Undangan Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) 3

Salam,

Kami ingin mengundang kembali teman-teman untuk datang ke acara kolokium PPI Delft (KOPI Delft) selanjutnya yang akan diadakan pada:

Hari / Tanggal : Jumat, 23 Januari 2009
Jam
: 16:00 – 17:30
Tempat
: Gedung Fakultas Mechanical, Maritime & Materials Engineering   (3mE), TU Delft, Faculty Room – Mekelweg 2, 2628 CD Delft
Pembicara
: Bpk. Duddy Ranawijaya
PhD student di Faculty of Civil Engineering & Geosciences, TU Delft

CEKUNGAN SEDIMENTER KEPULAUAN INDONESIA:

Prospek dan Keterbatasan Eksplorasi Migas

Duddy A.S. Ranawijaya

Abstrak

Keberagaman tektonik dan fisiografi “benua maritime”(Katili, 1997) kepulauan Indonesia tidak bisa dipungkiri merupakan anugrah Tuhan YMK yang wajib disyukuri. Betapa tidak, kondisi geologi tersebut sejak jaman Kapur (Cretasius = 76 ma (juta tahun) untuk Indonesia barat dan masa Paleozoikum Akhir (= 250 ma) untuk Indonesia timur telah membentuk lebih dari 40 areal cekungan batuan sedimen yang merupakan jenis batuan yang dapat mengandung hidrokarbon. Sementara dari setiap areal cekungan bisa terdiri dari lebihdari satu cekungan atau subcekungan atau tepian pasif benua atau sutura atau dan lain sebagainya yang mempunyai prospek dalam eksplorasi migas.

Namun pada kenyataan lain, sejak 24 tahun yang lalu kemajuan eksplorasi migas Indonesia dapat dikatakan “jalan ditempat” (stagnant) dikarenakan “iklim” berbisnis eksploitasi migas yang tidak kondusif yang berdampak pada kurangnya kegiatan eksplorasi yang pada akhirnya mengurangi kegiatan riset bidang ini. Mandeknya eksplorasi ini sangatlah disayangkan, karena telah memberikan indikasi negatif yang tercermin dari sejak dikeluarkannya pernyataan resmi pemerintah pada tahun 2000 (Menteri ESDM, Poernomo Yusgiantoro) bahwa cadangan minyak Indonesia tinggal 18 tahun lagi. Lalu pada desember tahun lalu IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) memberikan pernyataan tinggal 11 tahun lagi atau sekitar 4 miliar barel. Ironisnya, dari sekitar 60 cekungan sedimenter, baru 16 cekungan yang di eksplorasi dan dari 16 cekungan itu baru 40 persen yang terindikasi produktif. Namun demikian, bagi para ahli yang terkait pada bidang eksplorasi migas atau para pengamat, hal ini tentu saja merupakan lahan prospek untuk mengembangkan kegiatan eksplorasi maupun riset terkait.

Adalah cukup bijaksana bila kepelikan keadaan di atas disimpulkan dengan menurunkan salah satu pertanyaan mendasar yaitu : “Apakah yang menjadi kendalanya?”. Pertanyaan inilah yang menurut penulis perlu mendapatkan pencerahan dari rekan-rekan mahasiswa atau ilmiawan seputar kita di TU Delft.

Oleh: Zaki Saldi, koordinator Divisi Kajian Ilmiah di milis PPI-Delft

Leave a Comment