100: Antara Tantangan dan Peluang”

Bp. Dwi Hartono menjelaskan Visi PLN 75-100
Bp. Dwi Hartono menjelaskan Visi PLN 75-100

Kopi Delft, Jumat 20 Februari 2009 yang lalu, disajikan oleh kawan-kawan dari PLN untuk menyoal permasalahan kelistrikan di Indonesia, tampil sebagai penyaji dalam presentasi adalah Dwi Hartono, Staff PLN Pusat. Mengawali pemaparannya Dwi menyebutkan bahwa saat ini PLN sebagai badan usaha milik negara memiliki VISI 75-100, yang artinya pada 75 tahun indonesia merdeka yaitu tahun 2020, 100% masyarakat Indonesia sudah terhubung dengan jaringan listrik. Dwi mengatakan, PLN saat ini terkendala oleh ketidakseimbangan proses bisnis antara pasokan energi primer dan permintaan pasar. Di sisi pasokan energi primer, PLN harus membeli energi primer seperti BBM, Gas, Batubara, dan Panas bumi dengan harga pasar. Sedangkan disisi hilir, listrik yang dihasilkan PLN sebagai PKUK (Pemegang Kuasa Usaha Kelistrikan) harus dijual kepada masyarakat dengan harga tertentu yang ditetapkan. Hal ini lah yang menyebabkan PLN dicitrakan sebagai perusahaan yang identik dengan kerugian, karena dengan ketidakseimbangan permintaan dan pasokan PLN harus menjual listrik dengan rata-rata penjualan Rp. 629,21 / KWh dengan biaya produksi yang setiap KWh nya mencapai Rp. 1.128.

Peserta KoPI Delft V serius menyimak penjelasan tim PLN
Peserta KoPI Delft V serius menyimak penjelasan tim PLN

Masih menurut Dwi, masalah utama PLN juga adalah masih bergantungnya pada BBM sebagai pembangkit. Menurut data tercatat bahwa pada tahun 2007 suplai BBM untuk pembangkitan listrik mencapai pada kisaran 34% dibandingkan dengan energi lainnya, akan tetapi secara biaya 34% pasokan BBM untuk listrik menghabiskan 78% biaya pembelian energi primer karena kenaikan harga BBM yang tidak terkendali.

Diskusi hangat pun terjadi diantara para peserta, dari mulai seputar aspek pembangkitan, transmisi, pola beban yang harus ditanggung PLN, sampai dengan keluhan atas kualitas layanan PLN yang tidak memuaskan di tingkat konsumen, terutama terkait dengan seringnya dilakukan pemadalam listrik oleh PLN.

Berfoto bersama selepas acara
Berfoto bersama selepas acara

Satu persatu, tim PLN memberikan jawaban dalam diskusi tersebut, Muhammad Firmansyah menambahkan, keandalan jaringan distribusi perusahaan ber plat merah itu juga merupakan masalah tersendiri, rasio jarak antar gardu per kilometernya jauh dari kondisi ideal yang seharusnya. Sebagai penutup Didik Dakhlan, staf PLN yang menangani urusan transmisi mendemonstrasikan pola konsumsi beban listrik yang terjadi di Indonesia dengan visualisasi yang menarik. (ys)

Leave a Comment