Undangan Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) 4

Dear All,

Dengan ini mengundang kawan-kawan semua untuk menghadiri acara KOPI Delft (Kolokium PPI Delft) yang ke-4, yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Jumat, 6 Februari 2009
Jam : 16:00 – 17:30
Tempat : Zaal F, Fac 3mE, Mekelweg 2, 2628 CD, Delft

Tema kita kali ini adalah :
“Diagnosa berbasis mikrofluida: peluang menuju kemandirian medis di Indonesia?”,

Yang akan disampaikan oleh kawan kita Dr. Ir. Gea Oswah Fatah Parikesit.

Untuk kawan-kawan yang penasaran tentang apa yang akan dibahas, dibawah ini adalah abstrak dari bahan diskusi kita kali ini, sampai jumpa hari jumat.

Salam,

a.n Tim KOPI Delft

====================================

“DIAGNOSA BERBASIS MIKROFLUIDA: PELUANG MENUJU KEMANDIRIAN MEDIS DI INDONESIA?”
Gea Oswah Fatah Parikesit

Saat flu burung mulai merebak di sejumlah negara, seluruh penjuru dunia segera tercekam kekuatiran akan penyebarannya. Kasus ini menjadi contoh di mana peta kesehatan secara global tidak melulu dipengaruhi oleh para praktisi medis di negara-negara maju, melainkan justru lebih banyak ditentukan oleh kompetensi dan kemandirian para peneliti biomedis dan tenaga kesehatan di negara-negara berkembang.

Secara teknologi, perangkat diagnosa berbasis mikrofluida dapat membantu memecahkan masalah ini, jika mampu memenuhi sejumlah syarat berikut:
(i) biaya yang sangat murah,
(ii) tahan banting, terutama terhadap variasi cuaca dan keterbatasan infrastruktur di negara berkembang,
(iii) pemakaian yang sangat mudah, sedemikian sehingga dapat dioperasikan secara mandiri meskipun tanpa kehadiran dokter ahli,
(iv) limbah dapat dimusnahkan tanpa membahayakan lingkungan lokal.

Walaupun perkembangannya tampak menjanjikan baik dari sisi aplikasi medis maupun disain keteknikan, keberhasilan teknologi ini *hanya* akan tercapai jika aplikasinya disesuaikan dengan budaya, batasan sosio-ekonomi serta kebutuhan masyarakat setempat.

Dalam KOPI Delft kali ini, kita akan mendiskusikan sampai sejauh mana tantangan yang bersifat multi-disipliner tersebut dapat diubah menjadi peluang menuju kemandirian medis di Indonesia.

Leave a Comment